Di seberangnya, banyak manusia bersila lesehan di atas trotoar yang beralaskan tikar. Menghadap ke kendaraan-kendaraan itu. Bertemankan manusia lainnya, beberapa piring nasi serta banyak butir gorengan, kepulan asap menari-nari di udara, obrolan-obrolan gurih mengusir dingin. Terlebih mereka yang baru kali ini menginjak kota ini, sudah barang tentu merasakan keindahan kopi arang yang populer itu. Semakin syahdunya malam diiringi merdunya suara pengamen itu dan sempurnanya musik.
Malam semakin malam, bising semakin bising, dingin semakin panas, keramaian nun tak ada henti-hentinya. Istirahat bukan pilihan, menghabiskan malam adalah kewajiban. Jangan kau berselimut, jangan kau sorangan, jangan kau hilang ingatan, setan kan menghampiri tuk berkawin. Dimana pun kau, tuntaskan malam beramai-ramai, usahlah pikirkan kamar dan perempuan. Kopi, teman, ibadah asap dan banyak obrolan cukup buatmu sehat.
| Nongkrong disepanjang trotoar ("http://s2.dmcdn.net/NTUBQ/1280x720-yP_.jpg") |
Sudilah berjalan menuju utara lagi, sepanjang jalannya dinamai jalan populer itu. Kini, trotoarnya tak lagi disesaki parkiran motor, tak banyak tenda-tenda makanan yang harganya mencekik. Sudah cukup bersih, kursi-kursi berdiri tegak di pinggirnya berhadap-hadapan, berhiaskan pot-pot besar yang sengaja ditumbuhi bunga. Cukup buat kau rehat dari kaki yang letih melangkah.
Disitu ada pasar yang sama populernya dengan nama jalannya. Malam telah menyapa, keriuhan pasar itupun senyap selepas siangnya. Semua kegaduhan beralih ke titik pusat kota itu. Benteng kenamaan yang jarang disinggahi, monumen diduduki para manusia yang sedang menonton panggung persatuan negeri ini, istana megah yang terkunci rapat. Entah siang maupun malam selalu tertidur pulas.
Sekelompok pengamen jalanan dikerubungi para manusia yang menyaksikan mereka. Sungguh kreatif, angklung itu dimainkan oleh lihai tangan pemainnya, gendang yang seakan-akan bikin penontonnya begoyang, suling nun selalu saja menjadi bagian indah dari musik itu. Tanpa suara penyanyinya, alunan mereka tampak selalu terdengar tenang dan menggembirakan. Sedikit kurangnya, mereka lebih tertarik melantunkan musik dangdut masa kini.
Kesederhanaan nun jempolan, kebahagian nun memesona. Cukup sahih melupakan kegaduhan hati, tak memikirkan kepenatan nanti. Lepas dan menyelam bersamanya. Hanyut dalam gurihnya obrolan, terbang dalam tegukan pahitnya hitam, serta asap yang menjemput kejernihan.
====
Bukit-bukit tertanam merdu mengikuti alur nada rakitan
Semesta. Tampak hijau diterangi, berupa siluet tertutup mendung. Coba lihat
sedikit ke bawahnya, tak luas, namun cukup melengkapi. Sekumpulan air bergabung
dalam sebuah wadah yang telah disediakan-Nya. Oleh manusia diberi nama waduk.
Sekelilingnya masih hijau, pepohonan sumber udara menduduki tanah pemiliknya.
Tampak sebagian atap genteng kecokelatan
yang jaraknya saling menjauhi.
Dari ketinggian ini, cukup ramai manusia-manusia menikmati pemandangan di depannya. Kebanyakan mereka memotret apa yang mau mereka abadikan. Groufie, selfie atau apapun itu namanya. Sekalipun kau sosok figur kenamaan, hasrat itu tak terelakkan. Jelasnya, lebih suka berfoto dibanding duduk terdiam di atas kursi besi, memandangi segala aktifitas semesta yang terjadi. Nyanyian burung, alunan ranting, bisikan angin, serta gemulai air.
Memukau.....
Dari ketinggian ini, cukup ramai manusia-manusia menikmati pemandangan di depannya. Kebanyakan mereka memotret apa yang mau mereka abadikan. Groufie, selfie atau apapun itu namanya. Sekalipun kau sosok figur kenamaan, hasrat itu tak terelakkan. Jelasnya, lebih suka berfoto dibanding duduk terdiam di atas kursi besi, memandangi segala aktifitas semesta yang terjadi. Nyanyian burung, alunan ranting, bisikan angin, serta gemulai air.
Memukau.....
Kalau kau penulis, pangkulah kertas-kertas itu, torehkan
ribuan kata semesta yang kau punya. Kalau kau pelukis, meliuk-liuknya tanganmu
akan membentuk lukisan alam nun indah. Meski tak ada yang menandingi keindahan
pemilik-Nya. Kalau kau pemotret, dengan segala perintahmu, fotolah mereka yang
tampak riang berdiri, duduk maupun jongkok di atas susunan papan menara yang kokoh
dibangun di pohonnya. Kau pun dibayar oleh mereka yang rela. Kalau kau penyanyi kenamaan, kaca mata hitam adalah senjata, berlagak gagah berjubah layaknya mereka, nikmati dan bergembira selagi tak ada yang mengenali. Apa kau seorang
programmer ? Ah, usahlah kau pikirkan algoritma dan logika. Berliburlah dan
nikmati keindahan semesta ini. Agar kau tak kepayahan lagi ketika kembali.
Nyali dan berani akan membawamu kemari. Tak seekstrem pendakian, cukup menantang pergi dari nyamannya perkotaan. Bukan hanya kau, kendaraanmu juga butuh sehat. Agar kau kembali, tak ada kesedihan pada kendaraanmu. Pengendara haruslah fokus, penumpang tak perlu takut. Di sampingmu terpampang lukisan semesta nun bersahaja. Lebih-lebih lagi di tempat tujuan nanti.
Bukan soal apa-apa, di lainnya pun banyak kau jumpai tempat serupa. Lebih indah pun lebih berlimpah. Tak usah cemas, Negeri ini terlalu banyak alam nun menyihir hati. Terlalu sempurna untuk kau mengembara. Keluarlah, Negeri ini terlalu hidup untuk kau yang kini terkubur. Bersatu juga berbaur dengan alam-Nya.
Satu yang jelas terpikirkan, Negeri ini juga terlalu menggiurkan ambisi petinggi yang duduk di kursi empuk ibukota sana. Meraup segala alam yang disediakan semesta. Bagi-bagi jatah sudah biasa, rekening berlemak sudah biasa, apalagi simpanan bertambah. Menimbun semua agar tak terlihat. Sayang, aparat terlalu cerdas. Apa mereka tak sadar ? Apa mereka tak bernurani ? Apa lebih penting ego pribadi ?. Ah, kau sebagai warga biasa buat apa mencampuri, hidup ada di tangan kau bersama ibu pertiwi, bukan petinggi yang senang dagelan di layar elektronik.
Di tempat ini, kau cukup bisa memandangi apa yang terlihat ini. Kau pun tlah kembali dari tidurmu merangkai sabda. Kembalinya kau buat semesta bahagia. Tak lagi dimendungi kegelisahan, meski itu sementara, tak apa. Kini kau harus kembali, menata mimpi-mimpi yang tertidur itu. Bagaimana pun kau kini, buat apa disesali? Ke depan adalah tujuan, menjemput cita perlahan, tak perlu berlari kencang. Karena ambisi yang terlalu itu menyesatkan, karena obsesi yang kelebihan itu menggelapkan. Kau perlu memungkinkan segala dengan ketenangan. Sejatinya kepastian milik Semesta semata.
![]() |
| Coba aja punya pasangan |
Bukan soal apa-apa, di lainnya pun banyak kau jumpai tempat serupa. Lebih indah pun lebih berlimpah. Tak usah cemas, Negeri ini terlalu banyak alam nun menyihir hati. Terlalu sempurna untuk kau mengembara. Keluarlah, Negeri ini terlalu hidup untuk kau yang kini terkubur. Bersatu juga berbaur dengan alam-Nya.
Satu yang jelas terpikirkan, Negeri ini juga terlalu menggiurkan ambisi petinggi yang duduk di kursi empuk ibukota sana. Meraup segala alam yang disediakan semesta. Bagi-bagi jatah sudah biasa, rekening berlemak sudah biasa, apalagi simpanan bertambah. Menimbun semua agar tak terlihat. Sayang, aparat terlalu cerdas. Apa mereka tak sadar ? Apa mereka tak bernurani ? Apa lebih penting ego pribadi ?. Ah, kau sebagai warga biasa buat apa mencampuri, hidup ada di tangan kau bersama ibu pertiwi, bukan petinggi yang senang dagelan di layar elektronik.
Di tempat ini, kau cukup bisa memandangi apa yang terlihat ini. Kau pun tlah kembali dari tidurmu merangkai sabda. Kembalinya kau buat semesta bahagia. Tak lagi dimendungi kegelisahan, meski itu sementara, tak apa. Kini kau harus kembali, menata mimpi-mimpi yang tertidur itu. Bagaimana pun kau kini, buat apa disesali? Ke depan adalah tujuan, menjemput cita perlahan, tak perlu berlari kencang. Karena ambisi yang terlalu itu menyesatkan, karena obsesi yang kelebihan itu menggelapkan. Kau perlu memungkinkan segala dengan ketenangan. Sejatinya kepastian milik Semesta semata.

0 comments:
Post a Comment