![]() |
| https://1x.com/images/user/a6a62a711503cfd76a1073d8624adea2-hd2.jpg |
Hari ini, selasa namanya. Dingin paginya, tidak pakai banget. Itu karena musim hujan, coba saja pas musim kemarau. Baru dinginnya pakai banget. Ada sarung pun tak mempan. Butuh jaket 3 lapis biar hangat. Nanti deh 2 bulan lagi biar kamu ikut ngerasain paginya musim kemarau.
Hari ini, namanya apa tadi ? oh iya, selasa. Aku ke tempat
kursus jam 8 nanti. Sekarang shubuh dulu biar afdol, haha. Abis shubuh ngapain
? tidur lagi ? tidak, itu kan kemaren. Gara-garanya begadang. Nonton bola,
ngegame bola, bikin cerita, bikin web, nonton bola lagi, baru tidur jam 3 pagi.
Aku mau sarapan rambak. Tahu kan rambak ? kerupuk nasinya orang jawa tulen.
Wajar saja kamu tidak tahu. Kamu kan kota, aku desa. Dulu sih kita sama,
sekarang saja tidak. Sama kotanya maksudku. Bukan anunya. Kalau anunya harus
beda, sama bisa bahaya. Marah Tuhan, marah Agama, marah Pemerintah, KUA juga
nggak mau. Kan sama.
Abis itu rambak, sekalian plastik bungkusnya, dibuang tapi,
dimakan jangan. Bisa mati kata mbah putri. Iyaa, rambak itu yang beli mbah
putri dari warung sama sayuran juga. Buat makan nanti sehari. Bikin sayur lodeh
katanya. Sarapan sudah, nonton belum. Ritual sehari-hari itu, sebelum berangkat
keluar, nonton dulu. Nonton teve, bukan bokep hlo. Itu kan pikiran kamu yang
jorok saja. Apalagi nonton mbak-mbak lagi mandi. Bahaya ketahuan, bisa digiring
keliling kampung hukumnya. Aku nonton berita. Lagi-lagi korupsi adanya, paling
panas itu yang reklamasi sama suap jaksa. Makin parah saja negeri ini batinku. Aku
bunuh sajalah si teve, daripada pusing mikirin Negara.
Sudah jam 7, aku makan dulu. Gilirannya nasi biar afdol,
haha. Kenyang nasi baru mandi, biar apa ? bukan biar afdol tapi biar wangi. Kan
mau pergi, pergi ke kursus, harus wangi, kalau bau nggak ada yang dekat, jijik.
Tidak perlu aku ceritakan pas mandinya. Nanti kamu pengen. Pengen mandi bareng
aku, haha.
Aku pakai baju buat nutup aurat. Telanjang dikira orang
gila. Padahal kan, emang iya. Tidak gila kayak orang gila juga sih. Kalau kayak
mereka mana bisa aku bikin ini tulisan. Makanya mikir dong !!
Sudah semua, aku lajukan motorku kejalanan. Motor itu beat
merknya, putih warnanya, ganteng yang bawanya. Tidak percaya aku ganteng ? cari
aja letter AD 5047 IF. Biasanya keliaran
disekitar Bekonang, Palur, Kentingan, Nusukan, sesekali juga ada di Gladak, Pasar
Kliwon sama Semanggi. Itu Surakarta, jangan kamu cari di Padang, nggak bakal
ketemu sampai kiamat pun. Kecuali Surakartanya kamu pindah ke Padang. Emang
bisa ya ? ah, bingung sendiri aku.
Di tempat kursus jalannya biasa saja, masih pakai kaki. Masuk
ke kelas, duduk di meja, dengar dosen ngomong sampai berbusa mulutnya, bel
bunyi, selesai, pulang. Masih begitu, adapun kegiatan lainnya disana, tidak
perlulah aku ceritakan ke kamu, biar Tuhan Aku dan manusia yang ada disana yang
tahu. Aku tidak langsung pulang, mampir dulu shalat ashar. Aku paksa motor
berhenti di mesjid Nurul Huda-nya UNS. Kalau aku hentikan di tengah
jalan nanti orang-orang pada marah, marah besar lalu menabrak aku hidup-hidup.
Dibiarin terkapar disitu, terkubur bersama motor dan aspal jalanan. Jahat emang
manusia jaman sekarang, kemanusiaannya sudah luntur. Dulu pernah teman
sekolahku jatuh ditabrak mobil, mobilnya kabur, temanku tergeletak sendiri tak
ada yang menemani dipinggir jalan. Orang-orang yang lewat cuma ngelihat, lalu
pergi, lebih milih urusan pribadi. Untung, ada teman sekolah lainnya yang
lihat, ditolonglah temanku itu. Barulah dibawa ke rumah sakit diboncengi teman sekolah
lainnya itu.
Itu sholat berjamaah, aku duduk di shaf paling depan. Bukannya
sombong, bukankah Rasul berkata: Tuhan dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada
orang-orang di shaf pertama, diampuni dosanya sepanjang radius suaranya, dan
dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang shalat bersamanya. Itu
kata Rasul, Baginda Nabi Muhammad SAW, kamu harus percaya. Kalau tak, berarti
kamu bukan Islam, kan ada Agama yang tak percaya ada Nabi setelah Nabi Isa AS.
Ah, sudahlah jangan bawa-bawa Agama, aku teruskan saja ceritanya. Sebelumnya,
aku minta maaf jikalau kamu tersinggung dengan ucapanku barusan. Jangan bawa
hati, bawa saja makanan, aku lapar.
“Tumben si mbah putri nggak ada” Aku tanya ke Si Ayah.
Pas
motor aku paksa parkir diruang tamu rumah. Maklumi rumah Si Ayah itu
tidak ada garasi. Biasanya jam segini, kulirik jam dinding ada jam 5
sore, si mbah putri sudah duduk manis didepan teve. Kamu tahu nonton apa
? yaa,
nonton sinetron India. Aku kasih tahu tidak judulnya ? jangan yaa ?
nanti kamu
malah ketawa, hehe. Baiklah, aku kasih tahu saja, itu judul sinetronnya
Bunderan.
Eh, benar tidak sih ? aneh juga, ada kata Bunderan di India sana.
Artinya juga
sama tidak ya ?
“Mbah’e sedang sakit” Jawab Pak Lik yang sedang dikerok sama
istrinya, Buk Lik.
“Sakit ? Tadi masih sehat” Kataku heran
“hipertensi. tekanan darahnya naik”
“berapa ?” Aku tanya lagi seperti wartawan saja
“180 tadi dipuskesmas” Kata Pak Lik yang menandakan bahwa
Mbah Putri sudah dibawa berobat.
“Haa ? Serius itu Yah ?” Wajar aku kaget, aku belum
merasakan tensi darah setinggi itu dan mudah-mudahan tidak akan. 130 saja sudah
bikin pusing kepala, apalagi si Mbah Putri yang harus menanggung beban tensi
darah segitu tingginya. Kasian aku jadinya.
“iyaa,
dokter bilang suruh istirahat sama dikasih obat juga.
Mbahmu itu minta diobname, dokternya nggak mau, nggak usah katanya”
Jelas Si Ayah dengan sangat jelasnya, “Oh ya, mandi sana, belikan buah
buat si mbah”
Bentar, bentar, Si Ayah ini suruh aku mandi apa beli buah,
yang jelas dong biar aku jelas juga. Takutnya aku salah kaprah. Yasudahlah,
nggak usah dibahas. Lagian aku tahu maksudnya. Aku pergi mandi, mandinya
dikamar mandi. Mandinya juga cepat sekali karena tidak bareng kamu. Pasti lama,
banyak ritual pun. Jangan mikir jorok, ih.
Aku hidupkan motor, diikuti Si Ibu yang menaiki motor. Duduk
disisa jok yang ada, diboncengi oleh keponakannya yang ganteng dewe. ‘dewe’ itu sendiri, jadi ‘ganteng dewe’artinya aku itu paling ganteng sendiri
diantara keponakan Si Ibu lainnya. Sudah, sudah jangan memuji diri sendiri.
Melajulah
kami ke tempat yang jual buah terdekat. Jauh
jangan, aku tidak pakai helm, polisi minta jatah nanti. Di tempat buah
itu, Si Ibu beli apel merah 2 biji sama 4 biji manggis. Apelnya untuk si
Mbah Putri
yang saat ini sedang terkapar di kasur, manggis buat 2 anak dan 1
keponakan
yang anggap saja juga anak jadinya 3 anak Si Ibu. Pulanglah aku ke rumah
dengan bawa motor, Si Ibu sama kantong plastik yang ada isinya. Isinya
buah-buahan saja.
“Dihabisin buahnya mbah” Aku ngomong ke Mbah Putri yang
sedang mengunyah apel dengan sangat kesusahan. Itu sekitar 30 menit setelah aku
pulang dari beli buah-buahan. Sama siapa tadi ? iyaa, betul, sama Si Ibu.
“Ora tedas, le” Jawab
Mbah Putri dengan jawa. Kamu nggak akan mengerti, aku terjemahkan saja ke Indon.
Artinya gigi mbah nggak kuat buat ngunyah.
“Diblender mau ? bikin jadi jus” Aku tawarkan begitu ke si
Mbah. Faktanya dirumah ini tidak ada blender, ngawur saja aku ngomong begitu, biar
ketawa si Mbah.
“Blendere sopo ?
Blender Pak Lurah yae” Ih si Mbah ini sukanya pakai Jawa. Bikin repot aku buat
terjemahinnya. Itu barusan mbah bilang: ‘blender siapa ? blendernya Pak Lurah
kali’
“Apa digiling saja ? pakai batu ?” Itu niatku bercanda bukan
seriusan.
“Tego yo koe karo
mbahe, haha” Jawab si Mbah sambil ketawa kecil. Besar tidak bisa, lagi
sakit susah buka lebar mulutnya. Eh, itu pakai jawa lagi yaa ? aduh mbah, besok
aku ajari deh Indonesia biar gampang kita ngomongnya. Aku kasih tahu artinya
itu: ‘Tega ya kamu sama mbah, haha’
Aku juga ketawa, cuma sebentar, aku tinggal si Mbah untuk menghadap
Tuhan. Sholat Maghrib. Aku do’a agar Mbah Putri diberikan kesehatannya kembali
dan bisa beraktivitas lagi. Oh iya,
do’anya itu sudah sholat selesai.
“Ngko, kancani mbahe
turu yaa, le” Kata si Mbah dengan sangat kesusahan ngomongnya. Suaranya pun
kecil sangat. Memaksa aku mendekati mulut si Mbah. Bukan, bukan mau cium, aku
pengen dengar jelas ngomong apa. Oh, sampai lupa, barusan itu artinya: ‘Nanti
temanin mbah tidur ya’
“Makan dulu” Aku jawab
“tenan hlo, kancani
turu yaa” singkat saja, itu artinya: ‘beneran hlo, temanin turu ya’
“Makan dulu, Mbah. Lapar banget aku” Jawabku sambil jalan
pakai kaki menuju tempat makan didapur Si Ibu.

0 comments:
Post a Comment