Tuesday, 27 September 2016

Korban Penipuan Mama Minta Pulsa

http://www.otakpenjahat.com/wp-content/uploads/2016/04/penipuan-SMS-Banking.jpg
Dari Langit Tembalang, Awal April 2014

Tidak terasa dalam satu dekade terakhir perkembangan teknologi dan informasi semakin pesat. Hampir setiap elemen kehidupan, kini membutuhkan yang namanya teknologi. Contohnya saja, dulu kalau ingin berkabar ke orangtua, saudara atau gebetan yang jauh disana harus berkirim surat. Butuh waktu berhari-hari, supaya surat itu sampai ke tujuan. Tapi kini apa yang terjadi ? dengan kehebatan yang dimiliki para ahli IT dunia, komunikasi jarak jauh hanya melalui sebuah perangkat kecil nun canggih bukan main. Lewat perangkat tersebut, kita bisa telepon-an, berkirim pesan langsung terkirim ke tujuan tanpa nunggu waktu berhari-hari lagi, video call-an dimana bisa ngelihat wajah orang yang kita telepon dari balik layar dan paling kekinian adalah social media yang dijadikan sarana bebas berkomunikasi dengan makhluk hidup kasat mata ataupun makhluk hidup tak kasat mata.

Namun, kecanggihan teknologi ini ibaratkan dua sisi mata pisau. Disatu sisi, kemudahan yang diperoleh bisa dimanfaatkan untuk menyambung tali silaturahmi dengan kawan-kawan lama atau juga bisa jadi sumber pengetahuan kedua selain buku. Namun disisi lain bisa menjadi momok menakutkan yaitu kecanggihan ini bisa dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindakan penipuan, pemerasan ataupun pembunuhan.

Sisi negatif ini bisa jadi teror bagi manusia-manusia labil yang tidak dibekali iman dan pengetahuan dunia teknologi informasi. Yaa, manusia labil kurang imanlah yang menjadi sasaran empuk untuk ditipu. Tidak dipungkiri lagi sudah banyak pemberitaan tentang kejahatan-kejahatan dunia maya  yang memakan korban terutama korban yang kurang iman. Contoh paling hot dijagad dunia komunikasi Indonesia yaitu pesan :

“Mama minta pulsa”. Awalnya si oknum penipu mengirim pesan kepada si korban yang isinya :
“Dek, kirimkan mama pulsa 100rb ke nomor 084L4Y53K4L1. Mama lagi di kantor polisi, ketahuan selingkuh dengan tukang bakso komplek sebelah di hotel melati. Ini pake telpon nya pak polisi, jangan ditelpon dulu yaa. PENTING !!”
Syukur, si “Mama minta pulsa” benar-benar dikantor polisi jadi tersangka penipuan. Dan dari info yang didapatkan, dari sms “Mama minta pulsa” ini si oknum sudah meraup keuntungan ratusan juta rupiah. Sejenak, aku berpikir betapa bodoh dan labilnya orang-orang yang terjerat jebakan tersebut dan dengan ikhlasnya mengirimkan pulsa ke penipu itu.

Ada satu lagi tindakan penipuan yang korbannya kali ini adalah Ibuku dan setelah itu disusul oleh tante. Modus penipuan yang dialami oleh ibu dan tante aku ini hampir-hampir mirip tapi beda topik. Mungkin saja mereka berasal dari satu Clan.

Ibuk ditelpon oleh oknum penipu kalau aku lagi kantor polisi gara-gara ketahuan membawa sekantong plastik yang isinya ganja. Sedangkan tante ditelpon juga oleh tuh oknum kalo keponakannya dipenjara karena menabrak seorang nenek paruh baya sampe meninggal. Dan ending dari penipuan itu, si oknum meminta uang tebusan yang nominalnya tidak realistis buat ukuran ekonomi keluarga kami. 

                Berikut detail percakapannya antara penipu dengan Ibuk :

Penipu : Hallo selamat malam

Ibuk : Hallo juga selamat malam

Penipu : Dengan ibu siapa ? Nama anaknya ?

Ibuk : Sadikem, anak saya Jeki Purnomo kuliahnya di semarang

Penipu : Begini buk, kami dari pihak kepolisian mengabarkan bahwa anak ibu yang namanya Jeki Purnomo sedang berada di kantor polisi karena ketahuan membawa sekantong plastik ganja. Dan sekarang dia sedang diintrograsi.

Ibuk : Astagfirullah nak. Beneran itu pakk ? *Panik

Penipu : Iyaa buk, kronologinya tadi sore saat kami melakukan operasi zebra serentak se alam semesta. Anak ibu dan rekannya lewat jalan tersebut, dan dengan sigapnya kami memberhentikan mereka. Sembari memeriksa kelengkapan surat-surat kendaraan motor anak ibu, terlihat oleh kami kantong plastik yang isinya mencurigakan. Sontak kami ambil dan benar isinya itu ganja bukan gorengan. So, langsung kami bawa mereka ke kantor polisi

Ibuk : Nggak mungkin itu Pak, anak saya itu rajin sholat imannya kuat dan nggak neko2 *Masih nggak percaya dan makin panik.

Penipu : Kalo tidak percaya. Kami beri telepon ini ke anak ibu

*Terdengar suara bocah mimisan meminta tolong ke ibu gue

Ibuk : Astagfirullah le, Kamu kenapa le ? koq bisa begini ? *Sambil menangis

Penipu : Baik bu, kami akan memberikan toleransi kepada ibuk dan anak ibuk. Kami tidak akan mempenjarakannya tapi kami hanya minta sejumlah uang agar anak ibuk bebas. Nominalnya nggak banyak, cukup beri kami uang senilai 500 Juta Rupiah.

Untungnya saat meminta uang tebusan , bapak pulang kerja. Beliau mendengarkan percakapan antara ibuk dan si penipu dan langsung mematikan panggilan tersebut karna tahu kalau itu hanyalah kedok penipuan semata. Sedangkan ibuk masih panik bukan main dan seperti ingin pingsan.  

Untuk memastikan kalau aku tidak terkait dengan jaringan narkoba, bapak bergegas menghubungiku yang memang lagi di semarang menuntut si ilmu. Aku angkat telponnya, terdengar suara ibu yang masih panik dan menangis. Beliau mengabarkan kejadian yang barusan ibuk alami. Sontak aku ketawa-ketawa kecil, dan memastikan kepada kedua orang tua kalau aku baik-baik saja dan itu tidak benar terjadi. Namun, aku juga memikirkan kondisi psikis yang dialami ibuk barusan. Ibuk benar-benar panik nggak karuan, down, stress dan mengkhawatirkan keadaanku. Sedangkan aku saat itu sedang asyik main PES 2013 bareng teman  kos-an. Dari balik percakapan itu, aku memberi tahu kepada ibuk kalau ada orang yang telepon seperti itu lagi dengan maksud ingin menipu jangan diladeni kecuali itu benar-benar dari pihak berwajib.
               
Selang beberapa tahun kemudian kejadian serupa kembali terjadi namun kali ini korbannya tante. Entah tidak belajar dari pengalaman yang telah terjadi sebelumnya atau sudah terlanjur terhipnosis oleh si pelaku. Tante pun mengalami hal seperti yang ibuk alami sebelumnya. Panik, sedih, menangis dan hampir pingsan. Bedanya bukan anak kandung yang jadi bahan topik utama tapi keponakannya yang di Malang. Aku nggak tahu bagaimana detail kronologinya karena aku tahu info tersebut dari anaknya tante sendiri. Dari info yang diterima, si penipu mengabarkan bahwa keponankan tante yang di Malang itu dipenjara karena menabrak nenek-nenk paruh baya hingga tewas.
               
Nah, dari kejadian yang telah dialami oleh orang-orang terdekatku, dapat disimpulkan bahwa penipuan itu selalu terjadi dimana-dimana dan nggak kenal status, jumlah followers, jumlah like dan miskin atau kaya. Semua dilibas habis oleh si oknum penipu selama itu menguntungkannya. Tinggal bagaimana kita menyikapi tindakan penipuan itu jikalau kita sendiri yang mengalaminya. Kalau kita amat lemah dan gampang dipengaruhi, maka dengan mudahnya si oknum penipu melancarkan aksinya.

Oleh sebab itu, tetap fokus, perkuat iman dan pengetahuan kalo perlu kuasai juga ilmu-ilmu hipnosis agar kita tidak gampang ditipu oleh pelaku kejahatan. Dan satu lagi, buat teman-teman yang sedang studi di ilmu IT, hendaknya memberikan edukasi mengenai teknologi informasi terutama dunia maya kepada keluarga atau orang sekitar. Tidak hanya sisi positifnya saja tetapi dari sisi negatifnya juga agar mereka bisa mengerti baik dan buruknya teknologi informasi itu.

Sebelum gue akhiri, ada satu lagi fakta yang mau gue sampaikan :
Biasanya penipuan itu terjadi kepada pengguna provider telepon ternama di Negeri Bedebah ini.
So, Waspadalah Waspadalah !!
Sebarkan pada mereka:

Monday, 26 September 2016

Firasat Ibu


http://www.sufihub.com/wp-content/uploads/2012/10/Slave-to-cigarettes.jpeg

Dari belakang rumah, 25 September 2016

Aku duduk bersila di teras kedai dekat rumah, sembari menghisap sebatang rokok. Bersamaku ada Kribo dan Pitok. Kami bertiga duduk melingkar saling tatap satu sama lain. Kribo merokok sedangkan Pitok baru saja menghabiskan sebatang, sepertinya ia akan membakar batang kesekiannya.

Kami bukanlah tiga pemuda kompleks yang pengangguran. Kerjaannya cuma nongkrong di kedai, menghabiskan sebungkus rokok dan bergelas – gelas kopi, atau kadang menggoda gadis – gadis kompleks yang berlalu lalang. Justru, kami berada disini sedang menyuarakan pendapat mengenai rencana besar yang akan dilakukan nanti. Rencana ini memang harus dibicarakan bersama agar bisa membentuk sebuah konsep yang benar – benar matang. Tidak ingin lagi hanya jadi wacana yang hilang ditelan waktu.

Bukan main, rencana besar ini sangatlah gila, kemungkinan bisa mengagetkan orang – orang sekitar kompleks. Terutama, mereka yang sering mencela kami sebagai pemuda pemalas tak punya masa depan. Aku, Kribo, dan Pitok memilih diam mendengar celaan tersebut, menghabiskan tenaga saja kalau diladeni. Lebih baik merencanakan sesuatu dan melakukannya untuk membungkam mulut biadab mereka. Sayangnya, beberapa rencana sebelumnya berakhir jadi wacana. Ada sih yang dijadikan aksi, tetapi digagalkan oleh FATP: Front Anti Tiga Pemuda, organisasi bentukan Pak RT untuk melawan aksi sosial kami. Maka dari itu, untuk rencana yang sedang kami bicarakan ini harus benar – benar berhasil dilakukan. Mau tidak mau, pokoknya harus !! 

“Jadi, kapan kita mulai rencana ini ?” Tatapan tajamku mengarah kepada kedua teman yang ada di hadapanku ini. 

“Besok jam 12 malam tepat !! Kumpul disini dulu” Balas Pitok serius.

Setuju. Aku dan Kribo menyetujui saran tersebut. Menurutku, jam segitu sangat aman untuk melakukan aksi yang sudah matang direncanakan ini. Warga kompleks pasti sudah tertidur pulas. Mujur, sejak 6 bulan terakhir, kegiatan ronda malam sudah tak berjalan lagi. Jadi, diatas kertas, rencana ini bisa lancar tanpa gangguan untuk diaksikan.

Otak ini begitu lelah. 6 jam bekerja keras memikirkan rencana gila ini. Aku terdiam, kedua temanku juga. Hanya ada suara Etek Ida – Pemilik kedai – yang melayani pembelinya. Aku bakar sebatang rokok yang kesekian, berusaha bersuara kembali untuk mencairkan suasana yang sempat hening. Canda tawa kami pun kembali membuat kedai ini ramai. Kami saling melontarkan gurauan, agar otak ini kembali segar. Sekedar menertawakan hidup kami yang tak kunjung menjadi baik ataupun menertawakan gadis kompleks yang – menurut kami – paling cantik di Negeri ini ternyata sudah tak perawan lagi dan sedang mengandung janin 4 bulan. Direnggut oleh supir angkot. Dan bayi yang dikandung gadis itu lah hasil buah cintanya dengan supir angkot tersebut. Ah, paras cantiknya tak bisa lagi kami kagumi. Kini berganti menjadi nafsu ingin menguasai semua yang ada dibalik balutan kain gadis itu. Tentunya selepas ia melahirkan bayi hasil zina. 

Prakkk !! Suara kresek belanjaan jatuh seketika. Membuat kami terkejut dan menatap ke arah sumber suara. Beda dengan Kribo dan Pitok, sosok yang menjatuhkan kresek itu membuatku benar – benar tak percaya dengan keberadaannya. Kalau ada kata yang melebihi kata kejut, maka itulah yang sedang aku rasakan. 

”Astagfirullah, kamu merokok, le ?” Suara seorang ibu yang membuat kami terkejut keluar, terlihat tak menyangka dengan kenyataan anaknya yang perokok. Dan, seorang ibu itu adalah ibuku, Ibu Kandungku.

Mulutku terbungkam, puntung rokok yang ada ditanganku, aku buang begitu saja. Padahal masih ada sisa setengahnya. Aku menundukkan kepalaku, tidak berani menatap sosok ibuk yang kini berdiri tepat dihadapanku. 

“Siapa yang ngajarin kamu begini ?” Lirih Ibuk yang kini pipinya dibasahi oleh air mata. “Pulang sekarang !!” 

Ibuk meraih tangan kananku, dengan kasar menarikku untuk dibawa kerumah. Aku tetap diam, mengikuti langkah kaki Ibuk dari belakang. Genggaman tangannya makin kuat, memaksaku untuk terus berjalann. Berat rasanya melangkahkan kaki ini untuk pulang. Itu karena aku tahu apa yang akan terjadi nanti setibanya dirumah. Bukan lagi perang dingin tetapi menjadi perang dunia ke – 3. 

“Siapa yang ngajarin kamu merokok ?” Ibuk mengulangi pertanyaannya yang tak kujawab di kedai tadi. Kali ini tangisnya berubah menjadi amarah yang memuncak.

Kini posisiku berada di ruang tamu rumah. Duduk dikursi, sedang Bapak dan Ibuk ada di hadapanku. Menatap tajam ke arahku, membuatku tak berani memandangnya. Menundukkan kepala jadi pilihan.

Aku salah, dan sepatutnya aku disalahkan atas perbuatanku tadi. Aku bagaikan tersangka yang di sidang di pengadilan dengan dakwaan tertangkap basah menyeludupkan kutang istri muda Pak RT. Namun, masalahku tak separah itu. Ini hanyalah karena aku merokok. Lagian, apa salahnya merokok ? 

“Dipaksa teman, buk” Jawabku lirih 

“Ibuk minta kamu buat jaga kesehatan. Tapi, kenapa kamunya nggak mau jaga kesehatan kamu. Kamu itu lemah, rentan kena penyakit. Eh, malahan merokok juga. Ibuk benar – benar kecewa sama kamu, le”

“Sudah, buk. Tenang, tenang” Kata Bapak pelan  ke Ibuk yang tampak kembali meneteskan air mata, makin deras saja. 

“Gimana bisa tenang, pak !! Aku lihat sendiri pake mata kepalaku. Anak ini merokok !!” 

Luapan kemarahan Ibuk semakin pecah. Kali ini, tangan kirinya menunjuk ke arahku. Aku masih berada diposisiku, tidak berani menggesernya. Meskipun hanya beberapa centi ke kiri. Aku tetap tertunduk lesu, menyesali apa yang sudah terjadi di kedai tadi.

---

Aku berdiri di kebun belakang rumah, mengobrol dengan ibuk dari balik telepon genggam. Tak biasanya beliau menghubungiku sepagi ini. Matahari saja masih enggan menampakkan dirinya. Aku tak menaruh sedikit pun kecurigaan. Kebetulan aku juga berada di kampung halaman. Sekedar menengok kondisi Nenek. Mungkin Ibuk menelpon sepagi ini karena ingin tahu bagaimana kondisi Nenek saat ini. 

“Kamu merokok, le ?” 

Aku terperanjat dengan pertanyaan Ibuk ini. Telinga pun menjadi merah, panas, dan mulai memunculkan keringat. Aku tak bisa jujur, lebih tepatnya belum siap mental untuk mengatakan kenyataan bahwa aku perokok aktif. Aku belum mau mengubah suasana hati Ibuk menjadi marah. Ini masih pagi, sebentar lagi beliau berangkat dagang. Akan bahaya kalau aku jawab jujur, bisa – bisa membuat Ibuk tak fokus bekerja. 

“Nggak, buk”

“Beneran nggak merokok ? Semalam Ibuk mimpi kamu merokok, hlo” 

Wahh, benar – benar ini. Firasat Ibuk benar – benar kuat mengenaiku. Bukan main, benar kata orang – orang kalau seorang ibu itu bisa merasakan apa yang sedang terjadi pada anaknya. Lewat mimpi tanpa mengetahui sendiri beliau tahu kalau aku memanglah perokok. Hanya saja mimpi beliau tak bisa dibenarkan karena aku tak berkata jujur. 

“Bener, buk. Aku nggak merokok” 

Aku memilih bohong. Padahal kenyataanya, sehabis bangun tidur tadi, aku menghisap sebatang rokok di kamar. Bunuh diri namanya kalau aku jawab begini: “Aku merokok, buk. Barusan aku ngahabisin 
sebatang di kamar” 

Firasat buruk Ibuk ini membuatku takut. Takut kalau nantinya Ibuk memergokiku sedang merokok. Akan menjadi marah besar, terlebih saat ditanya ini aku jawab tak merokok. Ataupun juga, karena mimpi buruk ibuk, aku takut jika saja akan ada efek buruk yang timbul karena aku merokok. Sebut saja penyakit baru yang muncul.

Firasat ibuk dan ketakutanku tersebut haruslah diantisipasi. Jangan sampai semua itu menjadi kenyataan buruk dikedepannya. Apa mulai detik ini aku berhenti merokok ? Kemungkinan itu bisa saja terjadi. Jujur, untuk saat ini aku belum sanggup untuk berhenti. Aku sudah terlanjur candu akan tiap hisapan rokok yang aku telan. Bisa mati sempoyongan kalau dalam sehari tak merokok sebatang pun.

Dikurangi ? Setidaknya 2 – 3 batang sehari ? Bisa saja. Toh dalam beberapa hari terakhir, semenjak merasakan sesak di dada,  aku sudah mengurangi porsi rokokku yang biasanya sehari bisa sampai 10 batang menjadi 5 – 7 batang. Mungkin setelah mengetahui mimpi buruk ibuk, aku akan berusaha mengurangi ketergantunganku pada rokok. Tapi, tak sampai pada tahap untuk berhenti total. Kecanduan dan ketergantungan pada rokok sudah terlanjur menggrogoti otakku. Mungkin butuh keajaiban atau seseorang yang membuatku benar - benar berhenti merokok. Seperti Bapak dulu yang akhirnya berhenti karena aku sendiri yang larang.

Selamat Minggu Pagi, sedang aku menyapu lantai rumah yang kotornya bukan main.

Sebarkan pada mereka:

Tuesday, 13 September 2016

Liburan Butuh Perjuangan


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfmmDpLkc4oOlpEao-JuqgJ7i808kMMhPtqHSZuy2qGhVMGBIS4F6mEp87VTvsOqNgP8q-UGsdompS-Qxt1ygunymPqipO76b79cDav3-KsFwrY0zePTjGXw5iFUFsdF8g9Gr3CsKfw3jH/s1600/4.jpg

Surga Tersembunyi, 27 November 2015

“Ibuk, aku pengen pulang kampung, mau refreshing abis UTS boleh yaa ?” Kataku sambil ngemis ke ibuk agar diizinkan liburan.

Dalam 2 minggu terakhir, otak-ku telah terkontaminasi bakteri e-coli akibat UTS yang soalnya melebihi ujian yang diberikan Tuhan kepada umatnya. Aku butuh sekali liburan buat menenangkan pikiran. Siapa tahu abis liburan aku memperoleh inspirasi yang tak terduga. Ataupun aku bisa menemukan jodoh ditempat liburan nanti. Ngarep banget dah

Ekspetasi hanyalah tinggal ekspetasi dan tidak berakhir pada kenyataan. Dengan cara yang sangat lembut selembut teman menikung gebetan, ibuk tidak mengizinkanku buat liburan.

“Nggak boleh. Kamukan liburnya cuma 3 hari. Jarak semarang-karanganyar itu nggak dekat hlo. Habis-habisin tenaga aja, bikin capek tahu”

Liburnya memang hanya 3 hari, tapi kalo tidak dibarengi dengan refreshing. Bisa-bisa otak-ku bocor kayak lumpur lapindo. Ibuk, anak-mu ini butuh banget liburan. Apa nggak kasihan kalo nanti tiba-tiba anak kesayangan ibuk stress mendadak gara-gara kurang piknik ? Aku terus menggerutu dalam hati, nggak berani ngomong langsung. Takutnya nanti dipecat dari keluarga ini.

Aku hanya bisa pasrah menuruti apa yang ibuk kata. Rencana liburan pun batal, lalu mau ngapain di kos sendirian ? mending meratapi nasib aja kali yaa hehe.

Yaap, benar saja selama 3 hari ini aku hanya bisa meratapi nasib yang tidak kunjung membaik. Nasib yang tidak kunjung dapat pacar hingga nasib saldo di atm kosong dan terpaksa makan indomie satu dus selama 1 bulan.

Kringgg...kringgg....kringg....

Handphone-ku mendadak berbunyi pertanda ada yang menghubungi. Aku lihat dari layar hape jadul, tertulis Si Om memanggil. Dalam batin, tumben Si Om telepon padahal biasanya buat sms aja nggak bisa karena nggak ada pulsa. Jangan-jangan ada hal yang sangat penting atau jangan-jangan ada kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Okee tenang, tarik napas dalam-dalam lalu keluarkan huhhhhh.

Aku angkat telepon tersebut

“hallo, ada apa om. Koq tumben telepon ? lagi tajir yaa ? hehe”kata aku sambil ngeledek

“kata ibuk, kamu mau pulang kampung yaa ? koq nggak jadi ?”tanya om aku pura-pura nggak tahu

“iyaa, nggak dibolehin sama ibuk om. Padahal pengen refreshing aku”

“tadi, ibuk kamu telepon aku. Dia interogasi aku. Nanyain apa kamu benar-benar jadi pulang. Kayaknya ibuk kamu curiga deh. Yaa, aku jawab yang jujur aja toh. Bilang kalo kamu nggak pulang”

“hmm, gitu toh om. Ada-ada aja ibuk nih”sahutku

“Lain kali kalo kamu pengen pulang, pulang aja. Nggak usah ngomong sama ibuk nggak apa-apa. Hidup ini nggak usah dibawa spaneng1, stress dikit dibawa liburan aja biar otak enjoy kembali.”kataSi Om menasehati.

Aku mengiyakan saja petuah-petuah yang diberikan Si Om. Aku rasa ada benarnya juga petuah dia. Tapi dalam hati kecil, aku takut bohong pada ibuk. Aku nggak mau jadi anak yang durhaka karena tidak menuruti apa yang ibuk kata. Lalu dikutuk jadi batu akik. Maklum saja, aku ini terlahir sebagai anak yang penurut. Apa yang orang tua kata, harus dilaksanakan. Buat kalian cewek-cewek diluar sana, gampang koq kalo mau jadi pacarku. Apa yang kalian minta, pasti aku berikan. Nggak percaya ? tanya aja  ke mantan – mantan ku

Bentar – bentar, emang aku punya mantan ya ? mikir keras

Sebagai seorang introvert akut, aku bingung memilih apa yang harus dilakukan. Melakukan petuah yang diberikan SI Om yang konsekuensinya secara tidak langsung telah berbohong pada ibuk atau tetap menuruti yang dikata ibu dengan akibatnya bisa saja stress karena terlalu spaneng1.


Hidup itu pilihan. Kamu harus memilih apa yang terbaik untuk hidup kamu. Walaupun itu bertentangan dengan orang tersayang.

Lama aku merenungi pilihan dan sesekali juga merenungi nasib. Aku pun memilih nasehat yang diberikan oleh Si Om. Alasannya sederhana, hidup itu nggak usah dibawa spaneng1, stress dikit dibawa refreshing aja. Maaf buat ibuk, aku terpaksa melakukan ini demi kebaikan dan kelangsungan otakku kedepan.
Waktu terus berjalan, hingga akhirnya weekend datang. Weekend ini aku memutuskan pulang ke kampung halaman buat menyegarkan pikiran yang berminggu-minggu lamanya tersumbat oleh bakteri-bakteri tidak baik di perkuliahan. Seperti yang aku kata sebelumnya, mulai hari ini aku nggak minta izin dulu ke ibuk kecuali kalo itu benar-benar penting.

Sehabis jum’atan ini, aku akan menyusuri jalanan semarang–karanganyar yang sudah berbulan-bulan lamanya tak dijamah. Seluruh persiapan telah aku kemas didalam tas ransel yang isinya jujur hanya laptop, gadget, charger dan perangkat pendukung lainnya. Aku nggak perlu bawa cawet, celana, ataupun kaos karena semua telah tersedia di rumah tercinta. Hatiku sungguh sumringah, sang pujaan hati serasa semakin dekat. Emang ada ? mikir keras lagi

Diawali dengan bismillah, aku pun mengarungi kerasnya jalanan semarang-karanganyar bersama motor matic kesayangan. Anggap saja nama motor matic aku, icha kepanjangannya iii chantikk. Alay sih, tapi nggak apa-apa. Toh motor aku nggak bakal bisa marah gara-gara aku kasih nama tersebut. FYI, itu hanya plesetan saja, sejujurnya aku beri nama itu karena aku teringat sama mantan gebetan yang hanya 5 langkah dari rumah.

Lupakan gebetan, mari kembali bahas liburan. Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan nan melelahkan, aku tiba di kampung halaman yang sangat dirindukan. Berbulan-bulan ditinggal merantau di negeri orang, tak banyak perubahan yang terjadi. Hanya ada satu yang beda, ibuk dan bapak tidak ada dirumah, mereka kembali keperantauan mencari nafkah untuk biaya kuliah anak kesayangannya.

Sehabis beres-beres dan mandi, aku bertamu kerumah Si Om yang berada persis diselatan rumah aku. Selain bermaksud untuk curhat mengenai kehidupan dikampus, aku juga mau mengajak sepupu namanya dayat buat jalan-jalan menikmati hijaunya karanganyar. Tanpa babibu, sepupuku mengiyakannya.
Malam ini, aku dan dayat merancang schedule buat jalan-jalan esok pagi. Mulai dari jogging dulu sehabis shubuh, lalu paginya bersiap mengitari karanganyar bersama si-icha. Kali ini aku memutuskan untuk jalan-jalan ke daerah ngargoyoso lebih tepatnya ke telaga madirda. Dari sekian tempat wisata hijau yang ada di ngargoyoso sepeti air terjun jumog, air terjun parang ijo, candi sukuh, kebun teh kemuning dan candi cetho hanya telaga madirda yang belum aku jamah.

---

Tepat pukul 07.00, setelah semua pekerjaan rumah telah dirampungkan. Aku dan dayat bersiap-siap menuju tempat tujuan pertama yaitu telaga madirda. Sepanjang perjalanan, aku menikmati kesejukan yang sudah lama aku rindukan. Kanan kiri persawahan hijau membentang luas sesekali burung gereja berkicau merdu. Jalanan naik turun berbelok-belok yang semakin memacu adrenalin. Semua itu yang lama sudah tidak aku rasakan kali kembali terasa. Ohh bahagia itu sungguh sederhana.

Tiba-tiba kenikmatan itu memudar berubah menjadi ketegangan ketika dayat me-rem mendadak tepat dibokong truk fuso. Huhhh, hampir saja icha menusuk truk fuso dari belakang. Aku berusaha tenang, dayat nggak karuan. Dia minta duduk diboncengan, aku yang harus mengendarai icha.

Setelah melewati berbagai kenikmatan dan satu ketegangan, kita sudah masuk ke kawasan wisata sukuh-cetho. Perjalanan dari gapura yang satu ini ke gapura berikutnya tidak lah sulit karena dari dulu aku sudah sering main kesini. Tapi, yang jadi masalahnya sehabis gapura kedua harus belok kemana ? aku teringat pepatah malu bertanya sesat dijalan, aku pun menanyakan kepada petugas yang memungut retribusi masuk kawasan wisata. Dari info yang diberikan, letak telaga madirda tidak jauh dari air terjun jumog, hanya dengan mengikuti jalan yang mengarah ke atas dan percabangan jalan pertama belok kiri akhirnya kita temukan papan penunjuk menuju Telaga Madirda.

Kedengarannya gampang, tinggal lurus terus nanti ketemu pertigaan belok kiri. Yaa gampang dalam pikiran, kenyataannya sulit. Aku tidak menemukan percabangan jalan yang ditunjukkan petugas tadi. Entah itu terlewatkan atau belum, aku nggak tahu, aku hanya terus mengendarai motor hingga ke arah yang nggak tahu ujungnya dimana. Hingga aku dan dayat menemukan sebuah warung kelontong, disitu aku berhenti jajan cemilan gara-gara belum sarapan dan menanyakan ke penjual petunjuk arah menuju telaga madirda.
“Lewat jalan ini bisa mas, tapi jalannya menaik. Takutnya motor mas nggak kuat naik. Atau balik lagi ke arah jumog, sebelum jumog ada pertigaan lalu belok kanan. Tapi itu lumayan jauh”kata si ibuk penjaga warung.
“ohh gitu yaa buk. Terimakasih yaa buk”kata aku sembari membayar jajanan yang aku makan.
Aku bilang ke dayat daripada balik lagi ke arah jumog yang jaraknya lumayan jauh mending kita lewat jalan menaik ini saja.

“yakin mas ? nggak kasian sama icha ?”tanya sepupu aku itu.

“yakin, yakin. Toh untuk mendapatkan keindahan itu perlu perjuangan. Termasuk berjuang melewati jalan yang menaik ini”kata aku sambil memberi motivasi

Dayat hanya mengiyakan saja, dalam hati sebenarnya takut terjadi apa-apa dengan motor kesayangan aku. Di awal jalan terasa ringan, namun tiba-tiba ada satu jalan yang menaikinya hampir 100derajat kemiringannya. Aku terus meyakinkan sepupu aku itu kalo kita bisa melewati jalan tersebut. Lagian jalanan ke candi cetho mirip ini dan motor aku kuat menaiknya. Yaa lagi-lagi dayat hanya menurut saja apa yang aku kata.

Hingga tiba waktunya dimana motor aku tidak bisa digas lagi ketika sudah ditengah jalanan yang kemiringannya hampir 100derajat itu. Aku panik, takut terjadi yang tidak diinginkan dengan motor kesayangan aku. Aku takut tiba-tiba mesin icha tidak bisa digunakan lagi dan harus di obname. Dengan kekhawatiran yang memuncak, aku meminta dayat kembali ke bawah. Aku nggak mau memaksakan icha yang telah menemani aku selama ini.

Aku bertanya lagi ke penduduk sekitar. Dari info yang aku dapatkan, ternyata ada jalan yang gampang dilalui sekelas motor matic. Tidak perlu melalui jalan yang menaik seperti tadi. Aku akhirnya bisa bernapas lega nggak perlu mengorbankan icha. Satu hal lagi surga dunia terasa semakin dekat di mata.

Perjalanan menuju Telaga Madirda, kembali dimulai. Kali ini dayat yang mengendarai si cantik icha. Aku menikmati hijaunya pemandangan lereng Gunung Lawu. Aku menggumam di dalam hati ternyata karanganyar itu indah men.

Kira-kira hampir 30 menit kita mengitari jalanan menuju tujuan yang tak kunjung ditemukan. Sepanjang itu, aku belum menemukan tanda-tanda Telaga Madirda ditemukan. Aku bingung nggak karuan serasa ingin menyerah saja dan kembali ke rumah. Aku menyuruh dayat untuk berhenti ditepi jalan yang memperlihatkan wallpaper keindahan kemuning dari kejauhan. Sambi berkata

“karanganyar itu indah men”

“indah sih indah, tapi kan butuh perjuangan. Lihat nih motormu mas, kalo saja tadi dipaksakan sudah dipastikan kita pulang jalan kaki sambil nuntun motor mu ini” Dayat marah gara-gara kejadian tadi.

“udah santai tho, nikmati dulu saja keindahan yang ada dihadapan kita. Toh nanti dengan bantuan semesta pasti kita menemukan surga tersembunyi itu”Kata aku kembali meyakinkan dayat yang sudah terlihat malas.
Dayat lagi-lagi hanya mengiyakan perkataan aku sambil cemberut. Aku tahu sebenarnya sepupu aku ini sudah capek menuruti apa yang aku mau. Terlebih lagi kejadian tadi yang bisa-bisa bikin motor aku di obname. Daripada keindahan ini buyar dengan melihat muka kusam si dayat, lebih baik aku melanjutkan perjalanan menuju telaga madirda.

“ayokk, jalan lagi. Kamu ikut nggak ? atau tak tinggal disini aja ?”

“iyooo iyooo bang”  

Ditengah perjalanan, ternyata aku menemukan papan petunjuk arah ke Telaga Madirda. Wahhh, aku senang sekali melihatnya. Semesta benar-benar memberikan kuasanya agar mempertemukan aku dengan telaga nan indah itu. Aku mengikuti papan petunjuk arah itu hingga akhirnya tempat yang ditunggu-tunggu telah ada dihadapan mata.

Tak sia-sia perjuangan 30 menit mengitari jalan. Penuh lika –liku kejadian yang harus dilalui. Akhirnya aku berdiri tepat di hadapan telaga madirda, telaga terindah di karanganyar. Udaranya sejuk sekali seperti udara-udara lereng gunung pada umumnya. Diselatan telaga ada sebuah bukit menjulang tinggi. Dan tepat dihadapan aku, ada telaga indah yang walaupun airnya tak begitu jernih tapi bisa menyejukkan hati.

“benar tho yang tak bilang tadi. Kita itu sebagai manusia hanya perlu berusaha dan bersabar tinggal Tuhan yang menunjukann jalan-nya”

Ibarat ini, aku hanya perlu berjalan sembari bertanya ke penduduk sekitar ke tempat tujuan. Walaupun tersesat toh akhiirnya dengan petunjuk semesta aku menemukan telaganya. Cukup lama aku menikmati kenyamanan diri di telaga madirda ini. Nggak pernah sebelumnya aku jalan-jalan ke tempat wisata yang se-nyaman, se-tenang, se-sunyi dan se-sejuk tempat ini.

Telaga Madirda itu tempat wisata yang aku cari-cari selama ini. Tempat terbaik untuk merenung, berkhayal, dan mencari inspirasi. Pokoknya epict banget deh, lo yang baca cerita ini harus kesana !! Yakin, lo nggak bakal rugi, percaya sama aku !!

1 pikiran yang terlalu tegang
Sebarkan pada mereka:

Thursday, 1 September 2016

Personal Web Design



Ini adalah hasil karya keduaku dari web design, kali ini aku membagikan frond - end untuk sebuah personal web atau lebih tepatnya untuk blog. Seperti web design yang sebelumnya, karya yang kedua ini didesign dari HTML, CSS3, BOOTSTRAP, dan JAVASCRIPT. Dimana sudah pasti responsive untuk semua device. Baik itu desktop, tablet, maupun smartphone.

Untuk teman - teman yang tertarik, dapat mengunduhnya secara gratis. Kalian juga bisa mengembangkannya ke platform yang sesuai keinginan. Entah itu WORDPRESS, BLOGSPOT, atau mungkin CMS buatan kalian sendiri.

Sebarkan pada mereka: