Friday, 11 November 2016

HTML : Struktur Dasar Pada HTML

Tutorial belajar HTML
Bahasa yang harus dipelajari untuk menjadi Web Developer :
1. HTML / Hypertext Markup Language
2. CSS / Cascading Stylesheet
3. Javascript
4. Server-side Programming : PHP, Phyton, Coldfusion, dll
5. Accessing Database : MySql, Sql Server, Oracle, dll
HTML singkatan dari Hypertext Markup Language merupakan bahasa Markup yang umumnya digunakan untuk membangun halaman web. HTML berisikan tag-tag yang berguna dalam menyusun halaman web. Oleh sebab itu, HTML bukanlah bahasa pemrograman.
Untuk menjadi seorang Web Designer/Developer, teman-teman haruslah menguasai HTML terlebih dahulu.

Struktur dasar pada HTML :

Struktus dasar pada HTML


Contoh simple pada halaman web :

My First Page
Dari source code HTML pada gambar di atas, terdapat beberapa tag diantaranya:
  • <h1>My First Page</h1>, merupakan tag heading 
  • <p>My First Page</p>, merupakan tag paragraf 
  • <a href="index.html">My First Page</a>, merupakan tag link. Di dalamnya terdapat atribut href yang fungsinya untuk menuju link yang dituju. Dalam hal ini berarti link akan menuju pada halaman index.html
Tampilan pada web browser

Tag Lainnya : 

Source code image tag
  • <img src="#" alt="#" width="" height="">, merupakan tag untuk menampilkan gambar pada halaman web. Di dalam tag tersebut terdapat atribut src - untuk mengambil sumber file gambar, alt - merupakan alternatif text, width dan height - mengatur lebar dan tinggi gambar
Tampilan gambar pada web browser
Sebarkan pada mereka:

Saturday, 15 October 2016

Homestay Part 01

Sukoharjo Makmur, sedang ingat masa lalu dan sedang di Bulan Oktober 2016.

Senin pagi nun cerah untuk jiwa yang mengantuk namun mata tak mau diajak lelap. Aku berdiri di depan jendela belakang rumah. Bukan, itu bukan rumah kontrakan bapak, melainkan rumah keluarga temanku yang dijajah oleh kami para penghuni kelas 12 IPA 5. Dikotori, ditiduri, digauli, dikencingi kamar mandinya, di eek i pula selama 3 hari untuk sekedar numpang Homestay saja.

Tak ada kopi dicangkir, tak ada pula rokok ditangan. Hanya ada suara gaduh teman – temanku dengan urusannya masing – masing.  Aku menatap keluar memandangi kolam ikan di depan sana. Sedang asyik menyaksikan ikan – ikan itu menari kesana kemari, sesekali menampakkan diri ke permukaan air yang keruh. Sebentar saja, tidak pakai lama, mungkin takut sesak napas. 

“Mandi yukk !!” Eh ? Ada apa gerangan ini ? Tiba – tiba datang menghampiriku untuk mengajak mandi bareng. Sadar kawan, sadar !! Aku ini lelaki tulen dan ingin perempuan. Apakah dikau sedang dirasuki setan Siampa -  Hantu legenda Tanah Minang – sehingga dikau tega merenggut perjaka saya di usia semuda ini, teman ? Ahh, jahat kali dikau ini.

Sampai lupa, itu sumbernya dari Fardi, teman akrabku di kelas ini. 

“Yuk ahh” Hlo kok aku meng-iyakan ajakannya. Tunggu, tunggu, jangan berpikiran kotor dulu. Aku iya karena disini kamar mandinya cuma satu dan kalau yang mandinya satu orang saja dalam kamar mandi sedang yang antri ada 38 orang lainnya. Bisa habis kita punya waktu hanya untuk mandi. Kan tujuannya kesini buat berlibur bukan mau antri mandi. Gimana sih kamu ini !?

Aku berlalu dari jendela, meninggalkan ikan – ikan itu untuk menuju tas yang tergeletak di ruang tamu. Ruangan yang semalam bekas ditiduri oleh perempuan – perempuan cantik kelas ini. Semoga saja tak ada satu pun laki – laki yang entah sengaja atau tidaknya ikut berselimut bersama mereka. Kalaupun sengaja, maklumi saja, mungkin sedang khilaf.

Semuanya komplit, ada sabun cair, ada shampo, ada handuk, ada pasti gigi bersama sikatnya, ada juga baju ganti yang dipakai nanti di kamar mandi. Gendeng namanya kalau aku berganti pakaian di ruang tamu. Bisa – bisa para perempuan cantik kelas ini memergoki aku punya adik yang panjang dan kebetulan tegang. Jadi pengen mereka nanti.

Aku pergi berdua dengan Fardi, berjalan beriringan layaknya sepasang makhluk Tuhan yang sedang kasmaran. Ingat itu hanya layaknya bukan sebenarnya. Sudahku bilang tadi, aku masih ingin perempuan. Kecuali kalau perempuan tidak ingin aku, beda lagi alur kisahnya. Perginya menuju kamar mandi yang di luar, di dalam ada namun sedang dikotori oleh temanku lainnya.

Disana, ada temanku lainnya pula yang sedang mandi. Aku dapati mereka – karena di dalamnya ada dua - adalah makhluk Tuhan berjenis perempuan. Aku tahu bukan karena ikut gabung, tapi berteriak dari luar menanyakan siapakah gerangan di dalam sana.

“Duhh, cepet oii” Teriak Fardi diberangi dengan aku yang mengetok keras pintu kamar mandi itu.

“Sabar napa” Jawab ketus salah satu perempuan yang dibarengi dengan suara guyuran air. Dari suaranya aku ketahui dia adalah Siti. Sedang yang satunya aku tak tahu karena tak ikut bersuara.

Selang beberapa menit, gemuruh air dari dalam kamar mandi tak lagi bersuara. Diam seketika ada angin puting beliung menghampiri mereka, tewas tersapu badai, dan meninggalkan jasad tak bernyawa. Oh, pintu itu terbuka bukan dengan sendirinya melainkan dibuka oleh Siti yang sudah berpakaian rapi. Ada Zia juga yang ternyata bersama Siti sedang mandi tadi.

“Lama banget sih ? Lagi bergaul kalian yaa ?” Candaan itu aku lontarkan ke mereka berdua. Abis kesel nunggu mereka mandi lamanya bukan main. Dasar emang perempuan. Kalau kamu dewasa, ngerti lah dengan maksud candaanku itu. Zia aja tahu kok kamu enggak, hehe.

“Enak aja !!” Sewot Zia yang dibarengi dengan melemparkan handuknya ke aku punya perut. Mujur cuma 
handuk, sakitpun tak terasa.

“Yukk ah, Jek !! Mari kita menikmati kamar mandi ini berdua” Goda Fardi dengan wajah centilnya. Seperti tante – tante kurang belaian yang lagi pengen dibelai tapi suaminya tak bisa, sibuk dengan daun muda mungkin. Lalu melampiaskan nafsu ke brondong semuda aku ini.

“Ayuukk tante !!” Balasku sambil menggandeng Fardi ke kamar mandi.

“Ih, jijik” Kata Siti yang kemudian berlalu bersama Zia meninggalkan kami berdua yang kemudian memasuki kamar mandi. Bersenggama dengan air sendiri – sendiri. Aku disudut yang dekat wc, sedang Fardi di sebelah sana, berhadapan dengan pintu.

---

Siang itu, setelah semua lelaki kelas ini mandi dan berganti pakaian, beberapanya sedang seru menendang bola di sebuah lapangan kecil yang ada di pinggir jalan. Sedang yang lain memilih untuk menonton saja. Tak jauh dari rumah yang sementara kami tiduri ini. Tentunya menendang bola dengan tujuan jelas, menendang untuk dimasukkan ke dalam gawang lawan. Mujur kalau berhasil, kalau tak direbut oleh lawan yang kemudian juga ingin menendang bola untuk dimasukkan ke gawang lawannya. Begitu saja terus sampai perempuan – perempuan cantik kelas ini selesai bersolek dan bersedia di ajak menuju Great Wall­ – nya Bukittinggi. Aku lupa akan nama daerahnya, yang jelas ujung dari Great Wall itu berjumpa dengan gua Jepang. Seperti sudah disengaja oleh pembuatnya.

Ah tentunya iya, karena merekalah yang punya rencana kesana. Sedang aku tinggal terima bersih saja. Selepas itu ber-gerilya-lah kami di pusat kota Bukittinggi. Menengok kondisi jam gadang yang apakah jamnya tetap tinggi menjulang ke atas atau sudah kecil disusut oleh Gru – Pemeran Despicable Me ­– dengan alatnya yang super canggih itu. Kami berjumpa pula tadi dengan gua Jepang – Bukti sejarah bahwa Jepang ternyata pernah menjajah Negeri ini. Sekedar ingin tahu apakah gua itu masih tetap seperti yang dulu atau sudah diruntuhkan oleh pemerintah untuk didirikan sebuah Mall atau pula hotel megah bintang 12. Aku rasa pemerintah tak akan tega begitu. Kecuali mati meraka punya nurani dan sudah disuap uang berkoper – koper oleh pihak yang ingin bangun hotel megah bintang 12 disana.

Perut ini sangat lapar karena seingatku sedari tadi pagi belum dijejali nasi. Bersamaku ada Fardi, Robi, dan Pilar yang sedang berjalan menikmati sore di Bukittinggi.

“Laper ? Makan yuk ?” kataku ke mereka bertiga.

“Iyaa nih. Makan dimana ?” Balas Robi yang lalu balik bertanya.

“Disitu aja ?” Fardi membalas, diikuti dengan tangannya menunjuk ke arah rumah makan yang katanya terlezat di Kota ini. Ampera Sederhana punya nama. Berdiri kokoh dipinggir jalan, disampingnya ada Pasar Ateh (Atas/red), disamping lainnya ada jalan raya buat yang mau ke kebun binatang, dan di seberangnya ada taman kota yang disitu ada Jam Gadang-nya.

Bergegaslah kami, 3 lelaki jomblo kesepian tanpa pasangan menuju rumah makan yang sudah disetujui. Beda dengan Robi yang sudah punya pacar, tapi kenapa memilih berjalan bersama kami. Entahlah aku tak tahu pula alasannya. Padahal sang pacar juga satu kelas dan sedang berada di sini, mungkin pacarnya juga memilih berkeliling bareng teman perempuan satu komplotannya.

Lihatlah di sana, di salah satu meja makan Ampera Sederhana yang sengaja ditaruh oleh pemiliknya di lantai dua, 4 manusia yang terlahir sebagai lelaki sedang menyantap sepiring nasi bersama lauk pauknya khas Minang. Ada rendang di piringku, ada gulai ikan di piring Fardi, ada dendeng batokok di piringnya Pilar, dan ada pula ikan balado di piring Robi. Ditemani pula sepiring sayur singkong dan dua piring kecil sambal. Satu di sambal ijo dan satunya di sambal merah.

Itu semua asli makanan dari rumah makan ini. Rumah makan yang asli berdiri di tanah Minang. Bumbu diracik oleh tangan orang asli terlahir sebagai Minang. Dengan rasa lauk pauknya asli khas rumah makan Minang. Cita rasanya yang lezat bukan main. Tak bisa diungkapkan dengan kata – kata. Yang jelas lebih sedap dan memang sedap dibandingkan rumah makan Padang lainnya yang berdiri di pulau – pulau seberang. Yang disana menurutku itu kalio sapi dikatanya rendang.

https://scontent-sin6-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/944439_537016373009040_159717957_n.jpg?oh=7b60f2b61d21ca6dd5cd05c4a63dc043&oe=585F40C7
Sebarkan pada mereka:

Thursday, 13 October 2016

Mbah Putri Sedang Sakit Nih


https://1x.com/images/user/a6a62a711503cfd76a1073d8624adea2-hd2.jpg

Sukoharjo senantiasa Makmur, Akhir April 2016

Hari ini, selasa namanya. Dingin paginya, tidak pakai banget. Itu karena musim hujan, coba saja pas musim kemarau. Baru dinginnya pakai banget. Ada sarung pun tak mempan. Butuh jaket 3 lapis biar hangat. Nanti deh 2 bulan lagi biar kamu ikut ngerasain paginya musim kemarau.

Hari ini, namanya apa tadi ? oh iya, selasa. Aku ke tempat kursus jam 8 nanti. Sekarang shubuh dulu biar afdol, haha. Abis shubuh ngapain ? tidur lagi ? tidak, itu kan kemaren. Gara-garanya begadang. Nonton bola, ngegame bola, bikin cerita, bikin web, nonton bola lagi, baru tidur jam 3 pagi. Aku mau sarapan rambak. Tahu kan rambak ? kerupuk nasinya orang jawa tulen. Wajar saja kamu tidak tahu. Kamu kan kota, aku desa. Dulu sih kita sama, sekarang saja tidak. Sama kotanya maksudku. Bukan anunya. Kalau anunya harus beda, sama bisa bahaya. Marah Tuhan, marah Agama, marah Pemerintah, KUA juga nggak mau. Kan sama.

Abis itu rambak, sekalian plastik bungkusnya, dibuang tapi, dimakan jangan. Bisa mati kata mbah putri. Iyaa, rambak itu yang beli mbah putri dari warung sama sayuran juga. Buat makan nanti sehari. Bikin sayur lodeh katanya. Sarapan sudah, nonton belum. Ritual sehari-hari itu, sebelum berangkat keluar, nonton dulu. Nonton teve, bukan bokep hlo. Itu kan pikiran kamu yang jorok saja. Apalagi nonton mbak-mbak lagi mandi. Bahaya ketahuan, bisa digiring keliling kampung hukumnya. Aku nonton berita. Lagi-lagi korupsi adanya, paling panas itu yang reklamasi sama suap jaksa. Makin parah saja negeri ini batinku. Aku bunuh sajalah si teve, daripada pusing mikirin Negara. 

Sudah jam 7, aku makan dulu. Gilirannya nasi biar afdol, haha. Kenyang nasi baru mandi, biar apa ? bukan biar afdol tapi biar wangi. Kan mau pergi, pergi ke kursus, harus wangi, kalau bau nggak ada yang dekat, jijik. Tidak perlu aku ceritakan pas mandinya. Nanti kamu pengen. Pengen mandi bareng aku, haha.

Aku pakai baju buat nutup aurat. Telanjang dikira orang gila. Padahal kan, emang iya. Tidak gila kayak orang gila juga sih. Kalau kayak mereka mana bisa aku bikin ini tulisan. Makanya mikir dong !!

Sudah semua, aku lajukan motorku kejalanan. Motor itu beat merknya, putih warnanya, ganteng yang bawanya. Tidak percaya aku ganteng ? cari aja letter AD 5047 IF. Biasanya keliaran disekitar Bekonang, Palur, Kentingan, Nusukan, sesekali juga ada di Gladak, Pasar Kliwon sama Semanggi. Itu Surakarta, jangan kamu cari di Padang, nggak bakal ketemu sampai kiamat pun. Kecuali Surakartanya kamu pindah ke Padang. Emang bisa ya ? ah, bingung sendiri aku.

Di tempat kursus jalannya biasa saja, masih pakai kaki. Masuk ke kelas, duduk di meja, dengar dosen ngomong sampai berbusa mulutnya, bel bunyi, selesai, pulang. Masih begitu, adapun kegiatan lainnya disana, tidak perlulah aku ceritakan ke kamu, biar Tuhan Aku dan manusia yang ada disana yang tahu. Aku tidak langsung pulang, mampir dulu shalat ashar. Aku paksa motor berhenti di mesjid Nurul Huda-nya UNS. Kalau aku hentikan di tengah jalan nanti orang-orang pada marah, marah besar lalu menabrak aku hidup-hidup. Dibiarin terkapar disitu, terkubur bersama motor dan aspal jalanan. Jahat emang manusia jaman sekarang, kemanusiaannya sudah luntur. Dulu pernah teman sekolahku jatuh ditabrak mobil, mobilnya kabur, temanku tergeletak sendiri tak ada yang menemani dipinggir jalan. Orang-orang yang lewat cuma ngelihat, lalu pergi, lebih milih urusan pribadi. Untung, ada teman sekolah lainnya yang lihat, ditolonglah temanku itu. Barulah dibawa ke rumah sakit diboncengi teman sekolah lainnya itu.

Itu sholat berjamaah, aku duduk di shaf paling depan. Bukannya sombong, bukankah Rasul berkata: Tuhan dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang di shaf pertama, diampuni dosanya sepanjang radius suaranya, dan dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang shalat bersamanya. Itu kata Rasul, Baginda Nabi Muhammad SAW, kamu harus percaya. Kalau tak, berarti kamu bukan Islam, kan ada Agama yang tak percaya ada Nabi setelah Nabi Isa AS. Ah, sudahlah jangan bawa-bawa Agama, aku teruskan saja ceritanya. Sebelumnya, aku minta maaf jikalau kamu tersinggung dengan ucapanku barusan. Jangan bawa hati, bawa saja makanan, aku lapar.

“Tumben si mbah putri nggak ada” Aku tanya ke Si Ayah.

Pas motor aku paksa parkir diruang tamu rumah. Maklumi rumah Si Ayah itu tidak ada garasi. Biasanya jam segini, kulirik jam dinding ada jam 5 sore, si mbah putri sudah duduk manis didepan teve. Kamu tahu nonton apa ? yaa, nonton sinetron India. Aku kasih tahu tidak judulnya ? jangan yaa ? nanti kamu malah ketawa, hehe. Baiklah, aku kasih tahu saja, itu judul sinetronnya Bunderan. Eh, benar tidak sih ? aneh juga, ada kata Bunderan di India sana. Artinya juga sama tidak ya ?

“Mbah’e sedang sakit” Jawab Pak Lik yang sedang dikerok sama istrinya, Buk Lik.

“Sakit ? Tadi masih sehat” Kataku heran

“hipertensi. tekanan darahnya naik”

“berapa ?” Aku tanya lagi seperti wartawan saja

“180 tadi dipuskesmas” Kata Pak Lik yang menandakan bahwa Mbah Putri sudah dibawa berobat.

“Haa ? Serius itu Yah ?” Wajar aku kaget, aku belum merasakan tensi darah setinggi itu dan mudah-mudahan tidak akan. 130 saja sudah bikin pusing kepala, apalagi si Mbah Putri yang harus menanggung beban tensi darah segitu tingginya. Kasian aku jadinya.

“iyaa, dokter bilang suruh istirahat sama dikasih obat juga. Mbahmu itu minta diobname, dokternya nggak mau, nggak usah katanya” Jelas Si Ayah dengan sangat jelasnya, “Oh ya, mandi sana, belikan buah buat si mbah”

Bentar, bentar, Si Ayah ini suruh aku mandi apa beli buah, yang jelas dong biar aku jelas juga. Takutnya aku salah kaprah. Yasudahlah, nggak usah dibahas. Lagian aku tahu maksudnya. Aku pergi mandi, mandinya dikamar mandi. Mandinya juga cepat sekali karena tidak bareng kamu. Pasti lama, banyak ritual pun. Jangan mikir jorok, ih.

Aku hidupkan motor, diikuti Si Ibu yang menaiki motor. Duduk disisa jok yang ada, diboncengi oleh keponakannya yang ganteng dewe. ‘dewe’ itu sendiri, jadi ‘ganteng dewe’artinya aku itu paling ganteng sendiri diantara keponakan Si Ibu lainnya. Sudah, sudah jangan memuji diri sendiri.

Melajulah kami ke tempat yang jual buah terdekat. Jauh jangan, aku tidak pakai helm, polisi minta jatah nanti. Di tempat buah itu, Si Ibu beli apel merah 2 biji sama 4 biji manggis. Apelnya untuk si Mbah Putri yang saat ini sedang terkapar di kasur, manggis buat 2 anak dan 1 keponakan yang anggap saja juga anak jadinya 3 anak Si Ibu. Pulanglah aku ke rumah dengan bawa motor, Si Ibu sama kantong plastik yang ada isinya. Isinya buah-buahan saja.

“Dihabisin buahnya mbah” Aku ngomong ke Mbah Putri yang sedang mengunyah apel dengan sangat kesusahan. Itu sekitar 30 menit setelah aku pulang dari beli buah-buahan. Sama siapa tadi ? iyaa, betul, sama Si Ibu.

Ora tedas, le” Jawab Mbah Putri dengan jawa. Kamu nggak akan mengerti, aku terjemahkan saja ke Indon. Artinya gigi mbah nggak kuat buat ngunyah.

“Diblender mau ? bikin jadi jus” Aku tawarkan begitu ke si Mbah. Faktanya dirumah ini tidak ada blender, ngawur saja aku ngomong begitu, biar ketawa si Mbah.

Blendere sopo ? Blender Pak Lurah yae” Ih si Mbah ini sukanya pakai Jawa. Bikin repot aku buat terjemahinnya. Itu barusan mbah bilang: ‘blender siapa ? blendernya Pak Lurah kali’

“Apa digiling saja ? pakai batu ?” Itu niatku bercanda bukan seriusan.

Tego yo koe karo mbahe, haha” Jawab si Mbah sambil ketawa kecil. Besar tidak bisa, lagi sakit susah buka lebar mulutnya. Eh, itu pakai jawa lagi yaa ? aduh mbah, besok aku ajari deh Indonesia biar gampang kita ngomongnya. Aku kasih tahu artinya itu: ‘Tega ya kamu sama mbah, haha’

Aku juga ketawa, cuma sebentar, aku tinggal si Mbah untuk menghadap Tuhan. Sholat Maghrib. Aku do’a agar Mbah Putri diberikan kesehatannya kembali dan bisa beraktivitas lagi.  Oh iya, do’anya itu sudah sholat selesai.

Ngko, kancani mbahe turu yaa, le” Kata si Mbah dengan sangat kesusahan ngomongnya. Suaranya pun kecil sangat. Memaksa aku mendekati mulut si Mbah. Bukan, bukan mau cium, aku pengen dengar jelas ngomong apa. Oh, sampai lupa, barusan itu artinya: ‘Nanti temanin mbah tidur ya’

“Makan dulu” Aku jawab

tenan hlo, kancani turu yaa” singkat saja, itu artinya: ‘beneran hlo, temanin turu ya’

“Makan dulu, Mbah. Lapar banget aku” Jawabku sambil jalan pakai kaki menuju tempat makan didapur Si Ibu.

Abis makan, aku kembali ke rumah si Mbah. Wong cuma sebelahan sama rumah Si Ayah. Aku turuti maunya si Mbah, kan aku cucu yang paling baik sejagad.
Sebarkan pada mereka:

Wednesday, 12 October 2016

Calon Sarjana Ojekzone


Add captiohttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhiI6Pis7om5nBndUPNSrtzs2HlV8vId6UsSNqO4_x9199FIMWf4D4HQoURxvngYSZlvtc09lezhp46yaU3XZzcTFk1SMtEydvjNGLtWU3WVO0POJIbCd9x9AqB_VXFCaOBqkg5GccdQoQ/s320/buzz-and-woody.jpgn
Semarang Setara, Akhir Oktober 2013

Kuhitung, sudah memasuki bulan ke-3, aku punya motor. Sudah akrab lah kami berdua, setidaknya sudah tahu kekurangan dan kelebihan masing-masingnya. Kami juga sudah tahu hobi, makanan kesukaan, tempat kesukaan, bahkan cewek yang kami sukai. Cocoklah buat partner hidup. Apalagi sehari-hari, kami selalu bersama. Chemistry-nya sudah terjalin kuat. Tak bisa lagi dipisahkan meski itu Badai Matthew menghantam. Dimana ada Aku, pasti ada juga motorku. Kecuali waktu mandi, aku mandi sendirian, dikamar mandi nama tempatnya. 

Motor pun sudah aku ajak jalan-jalan, kemana aja tempat yang aku suka jalani. Paling jauh kesini, ke Semarang. Tempat aku masuk kuliah. Masuknya sebentar abis itu keluar. Dari Karanganyar ke Semarangnya yang bawa Mas Bejo, sepupuku. Dia lebih tua, sangat tua dibandingku. Aku kira seumuran dengan Bapak bedanya anaknya sudah 3 sedang Bapak hanya punya aku seorang. Itu sudah cukup membuatnya bahagia, katanya ke teman - temannya yang punya sindiran untuk suruh Bapak bikin anak lagi. 

Di Semarang, Kota yang sudah aku kotori selama 2 bulan terakhir ini, aku sudah ajak motorku ke Pasar Johar, Tugu Muda, Simpang Lima, Lawang Sewu sama itu SK. Tanpa ada SIM di dompet, aku berani saja. Aku tidak takut polisi, Tuhan yang Aku takuti. Oh ya, tahu tidak ? Apa itu SK ? Ah, tidak perlulah aku tanya. Kamu pasti tak tahu. Aku jelaskan saja ke kamu, nanti kalau ada waktu aku ajak kamu. Ke SK yang singkatan dari Sunan Kuning itu. Orang-orang Semarang ataupun orang-orang yang pernah di Semarang pasti tahu-lah. Kan sudah tersohor seantero Jateng - DIY. Kembarannya Sarkem Jogja sama RRI Solo.Kalau yang di Padang ada di Taman Melati sama yang di Padang Theater.  Masih belum paham juga ? Hmm, baiklah. Tapi sebelumnya kamu jangan kaget, janganlah kamu bikin kamu punya mulut menganga. Sayang, nanti lalat camping di lambung kamu. Bukan tabu lagi. Itu SK tempat prostitusi paling besar di Semarang, di Jateng juga. Legal tidaknya, Aku tak begitu paham. Yang jelas, sampai tulisan ini akan diposting belum di gusur pun. 

Aku kesana bukan buat nyewa. Positive thingking dikit-lah. Kamu kan juga tahu Aku tak akan begitu. Kecuali Khilaf. Aku bareng teman-teman. Ada 6 manusia. Motornya 3. Satu motor ada 2 manusia. Sekedar kasih tahu saja, siapa tahu kamu tidak tahu. Yang duduk didepan mengendarai, yang dibelakang bonceng. Kami kesana cuma lewat saja. Putar-putar juga sambil lihat mbak-mbak rok mini duduk diteras. Menarik perhatian pelanggan tujuannya. Tapi aku tak tertarik tuh apa paha mbak-nya. Aku eertariknya cuma sama kamu. Bukan, bukan paha kamu tapi hati kamu yang bikin aku luluh.

Di Semarang, Aku sudah hampir 7 Minggu. Selama itu pun belum satupun cewek yang aku bonceng. Kecuali itu, si Ibu, perempuan pertama yangbonceng aku punya motor. Tapi Ibu bukan cewek lagi. Beliau mah sudah Ibu-Ibu, hehe. Ibu beranak satu dan kayaknya tidak ada niat buat bikin anak lagi bareng Bapak yang sudah tegang. Jabatanku jadi masih tetap. Sebagai Anak tunggal dikeluarga besar Bapak Purwanto. Anak yang paling disayangi, dimanja, tapi jadi tanggungjawab utama menghidupi keluarga nanti. Do’akan berhasil, yaa.

Aku tidak bingung dengan masalah belum satupun cewek yang aku bonceng. Aku juga tak ada niat mencari cewek untuk diboncengi. Padahal gampang, cari saja di di dekat Stasiun Poncol kalau tak di Jembatan dekat Pasar Johar atau kalau pengen jauh, Bandungan juga bisa. Tengah malam tapi. Pasti ada saja kimcil yang siap bonceng sama aku punya motor. Harus bayar. Syukur aku masih belum khilaf, jadi tak mau. Masih sadar kalau itu dosa. Masih ingat Tuhan, Agama, Orangtua, sama Pemerintah. 

Pan, ikut makrab kan ? Jani SMS. Buat hape Nokia 5130 Aku punya bergetar.

Ikut. Sudah bayar juga Aku balas selepas Dia SMS tadi.

Ada pembagian kelompok makrab. Buat pensi katanya. Coba cek di fb Itu Balas Kardun.

Aku tidak membalasnya. Aku lebih suka melihat teman sekelompokku siapa daripada terus meladeni SMS dari laki-laki. Takutnya jadi homo. Sudah masuk aku ke fb, pakai assalamu’alaikum, tapi fbnya diam saja. Abis yang bikin bukan muslim. Aku ikut perintah yang disuruh Kirun. Unduh filenya yang format excel. 

Disitu, di excel yang sudah Aku unduh, Aku amati satu persatu, dan ketemu juga kelompok tempat namaku terketik, di kelompok 9. Ada Tiwi, Viki, Nengsih, Gita, Ajo, Dito, Surya sama aku pastinya. Disitu juga terketik, kakak pembimbingnya bernama Supri. Dari nama itu, aku kenal Tiwi sama Viki. Lainnya tentu tidak. Tiwi itu teman satu jurusan juga. Viki, kami ditakdirkan sebagai teman sejak awal bertemu ketika daftar ulang.

Oh iya, sampai lupa aku jelaskan. Nanti bingung kalau tidak. Itu tadi, yang kelompok-kelompok itu buat acara di Makrab. Makrabnya IKAMMI (baca: Ikatan keluarga Mahasiswa Minang) Semarang di Bandungan tempatnya. Aku ikut karena Aku bagian dari Minang, terutama Padang. Padang-lah kotanya Aku dilahirkan dan dibesarkan selama 18 tahun. Di makrab itu detail acara Aku tak paham. Bukan panitia, masih Maba, Mahasiswa Baru bukan Mahasiswa Bau. Aku ngikut saja inginnya panitia. Yang aku tahu cuma ada acara pensi dari masing-masing kelompok. Itu pun dari Jani.

Hallo teman-teman kelompok 9. Besok kita kumpul perdana di basecamp IKAMMi jam 7 malam. Salam dari Supri, kakak pembimbing Ada SMS Jarkom dari Supri. Darimana dia tahu aku punya nomor? Ah, sembarang curi saja ini orang. Belum kenal sudah berani-nya ambil nomorku. Gimana nanti kalau sudah kenal, aku punya perjaka apakah diambil juga oleh dia ? Ahh, dasar payah, lupakan sajalah. Aku turuti suruhnya Supri. Biar puas dia punya hati dia.

Tidak perlu aku cerita aktivitas hari ini. Aku bawa saja kamu ke hari setelahnya. Biar singkat saja. Sesuai suruh Supri, berhubung juga sudah hampir jam 7 malam. Aku tancap gas ke basecamp IKAMMI di jalan Gondang Raya. Tidak jauh. Ada diseberang jalan dari kosku yang jalan Sipodang. Kukira butuh 5 menit saja kesana.

“Jeki, uda” Aku menyalami seorang lelaki tinggi yang kukenal setelahnya itu sebagai Supri. Aku panggil uda. Itu sudah aturannya. Kakak laki-laki dipanggil Uda, kakak perempuan dipanggil Uni. Jujur, aku tidak terbiasa. Bisanya di Padang itu abang, kakak, mas, sama mbak. Aku kasih tahu aku punya nama biar dia tahu.

“Duduk disitu dulu. Tunggu teman yang lain, ya” Suruh Supri menunjuk ke arah suatu sudut teras basecamp. Basecampnya kayak rumah. Emang rumah juga. Disana ada banyak orang. Dengan urusan masing-masingnya.

“Oke, Uda” Aku duduk sila bukan simpuh. Tidak sopan atuh kalau simpuh. Nanti dikira cewek, jadi suka cowok ke aku. Cantik. Selang berapa lama kumpul juga. Ada Tiwi, Viki, Gita sama Nengsih. Sisanya tak tahu aku. Tewas di medan perang mungkin. Jadi, hanya 5 orang anggota kelompok 9 yang berkumpul di teras rumah kontrakan IKAMMI.

Aku disitu senang. Selain kumpul, juga ada lainnya. Kamu pengen tahu ? beneran ? tidak cemburu kamunya nanti ? baiklah, aku cerita. Aku juga senang ada Nengsih. Sejak kenalan tadi, aku merasa ada beda. aku jatuh hati ke Dia. Bikin hatiku terisi Nengsih. Tidak perlu detail wajahnya dan perawakannya gimana. Yang pasti, Dia itu enak dipandang. Tidak bakal bosan. Kulitnya sawo matang. Tidak kematangan juga tidak belum matang. Intinya Matang. Itu saja. Sama satu lagi, berjilbab. Secepat itukah aku jatuh cinta ? Ah, memang begitulah aku saat itu.

“Aku antar pulang mau ?” Aku tawarkan jasa ke Nengsih. Itu sudah selesai kumpulnya. Beranilah aku ngomong begitu, kan sudah kenal.

“Boleh” Nengsih terima.

Yes, percobaan pertama berhasil, batinku. Dia pun menduduki motorku. Bonceng aku. Tidak pegang pinggangku, belum sah mungkin. Melajulah Aku, motorku dan Nengsih yang ada dibonceng aku. Menuju kos Nengsih yang ada di Jalan Sumurboto.

“Asal mana ?” Tanya Nengsih membuka percakapan di tengah perjalanan. Dia tanya asal daerahku tinggal.

“Padang tapi Jawa Tulen. Kamu ?” Aku jawab begitu. Selalu begitu setiap orang yang tanya begitu.

“Kok bisa nyasar ? Aku Batusangkar”

“Kami dibuang oleh pemerintah kesana, diselundupkan lewat perahu nelayan” Aku jawab saja ngawur. Aku cerita bisa tak sampai kos nanti. Panjang ceritanya, lebih panjang dari tol Semarang-Bawen.

“Hahaha” Dia ketawa. Sepertinya juga percaya.

“Jurusan apa ?” Aku tanya itu karena aku belum tahu.

“FKM. Kamu ?” Dia Jawab. Jawabannya FKM. Kamu tahu panjangnya FKM ? bukan, bukan yang itu FKM itu panjangnya EFFFFFFKAAAAAAAEMMMMMMM. Hehe, itu becanda. Seriusnya Fakultas Kesehatan Masyarakat.

“Aku Siskom. Bukan Sistem Komunikasi tapi Sistem Komputer” Dengan jelas Aku jelaskan begitu. Takut saja kalau Dia ikut-ikut ngira itu SISKOM singkatan dari Sistem Komunikasi. Soalnya, banyak juga orang yang ngira begitu. 

Sampai juga di depan kos Nengsih. Aku tidak turunkan Dia. Dianya yang turun sendiri. Punya kaki buat melakukan itu. Kecuali tidak, sudah aku gendong Dia. Dia turun. Dia bilang terimakasih. Lalu aku pergi meninggalkan Nengsih sendirian yang masih di depan pagar, dan meninggalkan semua cerita kita tadi dari atas motor yang bisa dikenang nanti. Semoga masih ada esok untuk kita ketemu lagi.

Sejak itu, Aku dan Nengsih akrab. Aku SMS, Dia balas. Begitu juga sebaliknya. Sampai bosan. Kayaknya juga tidak bosan. Banyak cerita kami. Sesekali kalau Dia mau, Aku jemput pas Dia pulang kuliah. Setelah itu, Dia juga tidak segan minta jemput kalau pengen. Pernah juga pas pagi-pagi sehabis shubuh, Dia ada acara di Jurusan. Minta aku antar. Aku iyakan karena Aku mau. Kalau saja tidak, sudah aku bawa tidur mata. Begadang semalam baru dapat 1 jam tidurnya.

Aku sudah dekat Nengsih. Dia pun begitu. Banyak waktu kita berdua. Duduk berdua di teras kos Dia, dibonceng Aku tapi tak sampai pegang pinggang, cerita bahasa dan budaya Jawa, dan banyak hal lainnya. Tidak mau aku bikin rinci, nanti kamu cemburu pula. 

Entah kenapa, Aku tak sampai pikir kesitu. Pikir pacaran maksudku. Aku nikmati saja semua keadaan itu. Sampai lupa, nyatanya Aku cuma jadi ojekzone. Itu salahku pula, tidak cepat bilang. Padahal Dia mau. Bukan, bukan karena aku begitu percaya dirinya. Aku tahu itu dari temannya satu jurusan, kebenaran juga dia temanku sedari SMA.

"Jek ! Lo sedang deket ya  sama Nengsih" Tanya Nur suatu waktu di pinggir jalan ketika kita berjumpa

Eh ? Kok dia tahu ?

"Iya. kenapa ?" Tanyaku balik yang memang sedang penasaran.

"Dia tu sebenernya suka ke elo"

"Iya gitu ?"

"Lo nya sih nggak peka. Makanya dia pilih sama anak sipil. Baru jadian kemarin"

Aku tidak peka gitu ? Atau akunya saja yang lambat bergerak. Maksudnya tak segera mengambil sikap untuk menyatakan perasaan ke Nengsih. Keleletanku itu pun menyebabkan Nengsih tak mau menunggu. Apalagi harus menunggu terlalu lama. Kodratnya kan begitu, perempuan hanya bisa menunggu lelakinya untuk mengungkapkan perasaan sekaligus mungkin mengajak pacaran gitu.

Bodohnya aku disitu. Lambat dalam bergerak untuk meraih hatinya, dan menetap di hatiku untuk mungkin dalam waktu yang lama. Dia pun akhirnya pilih sama yang lain. Aku tidak sesal, sudah biasa. Hati sudah kebal, terbiasa patah. Aku pun cukup mengambil pelajaran dari itu, untuk semoga kedepan lebih sigap bertindak. Ada lagi yan dapat aku kenang dari Nengsih selain itu, ada satu dan baru ingat aku. Nengsih-lah cewek pertama yang aku bonceng.

Sebarkan pada mereka:

Monday, 10 October 2016

Motor Baru


http://aksesorisbag.us/wp-content/uploads/2012/10/beat-fi-cbs-techno-white.jpg
Karanganyar Masih Tenteram, Akhir Agustus 2013

Motor, sekarang aku ingin bahas motor. Orang Batak bilang ‘Kereta’, orang Padang bilang ‘Honda’, orang Inggris bilang ‘Motorcyle’, orang Jawa bilang ‘Motor’ nggak pakai mabur, nanti dibilang pesawat. Kamu pasti sudah tahu apa itu motor ? Tak perlu aku jelaskan panjang lebar lagi. Capek tanganku ngetiknya. Kalaupun kamu tidak tahu itu motor, dengan senang hati aku mempersilahkan kamu untuk meninggalkan bumi ini.

Aku punya motor pas akan mau masuk kuliah. Masuk saja sebentar abis itu keluar. Itu pertama kalinya sepanjang 18 tahun hidup didunia ini. Aku dibelikan motor matic rakyat keluar pabrikan motor tersohor yang berwarna putih. Itu aku yang minta. Kenapa matic ? kenapa tidak Ninja ? King ? atau yang sedang kekinian itu motor CB tahun 80-an. Aku pikir itu karena soal uang yang hanya cukup dibelikan motor matic. Aku terima saja, toh aku suka. Jikalau kamu tak suka, peduli apa aku. Tak akan aku ceritakan sumber dananya, biar Tuhan, Bapak, Ibuk, Mbah Putri, Aku beserta beberapa keluarga yang tahu. Kamu tidak perlu aku kasih, kan kamu bukan keluarga aku. 

“Kasih nama siapa ini ?” Aku tanya ke Bagong, sepupuku, minta pendapatnya mengenai hal nama dari motorku. Itu perlu, karena itu identitas. Nanti hilang gampang, tinggal tanya ‘Pak, lihat siputih tidak ?

“Kobok’an, gimana ?” Usul Bagong

“Ah, kurang kece”

“Bagong ? sama namaku” Usul lagi si Bagong.

“Nope”

“Kebo ?”

“Jelek”

“Macan ?”

“Nggak cocok” maksudnya nama itu tidak cocok sama warna dan bentuk si motor

“Ayu ?”

“Nope lagi”

“Nilam ?”

“itu mantan aku !!”

Ahh, sampai akhirnya jejak pendapat itu tidak membuahkan hasil. Sia-sia. Motor pun tak jadi diberi nama. Biar begitu saja, apa adanya. Karena yang natural itu lebih indah. Ah, alibi sekali aku ini.

Aku bawa test drive ke pasar, sekedar membeli 2 bungkus roti bakar. Ceritanya untuk syukuran, Aku punya motor. Juga diberi keselamatan sepanjang aku naiki motornya. Belum ada plat di depan sama belakang. Masih polosan. Jelaslah, wong baru satu jam yang lalu diantarkan oleh Si Dealer. 

Aku bawanya pelan-pelan, kira-kira 20 km/jam cepatnya. Alasannya, biar orang-orang tahu saja, aku sudah punya motor. Motornya baru lagi. Baru dari dealer. Beli pakai uang bukan daun. Uang pun cash dimuka. Mukanya yang punya dealer. Ah, sombong dikit tak apalah. Tuhan marah pun sedikit.

Besok paginya, kan masih baru tuh. Baru dipakai kemarin sore pula. Aku paksa motor melaju ke timur ke daerah Matesih. Tahu kan ? itu yang sebelum Tawangmangu. Tempatnya Alm. Pak Harto dikubur. Tak tahu juga ? Oh iya, kamu kan Padang. Nanti aku kasih tunjuk ke kamu. Syaratnya sih kamu harus jadi teman hidup aku. Tahulah maksudku, itu hlo kayak orang-orang itu hlo, yang pakai baju pengantin itu hlo, duduk berdua di KUA itu hlo, sama duduk di pelaminan itu hlo, ngerti hla kamu itu hlo.

Pernah juga suatu sore, aku bawa motor ke pusat kota Karanganyar. Niatnya tetap sama, buat pamer ke orang-orang seantero kota. Cakupannya saja yang lebih luas, target kedepan sih seluruh jagad Joglosemar (baca: Jogja Solo Semarang) dan sekitarnya tahu. Sore itu keliling Karanganyar bagian utara dulu. Dari rumah jalan ke arah Pasar Kakum, kemudian terus berkendara menuju Bejen, lalu melewati Taman Pancasila, berjumpa dengan Pasar Jongke, kemudian melalu Waduk Lalung, berpapasan dengan Sukosari, dan akhirnya sampai pula di rumah. Kamu yang orang asli Karanganyar pasti tahulah daerah yang kusebut. Kamu mah yang di Padang tidak akan tahu. Yaa, kecuali yang aku bilang tadi. 

Kamu tahu tak ? Aku kesana tidak pakai helm, tak bawa hape, tak ada dompet di saku celana, pakainya celana pendek, kaos oblong yang ada bolongnya sedikit dilengan, sendirian pula. Untung saja polisi sedang siap-siap berbuka puasa dimana saja maunya. Coba saja sore itu mereka sedang patroli mencari mangsa demi selembar I Gusti Ngurah Rai, bisa ditahan motorku. Sudah suratnya belum keluar, SIM tak ada, Helm tak dipakai, Plat pun belum punya. Parah emang.

Edan kamu, le” Bapak bilang begitu ke Aku waktu aku ceritakan ke bapak sehabis berbuka dengan yang manis-manis.

Besoknya, aku temukan motorku sudah tidak perawan lagi. Darah berlumuran dimana-mana. Direnggut oleh Ibu. Wanita pertama yang aku bonceng.

Tak apalah batinku. 

Memang seharusnya aku begitu, memboncengi Ibu ke Pasar Kakum buat beli sayuran sama lauk-pauknya. Kasian pula aku suruh jalan pakai kaki, jauh. Ada setengah jam kesana. Motor mah cuma 5 menit sampai. 

Sorenya, aku bareng Bagong pergi ngabuburit ke waduk Lalung. Sekalian lihat kimcil berkeliaran disana. Aku jelaskan, Kimcil itu singkatan dari Kimpot Cilik yang diartikan jadi paha kecil. Istilah buat pelacur yang masih merah merona, belum ada genap 18+. Disana ada sekitar 15 menit meamndangi air yang ada di Waduk. Sudah itu pulang. Sayangnya, ditengah jalan, hujan turun. Ah, tak bilang-bilang nih kalau mau turun. Jadi kotorkan motor baruku.

“Cuci yuk, gong. Biar kinclong lagi” Ajak aku ke Bagong sehabis shalat maghrib.

“Iyoo, tak ambil selang dulu” Bagong pergi menjauh dariku menuju belakang rumah. Buat apa ? tadi kan dia sudah bilang.

“Cepet !!” Teriakku dari dekat motor yang rupanya bagai tidak berupa.

Selang datang, ditancapkan ke kran pun sudah. Saatnya bersih-bersih motor baruku. Biar apa ? biar motor baruku dibilang tetap baru sama orang-orang, haha. Prosesi pemandian itu cukup memakan waktu. Tarawih pun kami tunda ke esok harinya. Biar yang tua saja kesana. Yang muda mah besok masih bisa. Suara Mbah Darmo ceramah dimulai, motor baru selesai. Selesai dicuci, kan tadi kotor.

“Hlo, kok nggak mau hidup sih ? Bagong panik. Paniknya bukan main, panik sangat pokoknya. Menyaksikan keadaan motor yang tidak mau menyala. Sudah di-starter padahal.

“Diengkol coba” Perintahku.

“Nggak mau!” Bagong menuruti suruhku. Motornya pun tak menyala juga. Tetap mati. Ada apa ini ? Aku ikut panik. Bingung, cari solusi, aku masih buta dunia motor.

“Coba cek karburasinya. Ikut kotor mungkin” Kataku asal. Padahalkan tak tahu apa-apa. Bagong yang tahu dunia motor menuruti saja suruhku.

“nggak mau juga yoo”

“Bannya kali. Bocor. Jadi nggak bisa hidup”

Hlo, ini malah ke ban. Apa hubungannya coba ? Ah, sudahlah, namanya juga aku, belum tahu apa-apa sama mesin motor. Yang jelas, Aku dan Bagong masih panik. Jongkok sekaligus melihat ke bagian mesin motor. Nge-chek apa sebab tidak mau menyala.

“Lagi ngapain cah ? Ada yang rusak ? Motor baru kok udah rusak aja” Itu suara Eyang Kakung berjalan pakai kaki menuju tempat kami kepanikan.

“Ini hlo, Eyang. Nggak mau hidup” Aku jelaskan dengan sangat jelas ke Eyang Kakung sebab muasabnya. Eyang Kakung mendengarkan penjelasanku sekalian melihat ke motor.

“Oalah cung, kacung. Ini standart sampingmu dikembaliin dulu ” Kata Eyang Kakung sambil mengejek kami berdua.

Lalu, Beliau coba starter itu motor punya aku, ternyata hidup. “Nah !! hidup kan jadinya. Aku yang tua begini aja tau kok kalian yang muda malah gaptek”

Aku dan Bagong cuma senyum-senyum bego. Emang bego juga sih.  
Sebarkan pada mereka:

Malu Bertanya, Sesat Di Jamban


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEisalZzVXHqwqdcVaaM5L-plqgHZ3_f9kQlfSOL7AKo1SYQbSk6heV-FVC1MuZmUWTrqwSQslY_jFkh3c9PRffl5WiXbvaFCVMoxNIGsHpkxAty6LxNz5S8oltrv-J__Ll5I2dcQmQcL8A/s1600/panen_padi.JPG
Dari Balik Bilik, 4 Mei 2016

Minggu adalah hari libur untuk seluruh umat manusia yang pakai kalender masehi di bumi ini. Minggu adalah hari yang bebas untuk melakukan kegiatan apa saja karena itu hari libur. Tak ada yang berani mengganggu gugat, termasuk deadline dari si bos. Minggu adalah hari bebas mobil di jalan protokol kota. Di jalan lainnya mah tetap ada. Hari bebas mobil dibuat untuk memfasilitasi masyarakat dalam berolahraga atau kegiatan lainnya selagi itu ramah lingkungan. 

Namun bagiku, minggu adalah hari yang paling menyebalkan. Kenapa ? yaa, karena itu libur.  Aku tidak punya kewajiban yang dikerjakan. Mengisi waktu hanya dengan kesia-siaan. Semisal, menonton tivi, tidur, baca buku, menonton tivi lagi, tidur lagi, makan jangan lupa. Mandi mah tak usah, biar kita punya air hemat.

Hari minggu di pagi yang segar ini, aku bangun dari tidur yang lumayan panjang. Itu karena pelampiasan dari 2 malam sebelumnya yang tak dapat jatah tidur. Aku beranjak dari kasur segera, mau ambil wudhu lalu sholat shubuh. Wajib aku begitu, jangan sampai tidak, nanti marah sangat Tuhan. Ingat !! Sholat Shubuh itu 2 rakaat, niatnya "sengaja aku sholat wajib shubuh dua raka’at menghadap kiblat karena lillahi ta’ala". Jangan dibikin niat yang lain, apalagi niat karena pacar. Sudah kubilang tadi, nanti marah sangat Tuhan. 

Aku menuju halaman rumah, sekedar menghirup udara pagi yang sudah beberapa hari ini tak kudapati. Aku hirup itu oksigen sepuasnya selagi masih disubsidi Tuhan. Kalau sudah tidak, bayarnya mahal, bisa puluhan juta per tabung. Bayarnya tidak ke Tuhan, tapi manusia yang dagang oksigen. Walaupun sudah hirup udara segar di pagi, aku masih merasa ngantuk. Ngantuk sangat dan tak bisa ditahan.  

Tidur lagi, ah batinku.

Aku kembali menuju kamar, memeluk guling hingga terlelap. Jangan kamu bangunkan, biar aku bangun sendiri. Kecuali yang bagian lainnya dari aku harus kamu bangunkan, entah itu gimana caranya kamu. 

Aku lihat, aku tidurnya nyenyak sekali tapi tak sampai ngorok, ngeces iya. Wajar saja, kan masih terasa capek. Aku bangun gara-gara bangun sendiri. Abisnya kamu tidak mau bangunkan aku. Aku bangun di jam 7. Itu jam 7-nya pagi bukan jam 7 malam, aku juga tidak mau lama-lama, takut bosan nanti. Aku melangkahkan kaki ke ruang tamu untuk nonton tivi, disitu juga sudah ada Si Sulung yang sedang lihat tivi. Nontonnya acara kuliner, acara kesukaanku. Lihat manusia dibalik layar tivi itu bikin aku pengen.

Bikin pengen aja” Celetukku. Tak punya harap dibalas oleh siapapun.

Lah ? Pengen yang mana, bang ? Balas Si Sulung yang dia kira aku punya pikiran kotor.

Makanannya lah ! Masak itu mbaknya !?

Meskipun cungkring dan tak tahu diri. Aku ini tetaplah manusia baik-baik, kamu pun harusnya sudah tahu itu. Tak akan punya pikir buat apa-apain si Mbak yang sedang makan enak. Lagian aku tidak bisa menggapainya, kan dia ada dibalik layar tivi. Posisinya pun aku tak tahu dimana. Kalau pun tahu, dan kebetulan ada disitu, lain lagi ceritanya. Astagfirullah,  janganlah aku begitu, bukan muhrimnya, marah Tuhan nanti.

Aku sudah tak tahan lihat orang makan, jadinya aku juga ikut makan. Hanya saja menunya beda, aku makan nasi sama oseng tahu, si mbak didalam tivi itu makan pakai apa itu namanya tidak tahu aku. tak jelas bentuknya, tapi dikatanya enak. Tempatnya juga, aku di dalam rumah, yang di dalam tivi didalam restaurant. 

Cuy, ayo ikut gue!” Ajakku ke Si Sulung dari dalam kamar sedang ganti pakaian. SI Sulung masih di depan tivi.

Kemana ?”

Jalan-jalan

Jalan-jalannya kemana ?

Ah ! Usahlah lo banyak tanya ! Ikut aja !

Ayukk deh

Si Sulung masuk ke kamar buat ganti pakaian sedang aku keluar kamar buat panaskan mesin motor kesayangan. Biasalah, tiap pagi atau akan pergi pakai motor, aku biasa begitu. itu sama halnya dengan pemanasan sebelum olahraga tujuannya biar mesin pada motor tak kedapatan kontraksi otot, tegang, atau pun keram nantinya. 

Mau kemana, le ?Tanya Mbah Putri yang sedang duduk dibangku teras.

Jalan-jalan, mbah” Aku balas dari atas jok motor yang mau ditancap gasnya.

Mbahe nitip

Titip apa, mbah ?"

Titip jeruk sama es kelapa muda ya ?"

Iya kalo ingat, hehe

Selepas mengiyakan permintaan Mbah Putri, aku tancapkan gas motor. Membuat dia bergerak menuju ke yang aku arahkan. Dibelakangku, tepatnya diboncengan pasti ada Si Sulung. Aku arahkan itu motor ke timur, ke arah Tawangmangu inginku. 

Di perjalanan aku tak ngebut, cepatnya cuma dijarum 40 KM/JAM. Sengaja tak dikebut karena aku maunya nikmati pemandangan yang ada di jalan dan dipinggirnya. Aku juga sengaja pilih jalan tengah desa, tak di jalan kota. Tujuannya lihat aktivitas manusia desa di hari libur juga untuk lihat pemandangan asri persawahan.

Di tengah jalan, ada aku lihat mbah-mbah sedang cabut rumput buat makan sapi mungkin, ada bapak-bapak sedang kerja bakti bersihkan bandar juga rumput, ada anak-anak sedang bermain sepeda, ada juga ibuk-ibuk yang sedang nandur pari.

Berhenti dulu ya !?” kataku ke Ongky yang mau berhentikan motor ke pinggir jalan.

Ngapain ?

Nanti lo juga tau sendiri

Aku pun berhentikan motor kesayangan tepat di pinggir jalan, pinggirnya lagi ada sawah yang masih hijau membentang luas. Disitu juga ada mbah-mbah seorang diri sedang mencabuti rumput pakai arit. Pisau jangan, mana bakal tajam dia. Aku beranikan ngomong ke itu Mbah pakai bahasa jawa kromo. Biarpun tak begitu mahir, setidaknya sedang belajar untuk bisa.

Permisi mbah, Desa Ngemplak itu dimana ya ?Aku tanya dengan mimik kebingungan ke si Mbah.

Ohh, Ngemplak” Balas si Mbah yang entah emang tahu atau sok tahu.

Iya mbah

Dari sini ikutin jalan ini ke arah selatan

Yap

Nanti ketemu pertigaan kan, mas-nya terus lurus aja. 3 desa dari pertigaan itu, baru ketemu desa Ngemplak

Iyaa, mbah. Oh ya, kalau yang kutukan jalannya gimana ya, mbah ?” Tanyaku lagi. Kali ini berganti daerah.

Kalau Kutukan utaranya Ngemplak, mas. Dari Ngempak mas-nya jalan ke arah barat. Nanti ketemu jalan raya, terus belok kanan. Lurus aja, kalau jumpa perempatan. berarti mas sudah di Kutukan

Rumahnya Pak Jaimen tau, mbah ?

Wahh, nggak mudeng mas

Katanya deket lapangan Kutukan gitu hlo, mbah

Nggak tau, mas

Yahh, tak kira Mbahe tau" Aku memberikan raut muka kecewa atas ketidaktahuan Si Mbah.

Maaf mas. Mbahe bener - bener nggak tau

Yaudah deh, mbah. Aku mau ke Tawangmangu aja. Makasih sebelumnya yaa, mbah. hehehe

Aku berlalu meninggalkan Si Mbah yang kembali mencabuti rumput. Sepintas aku lihat mimik muka Mbah itu yang berubah menjadi kebingungan. Kalau aku diberi anugerah oleh Tuhan untuk membaca pikiran orang. Mungkin Si Mbah itu berkata dalam hatinya "Dasar wong edan".

Aku tak peduli, aku pergi kembali bersama motor kesayangan dan Si Sulung diboncengan. Di jalan, Si Sulung ketawa bukan kepalang, tidak ada jedanya hingga puluhan meter. Aku pun juga ikut ketawa tapi tak pula  terbahak-bahak. Kamu tahu tak alasannya Si Sulung ketawa ? Jelaslah tidak tahu, kan kamu kira tadi aku tanya ke Mbah-mbah itu seriusan. Sedangkan Si Sulung tidak, dia sudah tahu kalau aku sebenarnya tahu dimana daerah yang aku tanyakan tadi. Dan dia sudah tahu kalau aku hanya mengusili si Mbah tadi. 

Bagaimanapun aku tak punya niat mempermainkan si Mbah tadi. Semata-mata hanya ingin mengajak ngobrol Si Mbah. Kasian, Beliau sendirian, tidak ada teman bicara pun. Namun jikalau Si Mbah berkata lain, mungkin tak suka hati dengan permainanku ini. Maka maafkanlah daku atas kejahilan ini Mbah. Daku tak punya maksud atas apa yang mungkin Mbah pikirkan. Dengan penuh harap, semoga Mbahe mau memaafkan kekhilafan daku ini. Daku tak mau dibakar api Neraka Jahanam dikarenakan mengusili Si Mbah dan Mbahe tak mau memaafkannya.

---

Aku bawa motor bergerak ke arah matesih menuju tawangmangu. Jalannya bukan yang Karangpandan namun yang punya jalan Matesih. Terus aku bawa motor dengan jalanan yang mulai berbentuk banyak naik, banyak belokan, sedikit turunan dan hanya beberapa meter saja jalanannya lurus. Dipinggirnya ada pemandangan alam yang sungguh mengenakkan mata. Tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Kamu kesana deh biar tahu gimana bentuk rupanya.

Sampai dipertigaan, kalau lurus ke pasar Tawangmangu, kalau kiri ke arah Solo. Aku ambil saja ke kiri. Masih enggan buat lurus, lagipula tujuannya cuma jalan-jalan mengelilingi kota. Yang di jalan ini, beda sama jalan tadi. Jalan ini banyak turunnya, tak ada naik. Kalau naik putar balik dulu ke arah Tawangmangu. Dan juga disini berbelok-belok, tajam pula, tapi tak setajam silet. Tak bikin luka ditubuh, kecuali kamu sengaja tabrak kendaraan yang didepan. Lain lagi ceritanya. 

Ditengah jalan, itu sudah lewat karangpandan, aku sengaja matikan mesin motor tepat di depan warung makan. Jelaslah, aku makan, perut juga keroncongan.

Belum mandi tapi sudah makan dua kali” Si Sulung melontarkan candaan. Aku ikut ketawa terlebih itu yang sedang kami alami.

Tetep ganteng

Itu kalo pake kemeja, celana jeans, sepatu keluaran brand ternama, parfum paris, sama rambutnya di pomade biar klimis. Lha kalo ini ? Kaosnya oblong, ada bercak iler. Terus celananya jens pendek, diujungnya ada bekas dipotong pula

Bodo !! Masih ganteng pun

Sendalnya sendal jepit yang ditapak ada bekas permen karet

Haha, pake apun juga, akui saja kalo kita berdua ini tetaplah lelaki terganteng di warung ini

Yaiyalah, wong cuma kita aja yang punya batangan"
Sebarkan pada mereka:

Tuesday, 27 September 2016

Korban Penipuan Mama Minta Pulsa

http://www.otakpenjahat.com/wp-content/uploads/2016/04/penipuan-SMS-Banking.jpg
Dari Langit Tembalang, Awal April 2014

Tidak terasa dalam satu dekade terakhir perkembangan teknologi dan informasi semakin pesat. Hampir setiap elemen kehidupan, kini membutuhkan yang namanya teknologi. Contohnya saja, dulu kalau ingin berkabar ke orangtua, saudara atau gebetan yang jauh disana harus berkirim surat. Butuh waktu berhari-hari, supaya surat itu sampai ke tujuan. Tapi kini apa yang terjadi ? dengan kehebatan yang dimiliki para ahli IT dunia, komunikasi jarak jauh hanya melalui sebuah perangkat kecil nun canggih bukan main. Lewat perangkat tersebut, kita bisa telepon-an, berkirim pesan langsung terkirim ke tujuan tanpa nunggu waktu berhari-hari lagi, video call-an dimana bisa ngelihat wajah orang yang kita telepon dari balik layar dan paling kekinian adalah social media yang dijadikan sarana bebas berkomunikasi dengan makhluk hidup kasat mata ataupun makhluk hidup tak kasat mata.

Namun, kecanggihan teknologi ini ibaratkan dua sisi mata pisau. Disatu sisi, kemudahan yang diperoleh bisa dimanfaatkan untuk menyambung tali silaturahmi dengan kawan-kawan lama atau juga bisa jadi sumber pengetahuan kedua selain buku. Namun disisi lain bisa menjadi momok menakutkan yaitu kecanggihan ini bisa dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindakan penipuan, pemerasan ataupun pembunuhan.

Sisi negatif ini bisa jadi teror bagi manusia-manusia labil yang tidak dibekali iman dan pengetahuan dunia teknologi informasi. Yaa, manusia labil kurang imanlah yang menjadi sasaran empuk untuk ditipu. Tidak dipungkiri lagi sudah banyak pemberitaan tentang kejahatan-kejahatan dunia maya  yang memakan korban terutama korban yang kurang iman. Contoh paling hot dijagad dunia komunikasi Indonesia yaitu pesan :

“Mama minta pulsa”. Awalnya si oknum penipu mengirim pesan kepada si korban yang isinya :
“Dek, kirimkan mama pulsa 100rb ke nomor 084L4Y53K4L1. Mama lagi di kantor polisi, ketahuan selingkuh dengan tukang bakso komplek sebelah di hotel melati. Ini pake telpon nya pak polisi, jangan ditelpon dulu yaa. PENTING !!”
Syukur, si “Mama minta pulsa” benar-benar dikantor polisi jadi tersangka penipuan. Dan dari info yang didapatkan, dari sms “Mama minta pulsa” ini si oknum sudah meraup keuntungan ratusan juta rupiah. Sejenak, aku berpikir betapa bodoh dan labilnya orang-orang yang terjerat jebakan tersebut dan dengan ikhlasnya mengirimkan pulsa ke penipu itu.

Ada satu lagi tindakan penipuan yang korbannya kali ini adalah Ibuku dan setelah itu disusul oleh tante. Modus penipuan yang dialami oleh ibu dan tante aku ini hampir-hampir mirip tapi beda topik. Mungkin saja mereka berasal dari satu Clan.

Ibuk ditelpon oleh oknum penipu kalau aku lagi kantor polisi gara-gara ketahuan membawa sekantong plastik yang isinya ganja. Sedangkan tante ditelpon juga oleh tuh oknum kalo keponakannya dipenjara karena menabrak seorang nenek paruh baya sampe meninggal. Dan ending dari penipuan itu, si oknum meminta uang tebusan yang nominalnya tidak realistis buat ukuran ekonomi keluarga kami. 

                Berikut detail percakapannya antara penipu dengan Ibuk :

Penipu : Hallo selamat malam

Ibuk : Hallo juga selamat malam

Penipu : Dengan ibu siapa ? Nama anaknya ?

Ibuk : Sadikem, anak saya Jeki Purnomo kuliahnya di semarang

Penipu : Begini buk, kami dari pihak kepolisian mengabarkan bahwa anak ibu yang namanya Jeki Purnomo sedang berada di kantor polisi karena ketahuan membawa sekantong plastik ganja. Dan sekarang dia sedang diintrograsi.

Ibuk : Astagfirullah nak. Beneran itu pakk ? *Panik

Penipu : Iyaa buk, kronologinya tadi sore saat kami melakukan operasi zebra serentak se alam semesta. Anak ibu dan rekannya lewat jalan tersebut, dan dengan sigapnya kami memberhentikan mereka. Sembari memeriksa kelengkapan surat-surat kendaraan motor anak ibu, terlihat oleh kami kantong plastik yang isinya mencurigakan. Sontak kami ambil dan benar isinya itu ganja bukan gorengan. So, langsung kami bawa mereka ke kantor polisi

Ibuk : Nggak mungkin itu Pak, anak saya itu rajin sholat imannya kuat dan nggak neko2 *Masih nggak percaya dan makin panik.

Penipu : Kalo tidak percaya. Kami beri telepon ini ke anak ibu

*Terdengar suara bocah mimisan meminta tolong ke ibu gue

Ibuk : Astagfirullah le, Kamu kenapa le ? koq bisa begini ? *Sambil menangis

Penipu : Baik bu, kami akan memberikan toleransi kepada ibuk dan anak ibuk. Kami tidak akan mempenjarakannya tapi kami hanya minta sejumlah uang agar anak ibuk bebas. Nominalnya nggak banyak, cukup beri kami uang senilai 500 Juta Rupiah.

Untungnya saat meminta uang tebusan , bapak pulang kerja. Beliau mendengarkan percakapan antara ibuk dan si penipu dan langsung mematikan panggilan tersebut karna tahu kalau itu hanyalah kedok penipuan semata. Sedangkan ibuk masih panik bukan main dan seperti ingin pingsan.  

Untuk memastikan kalau aku tidak terkait dengan jaringan narkoba, bapak bergegas menghubungiku yang memang lagi di semarang menuntut si ilmu. Aku angkat telponnya, terdengar suara ibu yang masih panik dan menangis. Beliau mengabarkan kejadian yang barusan ibuk alami. Sontak aku ketawa-ketawa kecil, dan memastikan kepada kedua orang tua kalau aku baik-baik saja dan itu tidak benar terjadi. Namun, aku juga memikirkan kondisi psikis yang dialami ibuk barusan. Ibuk benar-benar panik nggak karuan, down, stress dan mengkhawatirkan keadaanku. Sedangkan aku saat itu sedang asyik main PES 2013 bareng teman  kos-an. Dari balik percakapan itu, aku memberi tahu kepada ibuk kalau ada orang yang telepon seperti itu lagi dengan maksud ingin menipu jangan diladeni kecuali itu benar-benar dari pihak berwajib.
               
Selang beberapa tahun kemudian kejadian serupa kembali terjadi namun kali ini korbannya tante. Entah tidak belajar dari pengalaman yang telah terjadi sebelumnya atau sudah terlanjur terhipnosis oleh si pelaku. Tante pun mengalami hal seperti yang ibuk alami sebelumnya. Panik, sedih, menangis dan hampir pingsan. Bedanya bukan anak kandung yang jadi bahan topik utama tapi keponakannya yang di Malang. Aku nggak tahu bagaimana detail kronologinya karena aku tahu info tersebut dari anaknya tante sendiri. Dari info yang diterima, si penipu mengabarkan bahwa keponankan tante yang di Malang itu dipenjara karena menabrak nenek-nenk paruh baya hingga tewas.
               
Nah, dari kejadian yang telah dialami oleh orang-orang terdekatku, dapat disimpulkan bahwa penipuan itu selalu terjadi dimana-dimana dan nggak kenal status, jumlah followers, jumlah like dan miskin atau kaya. Semua dilibas habis oleh si oknum penipu selama itu menguntungkannya. Tinggal bagaimana kita menyikapi tindakan penipuan itu jikalau kita sendiri yang mengalaminya. Kalau kita amat lemah dan gampang dipengaruhi, maka dengan mudahnya si oknum penipu melancarkan aksinya.

Oleh sebab itu, tetap fokus, perkuat iman dan pengetahuan kalo perlu kuasai juga ilmu-ilmu hipnosis agar kita tidak gampang ditipu oleh pelaku kejahatan. Dan satu lagi, buat teman-teman yang sedang studi di ilmu IT, hendaknya memberikan edukasi mengenai teknologi informasi terutama dunia maya kepada keluarga atau orang sekitar. Tidak hanya sisi positifnya saja tetapi dari sisi negatifnya juga agar mereka bisa mengerti baik dan buruknya teknologi informasi itu.

Sebelum gue akhiri, ada satu lagi fakta yang mau gue sampaikan :
Biasanya penipuan itu terjadi kepada pengguna provider telepon ternama di Negeri Bedebah ini.
So, Waspadalah Waspadalah !!
Sebarkan pada mereka: