Tuesday, 15 August 2017

Dunia itu Dinamis, Jangan Terlalu Statis

“Gimana, mbul ?” Bang Don memulai pembicaraan setelah kira-kira 10 menit lamanya suasana kantor yang hanya berukuran 3x4 M ini senyap.

“Nggak tau nih, bang. Kayaknya logika gue ketinggian” Jawab gue sembari memperhatikan layar komputer kepunyaan Bang Don yang dipenuhi oleh kode-kode tak jelas. Bagaikan kode yang kau berikan padaku selama ini. Cieelah, kok malah baper sih jon.

“Ketinggian? Gimana sih lo ?”

“Yaa, nggak dapet dasarnya gue bang”

“Lha kan dasarnya cuman gitu-gitu doang, mbul, belajar lagi lah!!” Balas Bang Don dengan malasnya

Yaa, tak tau kenapa otak gue benar-benar nggak nyantol dengan kode-kode yang ada di directory project yang sedang dibuat Bang Don. Beberapa tahun yang lalu, gue sebenarnya sudah mempelajari sebagian mata kuliah yang berhubungan dengan pemrograman. Sebut saja, algoritma pemrograman, struktur data, rekayasa perangkat lunak, pemrograman berbasis objek dan apalagi gue lupa. Lebih tepatnya gue nggak melanjutkannya lagi.

Programmer idaman mertua thoughtco
Dari sekian mata kuliah yang pernah gue pelajari pun, nggak ada satupun otak gue bisa menangkapnya. Payah emang otak gue nih. Dan dari sekian mata kuliah yang gue sebutkan itu tak satupun yang nyangkut di predikat C, paling bagus mah gue dapatnya D. Eh, nggak deng, gue pernah dapet B dari salah satu matkul itu. Apa yaa ? bentar-bentar gue ingat-ingat dulu deh......


4692 detik kemudian.......


Hmm, gue baru sadar ternyata emang nggak satupun matkul yang memenuhi standar nilai. Tuh kan, benar-benar payah nih otak.

Dari kepayahan gue atas banyaknya bahasa pemrograman itu, gue pun bermaksud untuk memendam dalam-dalam kalau bisa nggak bakal bisa digali lagi itu mimpi untuk menjadi seorang programer dari keluarga tukang bakso. Yahh, dulu nih, sedikit curhat ajah, selepas dapat kabar kalau gue keterima di jurusan ilmu komputer, gue bermaksud punya mimpi untuk membuat sebuah sistem embedded untuk grobak bakso supaya Bapak gue nggak perlu repot-repot ndorong gerobak keliling langgananannya.


Hmm, mulia sekali niatmu nakk.....


Yasudah lah, mungkin Semesta punya maksud lain buat gue untuk kehidupan lainnya yang lebih bermanfaat bahkan kalau bisa bermanfaat untuk umat manusia di sekitar gue. Nggak perlu kejauhan menjadi orang bermanfaat untuk satu nusantara. Cukup dari hal-hal kecil saja maka waktu akan memberikan dampak yang lebih besar lagi. Eh ehh, kok malah nglantur gini sih.....

Dari latar belakang yang udah gue alami ini, gue pun beralih ke hal yang lebih menggairahkan otak gue supaya nggak perlu lagi banyak-banyak minum paramex. Yaap, gue pun pindah haluan ke sesuatu yang lebih keren, lebih memunculkan suatu kebanggaan ketika beredar di khalayak dunia pergulatan internet. Hal itu adalah web design.

Yap, gue pikir itu suatu keputusan tepat untuk gue berpindah haluan. Meskipun masih akan bertemu ke hal-hal yang berbau pemrograman seperti yang gue alami saat ini. Oh, Semesta kenapa hidup gue nggak jauh-jauh dari namanya kode-kode yang nggak jelas ini.....

“Mbul, sekarang ini dunia udah beralih ke mobile. Segala aktifitas dunia maya mereka nggak lagi bergantung ke komputer ataupun laptop. Lo tau aja, barang kecil ini, lebih gampang dibawa kemana-mana. Sehingga mereka lebih mudah mencari maupun mendapatkan informasi dimana saja selagi posisi mereka masih terjangkau koneksi internet. Dari hal itu, sebagai seorang yang bekerja di dunia ini, mereka harus berkembang dan cepat tanggap mengatasi fenomena ini.”

“Lo ngerti kan saat ini kebanyakan website ngasih fitur responsivenya ? itu karna traffic pengunjung lebih banyak dari gadget sekecil ini. Yaa, orang-orang seperti kita ini harus pandai dan cerdas dalam mengikuti pasar yang sekarang.”

“Gue harap lo bisa belajar, nggak cuman ngerti aja tapi juga perlu dipahami bahasa ini. Saat ini kita kebanyakan order, gue sampe kwalahan bikinnya. Jadi, gue mau lo belajar supaya nanti lo bisa bantu bikin nih aplikasi.”

Dari panjang lebarnya omongan Bang Don, gue hanya bisa mendengar dan meresapnya ke dalam pikiran gue. Emang apa yang dia katakan itu benar, sangat benar malahan. Kalo gue hanya berkutat ke hal-hal yang berbau design buat web ini, kehidupan gue ke depannya nggak bakal lama. Paling cuman 2 atau 3 tahun lagi gue bakal terkubur dari pesatnya perkembangan teknologi saat ini.

“Siap grakk Bang Don, gue bakal belajar lebih keras lagi”

“Jangan ngomong doang, buktiin ntar ke gue”

Okee siap, Master Bang Don. Gue bakal melaksanakan nasehat lo, dan ntar gue bakal buktiin kalo kepala gue saat ini udah mau pecah. Duhh gusti, bantulah otak hamba ini.

“Ada lagi nggak ? Gue mau mandi nih” Tanya Band Don setelah ruangan yang tak patut disebut kantor itu sempat sunyi senyap.

“Gue mau Magrib dulu. Ada kan sajadah di kamar lo ?” Balas gue sambil memainkan kedua tangan ini untuk menaikkan separuh celana panjang yang gue pakai.

“Bentar gue siapin dulu”

Secara bersamaan dan tak sempat gandengan tangan layaknya pasangan-pasangan yang sedang menikmati sabtu malamnya, gue dan Bang Don menyusuri tangga menuju ke lantai 1. Disana gue mengarahkan badan menuju kamar mandi, sedang Bang Don lebih memilih masuk ke kamarnya. Syukur badannya nggak ketarik oleh magnet yang gue pasang di selangkangan gue dan syukur pula gue bisa nyaman bermain-main dengan air mancur yang muncul secara sengaja dari selangkangan ini.


Ehh kok malah rada porno sih jon!!!!


Selepasnya gue putuskan buat pulang, lebih tepatnya menuju angkringan terdekat untuk menikmati sabtu yang semakin malam ini. Di sebuah angkringan sederhana itu, yang hanya terdapat satu kursi panjang dan sedang diduduki oleh seorang pemuda yang sedang bimbang dalam memutuskan pilihannya nanti. Tetap bertarung di dunia ini atau beralih ke hal lainnya, yaa sebut saja yang sedang gue lakukan di blog gue ini.

Ah, untuk apa dipikirkan secepat itu, sekarang waktunya gue untuk sendiri bertemankan kopi panas nun pahit ini beserta sebatang rokok yang sedang dihisap mengikuti irama kehidupan yang telah gue lalui selama ini. Tak lupa pula, sang empunya angkringan yang penuh canda tawanya membuat gue lupa bahwa sampai detik ini, gue masih saja melalui sabtu malam tanpa seorang pendamping.
Sebarkan pada mereka:

0 comments:

Post a Comment