Wednesday, 20 September 2017

Homestay Part 02

Sedang senyum sendiri kala mengingat semua itu, Purnama di Oktober 2016

Malam menyapa, Bukittinggi menggelap. Dipayungi langit hitam berhiaskan bintang – bintang. Ada di ujung timur sana bulan yang sedang purnama. Terang dan sentantiasa menerangi bumi yang gelap ini. Para katak berdendang, sekumpulan jangkring bersuara, beronggok – onggok ikan bermainkan air, dan para manusia di rumah ini berisik. Membuat rumah bermodelkan seperti rumah panggung ini dinaungi keramaian yang mungkin tak akan ramai jika tak ada kami.

Yaa, kami para manusia yang ditakdirkan untuk bergabung dalam satu kelas bernama 12 IPA 5. Kami yang meniduri rumah milik keluarga teman kami untuk itu yang namanya Homestay. Kami yang baru saja menjelajah dan menelanjangi Bukititinggi. Menduduki, memakan, menjarah, serta memotret setiap sudut kota yang disinggahi. Dan sekarang masing – masing kami sedang letih, memilih tempat yang disukai untuk sekedar beristirahat.

Aku sedang duduk di atas kursi, menatap tajam ke layar laptop bergambarkan makhluk – makhluk kecil bergerak merebut bola, itu namanya game PES 2013. Tanganku sibuk memencet tombol – tombol yang ada di joy stick. Meng-instruksi-kan tim pilihanku untuk segera merebut bola dari lawan kemudian menjebloskannya ke gawang yang di jaga ketat oleh kiper.

Tentunya aku tidak sedang bermain sendiri, disampingku ada Ijep yang juga berperilaku sama denganku. Aku, Ijep, Tim arahanku dan Tim asuhan Ijep bersaing untuk memenangkan pertandingan ini. Aku sebut pertandingan antara 2 lelaki yang ingin mempertahankan gengsinya. Gengsi sebagai pemain PES 2013 terhebat se-kelas.

Aku lirik ke sudut kiri layar, waktu sudah memasuki menit ke- 86. Aku tertinggal 2 gol dari tim arahan Ijep. Di dunia game, ketertinggalan ini sangat tidak mungkin untuk dibikin sama atau bahkan membalikkan keadaan. Beda cerita kalau di dunia nyata sepakbola. Real Madrid saja mampu berbalik jadi unggul ketika bersua Atletico di Final Liga Champion Eropa 2013.

Aku pasrah saja, sudah tahu akan dilanda kekalahan. Menyudahi pertandingan ini untuk aku pergi entah kemana. Yang kemudian digantikan oleh Fardi. Masih ada Ijep untuk dilawan Fardi. Itulah peraturan kami, yang kalah keluar, sedang yang menang tetap bermain. Enak sekali ya yang menang terus, jadi tak ada henti untuk terus bermain. Itulah Ijep kala itu.

Aku keluar, berjalan menuju halaman rumah. Halaman yang ada persis di samping rumah. Tak begitu lapang. Sederhana. Hanya hamparan tanah yang dipinggirnya tertanam jejeran batu. Kalau siang, di sebelah halaman ini, kalian akan menemukan taman kecil bertanamkan bunga – bunga kesukaan pemiliknya. Sayang, saat itu malam, jadi tak kelihatan jelas.

Disana ada Dino, Tomi, Siti, Putri, Fira dan entah siapa lagi aku lupa. Pokoknya ramai. Diantara mereka ada setumpuk kayu bakar yang belum akan dibakar. Nanti katanya. Sengaja begitu karena kami yang punya kerjaan. Ada bakar jagung disini. Tapi itu nanti kalau bumbunya sudah rampung dibikin Tika di dapur.

Mereka melagu, pengiringnya Dino dengan gitar yang dibikinnya berbunyi. Duduknya acak, tak ada aturan harus duduk seperti apa. Terserah saja, yang penting asyik. Aku gabung, duduk disana beralaskan batu yang telah tertanam lama. Disampingku ada Dino yang masih sibuk mempermainkan gitar. Aku jadinya ikut melagu, namun sebentar saja. Itu karena sudah selesai.

“Nah Jek !! gilaran lo sekarang yang gitaris”  Eh ? Aku ? Aku gitu yang gitaris ? Ah ada – ada aja ini Si Dino.

“Ha ? Nyanyiin apa ? Nggak ngerti” Jawabku begitu. Abis bingung mau iringi lagu apaan, aku pun tak punya pengetahuan banyak chord lagu – lagu.

“Terserah. Yang jelas hibur kami”

“Sini !”

Aku meminta gitar yang ada di Dino untuk aku yang peluk. Tentunya bersiap untuk memainkan chord lagu yang sudah hapal di luar kepala.

"Put ! Pindah !" Seru Dino ke Putri yang memang sedang duduk di sebelah kanan Dino. Menyuruhnya untuk berganti posisi, membuat aku jadi bersebelahan dengan Putri. 

Eh ? Batinku

Aku akui Dino pintar sangat membentuk suasana yang tadinya bebas berganti tegang. Mungkin hanya aku yang tegang. Aku lirik ke teman - teman lainnya malah memunculkan raut muka kegirangan. Ciee Ciee bertebaran, terlihat oleh mereka ada seorang lelaki yang itu aku sedang siap untuk melagu duduk di samping makhluk Tuhan berjenis perempuan punya nama Putri.

Kalau teman cewek lainnya aku mah biasa saja. Teman - teman juga begitu, biasa saja, tak ada yang istimewa. Bedanya di sampingku ini Putri, perempuan yang pernah hinggap di hatiku. Dan lalu aku memilih berjarak dengannya hingga jarak itu terputus dalam sekejap bergantikan kedekatan. Dekatnya sangat, cuma terpaut beberapa centi saja. Yang jelas bikin aku kaku. Mungkin tepatnya jadi salah tingkah.

"Laguku seru nih !" Timpal Fira yang kemudian di - iyakan oleh mereka semua yang ada di halaman itu. Ah, bikin aku berkeringat dingin nih. Oh iya, maksud dia punya kata itu lagu yang judulnya Laguku, punya band berwarna Ungu.

"Buruan Jek !!" Sambung Tomi, memintaku untuk segera membunyikan gitar itu.

Terpaksa, dengan dipaksa oleh teman - teman juga dipaksa oleh jari - jari tanganku, aku jadinya terpaksa memainkan laguku. Menghibur mereka yang sepertinya kurang asupan momen romantisan seperti malam ini. Malam yang dimana aku jadinya nyanyi berdua saja dengan Putri. Sedang mereka, tak ikut melagu, memperhatikan saja tingkah laku kami berdua.

Yang selama setahun belakangan tak pernah berkata apalagi saling menyapa. Diam saja satu sama lainnya. Kini, disaksikan oleh mereka, disaksikan oleh setumpuk kayu yang belum akan dibakar, disaksikan pula oleh bintang - bintang yang senang menyinari, meskipun aku dan Putri masih tidak saling berbicara. Namun lewat lagu inilah mungkin itu yang sedang kami berdua rasa. Kami yang sedang saling masih menyimpan cinta, namun tak ada nyali untuk memperbaiki hubungan yang sempat tak jelas.

Ah, kenapa jadi sendu gini !?

Ketahuilah teman - teman, sebelum ini, maksudnya sebelum akan berangkat homestay ke Bukittinggi. Aku sedang dan sudah menyiapkan serangkaian kata - kata yang nantinya akan aku ucapkan di hadapan Putri. Sederhana saja, tak panjang lebar, hanya sebatas permintaan maaf saja. Maaf atas apa ? Maaf atas ketidakjelasan tingkah laku-ku selama setahun belakangan ini. Itu saja, tak ada lagi imbuhan - imbuhan yang bermakna mengajak balikan.

 Yaa, kalau kamu yang tidak sedang bersamaku selama di kelas mungkin tak tahu. Namun bagi mereka - teman sekelasku, mengetahui bagaimana ketidakjelasan sikapku dalam memperlakukan dia, maksudnya Putri. Tidak jelas karena tak saling menyapa, tak saling berkata, pastinya tak saling memperhatikan. Padahal sebelumnya aku dan dia pernah saling mesra serta aku dan dia yang pernah dalam satu ikatan yang dikenal dengan pacaran. Itu yang jadi tanda tanya besar. Kenapa jadi begitu ? Kenapa jadi begini ? Kenapa jadi begono ? Yang pasti hanya aku dan Tuhan yang mengetahuinya.

Ada sih mereka punya niat mendekatkan kami berdua lagi. Namun, semua tindakan yang mereka lakukan di kelas itu hanya aku anggap angin lalu saja. Tak digubris lah jelasnya. Dan naasnya, perjuangan mereka - aku sebut begitu - berhasil ketika di malam ini, dimana hanya kami berdua saja yang jadinya melagu. Meskipun selepas itu tak berucap satu sama lain. Aku pun urung segera membuat aksi atas rencana yang sudah aku siapkan.

Tak selang lama, Putri kembali ke dalam rumah, memilih bergabung dengan teman lainnya yang ada di ruangan. Sedang aku masih di sini, bersama Dino dan Tomi yang mulai mencoba usaha membakar setumpuk kayu ini.

"Gimana ? Seru kan ?" Ledek Dino dengan ketawa liciknya. Ketawa yang seakan - akan malam itu dia sedang menang.

"Gara - gara lo nih !" Aku begitu, diikuti sikut yang meninju perut Dino.Tak keras sih, mungkin lebih tepatnya menyenggol saja.

"Hehehe, ada lah rencana buat balikan ?"

"Ah, nggak kepikiran, cuy"

"Sekarang aja nggak, nanti mah jadi kepikiran"

Sudah, Din. aku mohon sudah, hentikan drama ini. Lebih baik kita bersegera membakar tumpukan kayu ini. Untuk nanti, yang sebentar lagi dibuat jagung bakar. Bakar bareng - bareng, makannya pun bareng - bareng di halaman rumah ini. Terserah mau duduk atau mau berdiri. Sesuka kita saja, yang penting asyik dan sedang berkumpul.

Seperti itulah, momen yang menyenangkan di suatu malam Bulan Mei 2013, saat aku dan teman - teman kelasku menyantap jagung bakar bersama - sama. Sungguh sederhana sebuah momen yang tak dapat dilupakan dan akan selalu tersimpan dalam ingatan

https://scontent-sin6-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/944152_502469556475638_968111230_n.jpg?oh=e1466ca395371139cb720b16c090b5c1&oe=58A04D4E


Sebarkan pada mereka: