4 Mei 2016
Minggu adalah hari libur untuk seluruh umat manusia yang
pakai kalender masehi di bumi ini. Minggu adalah hari yang bebas untuk
melakukan kegiatan apa saja karena itu hari libur. Tak ada yang berani
mengganggu gugat, termasuk deadline dari si bos. Minggu adalah hari bebas mobil
di jalan protokol kota. Di jalan lainnya mah tetap ada. Hari bebas mobil dibuat
untuk memfasilitasi masyarakat dalam berolahraga atau kegiatan lainnya selagi
itu ramah lingkungan.
Namun bagiku, minggu adalah hari yang paling menyebalkan.
Kenapa ? yaa, karena itu libur. Aku
tidak punya kewajiban yang dikerjakan. Mengisi waktu hanya dengan kesia-siaan. Semisal,
menonton tivi, tidur, baca buku, menonton tivi lagi, tidur lagi, makan jangan
lupa. Mandi mah tak usah, biar kita punya air hemat.
Hari minggu di pagi yang segar ini, aku bangun dari tidur
yang lumayan panjang. Itu karena pelampiasan dari 2 malam sebelumnya yang tak dapat jatah tidur. Aku beranjak dari kasur segera, mau ambil wudhu lalu sholat shubuh.
Wajib aku begitu, jangan sampai tidak, nanti marah sangat Tuhan. Ingat !!
Sholat Shubuh itu 2 rakaat, niatnya "sengaja
aku sholat wajib shubuh dua raka’at menghadap kiblat karena lillahi ta’ala".
Jangan dibikin niat yang lain, apalagi niat karena pacar. Sudah kubilang tadi,
nanti marah sangat Tuhan.
Aku menuju halaman rumah, sekedar menghirup udara pagi yang sudah beberapa hari ini tak kudapati. Aku
hirup itu oksigen sepuasnya selagi masih disubsidi Tuhan. Kalau sudah tidak,
bayarnya mahal, bisa puluhan juta per tabung. Bayarnya tidak ke Tuhan, tapi
manusia yang dagang oksigen. Walaupun sudah hirup udara segar di pagi, aku
masih merasa ngantuk. Ngantuk sangat dan tak bisa ditahan.
Tidur lagi, ah batinku.
Aku kembali menuju kamar, memeluk guling hingga terlelap. Jangan kamu bangunkan, biar aku
bangun sendiri. Kecuali yang bagian lainnya dari aku harus kamu bangunkan, entah
itu gimana caranya kamu.
Aku lihat, aku tidurnya nyenyak sekali tapi tak
sampai ngorok, ngeces iya. Wajar saja, kan masih terasa capek. Aku bangun gara-gara bangun sendiri. Abisnya kamu tidak mau
bangunkan aku. Aku bangun di jam 7. Itu jam 7-nya pagi bukan jam 7 malam, aku
juga tidak mau lama-lama, takut bosan nanti. Aku melangkahkan kaki ke ruang tamu untuk nonton tivi,
disitu juga sudah ada Si Sulung yang sedang lihat tivi. Nontonnya acara kuliner, acara kesukaanku. Lihat manusia dibalik layar tivi itu bikin aku pengen.
“Bikin pengen aja” Celetukku. Tak punya harap dibalas oleh siapapun.
“Lah ? Pengen yang mana, bang ?” Balas Si Sulung yang dia kira aku punya pikiran kotor.
“Makanannya lah ! Masak itu mbaknya !?”
Meskipun cungkring dan tak tahu diri. Aku ini tetaplah manusia baik-baik, kamu pun
harusnya sudah tahu itu. Tak akan punya pikir buat apa-apain si Mbak yang
sedang makan enak. Lagian aku tidak bisa menggapainya, kan dia ada dibalik
layar tivi. Posisinya pun aku tak tahu dimana. Kalau pun tahu, dan kebetulan
ada disitu, lain lagi ceritanya. Astagfirullah,
janganlah aku begitu, bukan muhrimnya,
marah Tuhan nanti.
Aku sudah tak tahan lihat orang makan, jadinya aku juga
ikut makan. Hanya saja menunya beda, aku makan nasi sama oseng tahu, si
mbak didalam tivi itu makan pakai apa itu namanya tidak tahu aku. tak jelas bentuknya, tapi dikatanya enak. Tempatnya juga, aku di dalam rumah, yang di dalam
tivi didalam restaurant.
“Cuy, ayo ikut gue!” Ajakku ke Si Sulung dari dalam kamar sedang ganti
pakaian. SI Sulung masih di depan tivi.
“Kemana ?”
“Jalan-jalan”
“Jalan-jalannya kemana ?”
“Ah ! Usahlah lo banyak tanya ! Ikut aja !”
“Ayukk deh”
Si Sulung masuk ke kamar buat ganti
pakaian sedang aku keluar kamar buat panaskan mesin motor kesayangan. Biasalah, tiap
pagi atau akan pergi pakai motor, aku biasa begitu. itu sama halnya dengan
pemanasan sebelum olahraga tujuannya biar mesin pada motor tak kedapatan kontraksi otot,
tegang, atau pun keram nantinya.
“Mau kemana, le ?” Tanya Mbah Putri yang sedang duduk dibangku
teras.
“Jalan-jalan, mbah” Aku balas dari
atas jok motor yang mau ditancap gasnya.
“Mbahe nitip”
“Titip apa, mbah ?"
“Titip jeruk sama es kelapa muda ya ?"
“Iya kalo ingat, hehe”
Selepas mengiyakan permintaan Mbah Putri, aku tancapkan gas
motor. Membuat dia bergerak menuju ke yang aku arahkan. Dibelakangku, tepatnya
diboncengan pasti ada Si Sulung. Aku arahkan itu motor ke
timur, ke arah Tawangmangu inginku.
Di perjalanan aku tak ngebut, cepatnya
cuma dijarum 40 KM/JAM. Sengaja tak dikebut karena aku maunya nikmati
pemandangan yang ada di jalan dan dipinggirnya. Aku juga sengaja pilih jalan
tengah desa, tak di jalan kota. Tujuannya lihat aktivitas manusia desa di
hari libur juga untuk lihat pemandangan asri persawahan.
Di tengah jalan, ada
aku lihat mbah-mbah sedang cabut rumput buat makan sapi mungkin, ada bapak-bapak
sedang kerja bakti bersihkan bandar juga rumput, ada anak-anak sedang bermain
sepeda, ada juga ibuk-ibuk yang sedang nandur pari.
“Berhenti dulu ya !?” kataku ke Ongky yang mau berhentikan
motor ke pinggir jalan.
“Ngapain ?”
“Nanti lo juga tau sendiri”
Aku pun berhentikan motor kesayangan tepat di pinggir jalan,
pinggirnya lagi ada sawah yang masih hijau membentang luas. Disitu juga ada mbah-mbah
seorang diri sedang mencabuti rumput pakai arit. Pisau jangan, mana bakal tajam dia.
Aku beranikan ngomong ke itu Mbah pakai bahasa jawa kromo. Biarpun tak begitu mahir, setidaknya sedang belajar untuk bisa.
“Permisi mbah, Desa Ngemplak itu dimana ya ?” Aku tanya dengan
mimik kebingungan ke si Mbah.
“Ohh, Ngemplak”
Balas si Mbah yang entah emang tahu atau sok tahu.
“Iya mbah”
“Dari sini ikutin jalan ini ke arah selatan”
“Yap”
“Nanti ketemu pertigaan kan, mas-nya terus lurus aja. 3 desa dari pertigaan itu, baru ketemu desa Ngemplak”
“Iyaa, mbah. Oh ya, kalau yang kutukan jalannya gimana ya, mbah ?” Tanyaku lagi. Kali ini berganti daerah.
“Kalau Kutukan utaranya Ngemplak, mas. Dari Ngempak mas-nya jalan ke arah barat. Nanti ketemu jalan raya, terus belok kanan. Lurus aja, kalau jumpa perempatan. berarti mas sudah di Kutukan”
“Rumahnya Pak Jaimen tau, mbah ?”
“Wahh, nggak mudeng mas”
“Katanya deket lapangan Kutukan gitu hlo, mbah”
“Nggak tau, mas”
“Yahh, tak kira Mbahe tau" Aku memberikan raut muka kecewa atas ketidaktahuan Si Mbah.
“Maaf mas. Mbahe bener - bener nggak tau”
“Yaudah deh, mbah. Aku mau ke Tawangmangu aja. Makasih sebelumnya yaa, mbah. hehehe”
Aku berlalu meninggalkan Si Mbah yang kembali mencabuti rumput. Sepintas aku lihat mimik muka Mbah itu yang berubah menjadi kebingungan. Kalau aku diberi anugerah oleh Tuhan untuk membaca pikiran orang. Mungkin Si Mbah itu berkata dalam hatinya "Dasar wong edan".
Aku tak peduli, aku pergi kembali bersama motor kesayangan dan Si Sulung diboncengan. Di jalan, Si Sulung ketawa bukan kepalang, tidak ada jedanya hingga puluhan meter. Aku pun juga ikut ketawa tapi tak pula terbahak-bahak. Kamu tahu tak alasannya Si Sulung ketawa ? Jelaslah tidak tahu, kan kamu kira tadi aku tanya ke Mbah-mbah itu seriusan. Sedangkan Si Sulung tidak, dia sudah tahu kalau aku sebenarnya tahu dimana daerah yang aku tanyakan tadi. Dan dia sudah tahu kalau aku hanya mengusili si Mbah tadi.
Bagaimanapun aku tak punya niat mempermainkan si Mbah tadi. Semata-mata
hanya ingin mengajak ngobrol Si Mbah. Kasian, Beliau sendirian, tidak
ada teman bicara pun. Namun jikalau Si Mbah berkata lain, mungkin tak suka hati dengan permainanku ini. Maka maafkanlah daku atas kejahilan ini Mbah. Daku tak punya maksud atas apa yang mungkin Mbah pikirkan. Dengan penuh harap, semoga Mbahe mau memaafkan kekhilafan daku ini. Daku tak mau dibakar api Neraka Jahanam dikarenakan mengusili Si Mbah dan Mbahe tak mau memaafkannya.
---
Aku bawa motor bergerak ke arah matesih menuju tawangmangu. Jalannya
bukan yang Karangpandan namun yang punya jalan Matesih. Terus aku bawa motor dengan
jalanan yang mulai berbentuk banyak naik, banyak belokan, sedikit turunan dan hanya beberapa meter saja jalanannya lurus. Dipinggirnya ada pemandangan alam yang sungguh mengenakkan mata. Tak
bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Kamu kesana deh biar tahu gimana bentuk rupanya.
Sampai dipertigaan, kalau lurus ke pasar Tawangmangu, kalau
kiri ke arah Solo. Aku ambil saja ke kiri. Masih enggan buat lurus, lagipula tujuannya
cuma jalan-jalan mengelilingi kota. Yang di jalan ini, beda sama jalan tadi. Jalan
ini banyak turunnya, tak ada naik. Kalau naik putar balik dulu ke arah
Tawangmangu. Dan juga disini berbelok-belok, tajam pula, tapi tak setajam
silet. Tak bikin luka ditubuh, kecuali kamu sengaja tabrak kendaraan yang
didepan. Lain lagi ceritanya.
Ditengah jalan, itu sudah lewat karangpandan, aku
sengaja matikan mesin motor tepat di depan warung makan. Jelaslah, aku makan, perut
juga keroncongan.
“Belum mandi tapi sudah makan dua kali” Si Sulung melontarkan candaan. Aku ikut ketawa terlebih itu yang sedang kami alami.
“Tetep ganteng”
“Itu kalo pake kemeja, celana jeans, sepatu keluaran brand ternama, parfum paris, sama rambutnya di pomade biar klimis. Lha kalo ini ? Kaosnya oblong, ada bercak iler. Terus celananya jens pendek, diujungnya ada bekas dipotong pula”
“Tetep ganteng”
“Itu kalo pake kemeja, celana jeans, sepatu keluaran brand ternama, parfum paris, sama rambutnya di pomade biar klimis. Lha kalo ini ? Kaosnya oblong, ada bercak iler. Terus celananya jens pendek, diujungnya ada bekas dipotong pula”
“Bodo !! Masih ganteng pun”
“Sendalnya sendal jepit yang ditapak ada bekas permen karet”
“Haha, pake apun juga, akui saja kalo kita berdua ini tetaplah lelaki terganteng di warung ini”
“Yaiyalah, wong cuma kita aja yang punya batangan"
0 comments:
Post a Comment