Matahari enggan memperlihatkan semangatnya pagi ini. Awan pekat yang membungkus langit ibukota provinsi-lah penyebabnya. Disertai hujan yang sedari shubuh tak kunjung reda. Malah makin deras. Bagi kebanyakan orang, pagi ini mungkin menyebalkan. Wajar saja, mereka kesulitan memulai aktivitas baik itu yang bekerja, sekolah ataupun yang mau berbelanja. Terlebih yang tak punya kendaraan.
Beda hal denganku. Buatku, inilah suasana yang paling mantap untuk
menghabiskan waktu liburan. Bukan untuk berselimut di atas kasur tapi menikmati
segelas kopi mandailing ditemani sepiring gorengan buatan istri tercinta. Tentunya
duduk santai di teras rumah sambil menikmati pemandangan yang ada
didepan mata.
Sejak Jokowi memimpin Negeri ini untuk kedua kalinya, aku belum
pernah menikmati hari seperti ini. Hari – hariku hanya diisi dengan melatih,
melatih dan melatih. Membuat pikiran sering dilanda stress. Otak’e kopyor kata orang punya suku Jawa.
Terlalu sibuk memikirkan perkembangan klub dibanding kebahagian diri walaupun
itu sederhana. Seperti pagi ini. Beruntungnya, terhitung mulai sore kemarin, aku
bebas dari segala tanggung jawab kepelatihan. Tidak ada lagi beban dalam
pikiran. Tidak ada lagi teriakan kesal dari pinggir lapangan. Tidak ada lagi
coretan-coretan strategi di papan. Bisa berkumpul berbagi kebahagiaan bersama
keluarga. Itulah yang kuinginkan.
Terang saja, ada satu klub dari pulau seberang yang sudah
mengajukan penawaran. Klub ternama dari timur Jawa. Gaji per pekannya sanggup membeli satu unit motor matic, gelontoran
dana diberikan untuk mendatangkan pemain-pemain hebat dan berkualitas negeri ini. Didukung
pula dengan fasilitas-fasilitas penunjang klub yang berkelas. Menggiurkan sih, tapi
aku sama sekali tidak tertarik. Terutama
dari segi visi dan filosofi bermain. Lebih baik aku menghabiskan waktu
istirahat ini bersama keluarga tercinta, sampai ada penawaran dari klub
profesional lainnya yang membuatku jatuh hati.
Bagiku, prestasi tidak selamanya bisa dibeli dengan uang. Memiliki
pemain - pemain hebat dan berpengalaman juga tidak selamanya bisa membawa klub
tersebut menjuarai liga dengan mudah. Pondasi
suatu klub bisa berjaya itu dinilai dari pengembangan pemain mudanya. Setidaknya,
memiliki pemain – pemain muda terlebih lagi berbakat, menjadikan aset masa
depan bagi klub tersebut. Sebut saja, FC Barcelona, klub yang sering digunjingkan
sebagai klub dari planet lain. Sulit dikalahkan. Mereka bisa sekuat itu berkat
bakat pemain – pemain didikan akademinya seperti Puyol, Alba, Sergio Busquet,
Xavi, Iniesta hingga pemegang rekor ballon d’or terbanyak Lionel Messi. Sukses itu bukan dengan cara instant, membuang - buang duit untuk beli pemain berkelas. Tetapi, kesuksesan itu bisa didapatkan dengan cara membangun pondasi yang kuat yaitu akademi. Meskipun membutuhkan proses dan waktu yang cukup panjang.
“Yah, antar aku ke sekolah !”
Aku terkesiap dengan suara anak kecil yang menghampiriku
dari belakang. Tegukan kopi terakhir, hampir saja menyembur ke arahnya. Mujur,
tak jadi. Kalo iya, sudah habis aku dimarahi istri.
Si kecil yang mengagetkan itu, kini berada dihadapanku. Terkesima
aku melihatnya. Tubuh mungilnya dibalut seragam putih merah, dasi merah yang
hanya sedada terpasang rapi di kemejanya, rambutnya klimis belah tepi dan jam
sporty dilengannya semakin terlihat gagah seperti ayahnya. Tak disangka, anakku
sudah besar. Aku terlalu sibuk bekerja, sehingga lupa perkembangannya. Kini
malaikat kecil itu sudah menginjak kelas 1 SD.
“Ayoo !! nanti terlambat, yah !!”
Baiklah nak batinku.
Aku beranjak dari kursi nyaman ini, meninggalkan sisa ampas
kopi dan piring kosong di atas meja. Berjalan mengarah ke garasi yang sudah
terbuka. Kurogoh kunci mobil yang ada di dalam saku kemeja, diteruskan dengan
membuka pintu mobil kesayangan corolla dx ’95. Si kecil yang membututiku dari
belakang juga masuk ke dalam mobil. Aku hidupkan mesin mobil tua itu biar hidup.
Semoga saja tidak kumat.
Hahaha ternyata
suaranya tetap merdu.
Tak lama setelah memanaskan mesin mobil. Melajulah aku
menuju sekolah yang hanya berjarak 5 km. Ditemani jatuhan air dari langit yang
menghujam mobil kami. Kurang lebih 10 menit kami melaju di tengah jalanan pusat kota
Padang. Masih sepi, hanya beberapa kendaraan yang berlalu lalang.
Tibalah kami
di depan gerbang sekolah. Kulihat ke langit, hujan masih lebat, payung pun
tidak punya. Alhasil sebagai ayah yang peduli, aku antar si kecil ke dalam
kelas dipayungi sweater-ku. Tak apalah basah, yang penting dia terlindungi.
Sehabis mengantar anak, aku meluncur ke arah restoran cepat
saji di kawasan jalan protokol. Bertemu kawan-kawan lama, kawan SMA tepatnya. Sekalian
sarapan ronde kedua. Kulihat sekilas jam casual yang terikat di lengan. Masih ada
waktu 15 menit. Kecepatan mobil aku pelankan jadi 40 km/jam, agar bisa
menikmati perjalanan. Biar tak sunyi, kunyalakan musik khas Band idola semasa kuliah
dulu, Blink 182. Ada lagu bored to death didalamnya. Tampang boleh tua, gairah tetaplah
muda.
Di sepertiga perjalanan, tiba – tiba handphone-ku berdering.
Panggilan pertama tidak aku hiraukan. Terlebih lagi sedang mengemudi. Setelah
itu panggilan - panggilan selanjutnya
begitu intens, kuhitung sudah 4 kali. Sampai-sampai pahaku ikut bergetar.
Batinku
bertanya – tanya, sepenting apakah panggilan
ini ?
Bergegaslah aku pinggirkan mobil tepat di depan sebuah toko
ritel. Aku berhenti disitu. Kuambil handphone yang sedari tadi mengganggu
perjalanan di dalam saku celana. Kulihat layar handphone tersebut tertulis jelas
Tua Bangka Calling. Sekali lagi, aku
masih bertanya – tanya ada apa si tua ini
menelpon ? Daripada mati penasaran,
ku angkat panggilan itu. Sebelumnya aku pasangkan dulu headset untuk
ditempelkan di telinga. Supaya tak menganggu perjalanan nantinya.
“lama sekali kau angkat teleponku !” Pak tua itu terlihat
kesal kepadaku dengan gaya bahasa inggrisnya yang sangat fasih.
“aku sedang mengemudi. Ada apa ?” jawabku sambil fokus
menatap kedepan.
“ada kabar baik untukmu !”
Kabar baik ?
Aku heran. Begitu banyak tanda tanya dalam pikiran. Apa dia
mau menikah lagi ? kurang beningkah istrinya saat ini ? Oh Tuhan ! Ampuni lah
sifat bejat si tua bangka ini . Tampang sudah seperti penghuni neraka masih
juga belum taubat. Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus memarahinya. Biar sadar.
Ketika aku akan melontarkan satu kata, tiba – tiba dia
langsung memotongnya.
“Dengarkan aku dulu ! Pelatih kami sudah memutuskan untuk
meneken kontrak dengan klub lain. Saat ini, kursi pelatih sedang kosong. Kami sedang mencari sosok pelatih baru yang sesuai dengan filosofi tim ini. Dan aku terpikirkan kau, anak bawang dari negeri antah berantah yang sangat
berbakat. Aku ingin kau mengisinya. Datanglah, mari kita bicarakan segalanya.
Tiket pesawat biar aku urus”
Bibirku membeku, sekujur tubuhku kaku. Seperti orang mati
saja, tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Batinku bergejolak. Kesempatan
emas itu tiba. Aku terpikat, apalagi ini salah satu klub yang cukup
dipehitungkan dalam beberapa musim terakhir di tanah Britania Raya. Aku bisa
sukses disini, bahkan selangkah lagi mimpi itu terwujud. Menaklukkan si Special
One. Tentu sulit untuk menolaknya.
Disisi lain, aku sudah berjanji kepada anak dan istri bahkan
orang tua yang sudah tak sesehat dulu. Berhenti beraktivitas di dunia sepakbola
dalam setahun kedepan. Menghabiskan waktu bersama mereka. Itulah yang aku dambakan.
“entahlah. Sepertinya aku tak tertarik” balasku malas.
“Ayolah, bujang. Ini kesempatan bagus, kau bisa raih
segalanya disini. Apa niat kau istirahat itu sudah bulat ? kalaupun iya aku tak
bisa memaksanya. Tapi, jika kau berubah pikiran. Telepon aku segera atau kau
akan kehilangan momen ini. Ku tunggu kabar baik darimu”
Telepon terputus, sehabis si tua bangka itu bicara panjang
lebar. Di tengah kemudi, aku masih memikirkan penawaran itu. Bahkan sesampainya
di restoran cepat saji, yang seharusnya bersenang - senang bareng sahabat, pikiranku
tak bisa lepas dari pembicaraan di telepon tadi. Bimbang seperti abg labil.
“kamu kenapa ?” Anjang menapuk bahuku. Kaget aku jadinya.
Aku menggelengkan kepala. Aku tidak ingin masalah pribadi
dibahas di perkumpulan. Biarkan saja. Akan
ada tempatnya mencurahkan gejolak yang aku alami ini. Aku tidak bisa lama
disini. Muka masamku hanya akan memperkeruh suasana saja.
“Aku pamit dulu ya ! Ada yang harus diselesaikan” Aku
menjauh dari meja menuju parkiran.
Soal makan, biar mereka yang bayar.
To Be Continued

0 comments:
Post a Comment