Tuesday, 13 September 2016

Liburan Butuh Perjuangan


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfmmDpLkc4oOlpEao-JuqgJ7i808kMMhPtqHSZuy2qGhVMGBIS4F6mEp87VTvsOqNgP8q-UGsdompS-Qxt1ygunymPqipO76b79cDav3-KsFwrY0zePTjGXw5iFUFsdF8g9Gr3CsKfw3jH/s1600/4.jpg

Surga Tersembunyi, 27 November 2015

“Ibuk, aku pengen pulang kampung, mau refreshing abis UTS boleh yaa ?” Kataku sambil ngemis ke ibuk agar diizinkan liburan.

Dalam 2 minggu terakhir, otak-ku telah terkontaminasi bakteri e-coli akibat UTS yang soalnya melebihi ujian yang diberikan Tuhan kepada umatnya. Aku butuh sekali liburan buat menenangkan pikiran. Siapa tahu abis liburan aku memperoleh inspirasi yang tak terduga. Ataupun aku bisa menemukan jodoh ditempat liburan nanti. Ngarep banget dah

Ekspetasi hanyalah tinggal ekspetasi dan tidak berakhir pada kenyataan. Dengan cara yang sangat lembut selembut teman menikung gebetan, ibuk tidak mengizinkanku buat liburan.

“Nggak boleh. Kamukan liburnya cuma 3 hari. Jarak semarang-karanganyar itu nggak dekat hlo. Habis-habisin tenaga aja, bikin capek tahu”

Liburnya memang hanya 3 hari, tapi kalo tidak dibarengi dengan refreshing. Bisa-bisa otak-ku bocor kayak lumpur lapindo. Ibuk, anak-mu ini butuh banget liburan. Apa nggak kasihan kalo nanti tiba-tiba anak kesayangan ibuk stress mendadak gara-gara kurang piknik ? Aku terus menggerutu dalam hati, nggak berani ngomong langsung. Takutnya nanti dipecat dari keluarga ini.

Aku hanya bisa pasrah menuruti apa yang ibuk kata. Rencana liburan pun batal, lalu mau ngapain di kos sendirian ? mending meratapi nasib aja kali yaa hehe.

Yaap, benar saja selama 3 hari ini aku hanya bisa meratapi nasib yang tidak kunjung membaik. Nasib yang tidak kunjung dapat pacar hingga nasib saldo di atm kosong dan terpaksa makan indomie satu dus selama 1 bulan.

Kringgg...kringgg....kringg....

Handphone-ku mendadak berbunyi pertanda ada yang menghubungi. Aku lihat dari layar hape jadul, tertulis Si Om memanggil. Dalam batin, tumben Si Om telepon padahal biasanya buat sms aja nggak bisa karena nggak ada pulsa. Jangan-jangan ada hal yang sangat penting atau jangan-jangan ada kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Okee tenang, tarik napas dalam-dalam lalu keluarkan huhhhhh.

Aku angkat telepon tersebut

“hallo, ada apa om. Koq tumben telepon ? lagi tajir yaa ? hehe”kata aku sambil ngeledek

“kata ibuk, kamu mau pulang kampung yaa ? koq nggak jadi ?”tanya om aku pura-pura nggak tahu

“iyaa, nggak dibolehin sama ibuk om. Padahal pengen refreshing aku”

“tadi, ibuk kamu telepon aku. Dia interogasi aku. Nanyain apa kamu benar-benar jadi pulang. Kayaknya ibuk kamu curiga deh. Yaa, aku jawab yang jujur aja toh. Bilang kalo kamu nggak pulang”

“hmm, gitu toh om. Ada-ada aja ibuk nih”sahutku

“Lain kali kalo kamu pengen pulang, pulang aja. Nggak usah ngomong sama ibuk nggak apa-apa. Hidup ini nggak usah dibawa spaneng1, stress dikit dibawa liburan aja biar otak enjoy kembali.”kataSi Om menasehati.

Aku mengiyakan saja petuah-petuah yang diberikan Si Om. Aku rasa ada benarnya juga petuah dia. Tapi dalam hati kecil, aku takut bohong pada ibuk. Aku nggak mau jadi anak yang durhaka karena tidak menuruti apa yang ibuk kata. Lalu dikutuk jadi batu akik. Maklum saja, aku ini terlahir sebagai anak yang penurut. Apa yang orang tua kata, harus dilaksanakan. Buat kalian cewek-cewek diluar sana, gampang koq kalo mau jadi pacarku. Apa yang kalian minta, pasti aku berikan. Nggak percaya ? tanya aja  ke mantan – mantan ku

Bentar – bentar, emang aku punya mantan ya ? mikir keras

Sebagai seorang introvert akut, aku bingung memilih apa yang harus dilakukan. Melakukan petuah yang diberikan SI Om yang konsekuensinya secara tidak langsung telah berbohong pada ibuk atau tetap menuruti yang dikata ibu dengan akibatnya bisa saja stress karena terlalu spaneng1.


Hidup itu pilihan. Kamu harus memilih apa yang terbaik untuk hidup kamu. Walaupun itu bertentangan dengan orang tersayang.

Lama aku merenungi pilihan dan sesekali juga merenungi nasib. Aku pun memilih nasehat yang diberikan oleh Si Om. Alasannya sederhana, hidup itu nggak usah dibawa spaneng1, stress dikit dibawa refreshing aja. Maaf buat ibuk, aku terpaksa melakukan ini demi kebaikan dan kelangsungan otakku kedepan.
Waktu terus berjalan, hingga akhirnya weekend datang. Weekend ini aku memutuskan pulang ke kampung halaman buat menyegarkan pikiran yang berminggu-minggu lamanya tersumbat oleh bakteri-bakteri tidak baik di perkuliahan. Seperti yang aku kata sebelumnya, mulai hari ini aku nggak minta izin dulu ke ibuk kecuali kalo itu benar-benar penting.

Sehabis jum’atan ini, aku akan menyusuri jalanan semarang–karanganyar yang sudah berbulan-bulan lamanya tak dijamah. Seluruh persiapan telah aku kemas didalam tas ransel yang isinya jujur hanya laptop, gadget, charger dan perangkat pendukung lainnya. Aku nggak perlu bawa cawet, celana, ataupun kaos karena semua telah tersedia di rumah tercinta. Hatiku sungguh sumringah, sang pujaan hati serasa semakin dekat. Emang ada ? mikir keras lagi

Diawali dengan bismillah, aku pun mengarungi kerasnya jalanan semarang-karanganyar bersama motor matic kesayangan. Anggap saja nama motor matic aku, icha kepanjangannya iii chantikk. Alay sih, tapi nggak apa-apa. Toh motor aku nggak bakal bisa marah gara-gara aku kasih nama tersebut. FYI, itu hanya plesetan saja, sejujurnya aku beri nama itu karena aku teringat sama mantan gebetan yang hanya 5 langkah dari rumah.

Lupakan gebetan, mari kembali bahas liburan. Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan nan melelahkan, aku tiba di kampung halaman yang sangat dirindukan. Berbulan-bulan ditinggal merantau di negeri orang, tak banyak perubahan yang terjadi. Hanya ada satu yang beda, ibuk dan bapak tidak ada dirumah, mereka kembali keperantauan mencari nafkah untuk biaya kuliah anak kesayangannya.

Sehabis beres-beres dan mandi, aku bertamu kerumah Si Om yang berada persis diselatan rumah aku. Selain bermaksud untuk curhat mengenai kehidupan dikampus, aku juga mau mengajak sepupu namanya dayat buat jalan-jalan menikmati hijaunya karanganyar. Tanpa babibu, sepupuku mengiyakannya.
Malam ini, aku dan dayat merancang schedule buat jalan-jalan esok pagi. Mulai dari jogging dulu sehabis shubuh, lalu paginya bersiap mengitari karanganyar bersama si-icha. Kali ini aku memutuskan untuk jalan-jalan ke daerah ngargoyoso lebih tepatnya ke telaga madirda. Dari sekian tempat wisata hijau yang ada di ngargoyoso sepeti air terjun jumog, air terjun parang ijo, candi sukuh, kebun teh kemuning dan candi cetho hanya telaga madirda yang belum aku jamah.

---

Tepat pukul 07.00, setelah semua pekerjaan rumah telah dirampungkan. Aku dan dayat bersiap-siap menuju tempat tujuan pertama yaitu telaga madirda. Sepanjang perjalanan, aku menikmati kesejukan yang sudah lama aku rindukan. Kanan kiri persawahan hijau membentang luas sesekali burung gereja berkicau merdu. Jalanan naik turun berbelok-belok yang semakin memacu adrenalin. Semua itu yang lama sudah tidak aku rasakan kali kembali terasa. Ohh bahagia itu sungguh sederhana.

Tiba-tiba kenikmatan itu memudar berubah menjadi ketegangan ketika dayat me-rem mendadak tepat dibokong truk fuso. Huhhh, hampir saja icha menusuk truk fuso dari belakang. Aku berusaha tenang, dayat nggak karuan. Dia minta duduk diboncengan, aku yang harus mengendarai icha.

Setelah melewati berbagai kenikmatan dan satu ketegangan, kita sudah masuk ke kawasan wisata sukuh-cetho. Perjalanan dari gapura yang satu ini ke gapura berikutnya tidak lah sulit karena dari dulu aku sudah sering main kesini. Tapi, yang jadi masalahnya sehabis gapura kedua harus belok kemana ? aku teringat pepatah malu bertanya sesat dijalan, aku pun menanyakan kepada petugas yang memungut retribusi masuk kawasan wisata. Dari info yang diberikan, letak telaga madirda tidak jauh dari air terjun jumog, hanya dengan mengikuti jalan yang mengarah ke atas dan percabangan jalan pertama belok kiri akhirnya kita temukan papan penunjuk menuju Telaga Madirda.

Kedengarannya gampang, tinggal lurus terus nanti ketemu pertigaan belok kiri. Yaa gampang dalam pikiran, kenyataannya sulit. Aku tidak menemukan percabangan jalan yang ditunjukkan petugas tadi. Entah itu terlewatkan atau belum, aku nggak tahu, aku hanya terus mengendarai motor hingga ke arah yang nggak tahu ujungnya dimana. Hingga aku dan dayat menemukan sebuah warung kelontong, disitu aku berhenti jajan cemilan gara-gara belum sarapan dan menanyakan ke penjual petunjuk arah menuju telaga madirda.
“Lewat jalan ini bisa mas, tapi jalannya menaik. Takutnya motor mas nggak kuat naik. Atau balik lagi ke arah jumog, sebelum jumog ada pertigaan lalu belok kanan. Tapi itu lumayan jauh”kata si ibuk penjaga warung.
“ohh gitu yaa buk. Terimakasih yaa buk”kata aku sembari membayar jajanan yang aku makan.
Aku bilang ke dayat daripada balik lagi ke arah jumog yang jaraknya lumayan jauh mending kita lewat jalan menaik ini saja.

“yakin mas ? nggak kasian sama icha ?”tanya sepupu aku itu.

“yakin, yakin. Toh untuk mendapatkan keindahan itu perlu perjuangan. Termasuk berjuang melewati jalan yang menaik ini”kata aku sambil memberi motivasi

Dayat hanya mengiyakan saja, dalam hati sebenarnya takut terjadi apa-apa dengan motor kesayangan aku. Di awal jalan terasa ringan, namun tiba-tiba ada satu jalan yang menaikinya hampir 100derajat kemiringannya. Aku terus meyakinkan sepupu aku itu kalo kita bisa melewati jalan tersebut. Lagian jalanan ke candi cetho mirip ini dan motor aku kuat menaiknya. Yaa lagi-lagi dayat hanya menurut saja apa yang aku kata.

Hingga tiba waktunya dimana motor aku tidak bisa digas lagi ketika sudah ditengah jalanan yang kemiringannya hampir 100derajat itu. Aku panik, takut terjadi yang tidak diinginkan dengan motor kesayangan aku. Aku takut tiba-tiba mesin icha tidak bisa digunakan lagi dan harus di obname. Dengan kekhawatiran yang memuncak, aku meminta dayat kembali ke bawah. Aku nggak mau memaksakan icha yang telah menemani aku selama ini.

Aku bertanya lagi ke penduduk sekitar. Dari info yang aku dapatkan, ternyata ada jalan yang gampang dilalui sekelas motor matic. Tidak perlu melalui jalan yang menaik seperti tadi. Aku akhirnya bisa bernapas lega nggak perlu mengorbankan icha. Satu hal lagi surga dunia terasa semakin dekat di mata.

Perjalanan menuju Telaga Madirda, kembali dimulai. Kali ini dayat yang mengendarai si cantik icha. Aku menikmati hijaunya pemandangan lereng Gunung Lawu. Aku menggumam di dalam hati ternyata karanganyar itu indah men.

Kira-kira hampir 30 menit kita mengitari jalanan menuju tujuan yang tak kunjung ditemukan. Sepanjang itu, aku belum menemukan tanda-tanda Telaga Madirda ditemukan. Aku bingung nggak karuan serasa ingin menyerah saja dan kembali ke rumah. Aku menyuruh dayat untuk berhenti ditepi jalan yang memperlihatkan wallpaper keindahan kemuning dari kejauhan. Sambi berkata

“karanganyar itu indah men”

“indah sih indah, tapi kan butuh perjuangan. Lihat nih motormu mas, kalo saja tadi dipaksakan sudah dipastikan kita pulang jalan kaki sambil nuntun motor mu ini” Dayat marah gara-gara kejadian tadi.

“udah santai tho, nikmati dulu saja keindahan yang ada dihadapan kita. Toh nanti dengan bantuan semesta pasti kita menemukan surga tersembunyi itu”Kata aku kembali meyakinkan dayat yang sudah terlihat malas.
Dayat lagi-lagi hanya mengiyakan perkataan aku sambil cemberut. Aku tahu sebenarnya sepupu aku ini sudah capek menuruti apa yang aku mau. Terlebih lagi kejadian tadi yang bisa-bisa bikin motor aku di obname. Daripada keindahan ini buyar dengan melihat muka kusam si dayat, lebih baik aku melanjutkan perjalanan menuju telaga madirda.

“ayokk, jalan lagi. Kamu ikut nggak ? atau tak tinggal disini aja ?”

“iyooo iyooo bang”  

Ditengah perjalanan, ternyata aku menemukan papan petunjuk arah ke Telaga Madirda. Wahhh, aku senang sekali melihatnya. Semesta benar-benar memberikan kuasanya agar mempertemukan aku dengan telaga nan indah itu. Aku mengikuti papan petunjuk arah itu hingga akhirnya tempat yang ditunggu-tunggu telah ada dihadapan mata.

Tak sia-sia perjuangan 30 menit mengitari jalan. Penuh lika –liku kejadian yang harus dilalui. Akhirnya aku berdiri tepat di hadapan telaga madirda, telaga terindah di karanganyar. Udaranya sejuk sekali seperti udara-udara lereng gunung pada umumnya. Diselatan telaga ada sebuah bukit menjulang tinggi. Dan tepat dihadapan aku, ada telaga indah yang walaupun airnya tak begitu jernih tapi bisa menyejukkan hati.

“benar tho yang tak bilang tadi. Kita itu sebagai manusia hanya perlu berusaha dan bersabar tinggal Tuhan yang menunjukann jalan-nya”

Ibarat ini, aku hanya perlu berjalan sembari bertanya ke penduduk sekitar ke tempat tujuan. Walaupun tersesat toh akhiirnya dengan petunjuk semesta aku menemukan telaganya. Cukup lama aku menikmati kenyamanan diri di telaga madirda ini. Nggak pernah sebelumnya aku jalan-jalan ke tempat wisata yang se-nyaman, se-tenang, se-sunyi dan se-sejuk tempat ini.

Telaga Madirda itu tempat wisata yang aku cari-cari selama ini. Tempat terbaik untuk merenung, berkhayal, dan mencari inspirasi. Pokoknya epict banget deh, lo yang baca cerita ini harus kesana !! Yakin, lo nggak bakal rugi, percaya sama aku !!

1 pikiran yang terlalu tegang
Sebarkan pada mereka:

0 comments:

Post a Comment