| http://www.sufihub.com/wp-content/uploads/2012/10/Slave-to-cigarettes.jpeg |
Dari belakang rumah, 25 September 2016
Aku duduk bersila di teras kedai dekat rumah, sembari menghisap sebatang rokok. Bersamaku ada Kribo dan Pitok. Kami bertiga duduk melingkar saling tatap satu sama lain. Kribo merokok sedangkan Pitok baru saja menghabiskan sebatang, sepertinya ia akan membakar batang kesekiannya.
Kami bukanlah tiga pemuda kompleks yang pengangguran.
Kerjaannya cuma nongkrong di kedai, menghabiskan sebungkus rokok dan bergelas –
gelas kopi, atau kadang menggoda gadis – gadis kompleks yang berlalu lalang.
Justru, kami berada disini sedang menyuarakan pendapat
mengenai rencana besar yang akan dilakukan nanti. Rencana ini memang harus
dibicarakan bersama agar bisa membentuk sebuah konsep yang benar – benar
matang. Tidak ingin lagi hanya jadi wacana yang hilang ditelan waktu.
Bukan main, rencana besar ini sangatlah gila, kemungkinan bisa mengagetkan orang – orang sekitar kompleks. Terutama, mereka yang sering mencela kami sebagai pemuda pemalas tak punya masa depan. Aku, Kribo, dan Pitok memilih diam mendengar celaan tersebut, menghabiskan tenaga saja kalau diladeni. Lebih baik merencanakan sesuatu dan melakukannya untuk membungkam mulut biadab mereka. Sayangnya, beberapa rencana sebelumnya berakhir jadi wacana. Ada sih yang dijadikan aksi, tetapi digagalkan oleh FATP: Front Anti Tiga Pemuda, organisasi bentukan Pak RT untuk melawan aksi sosial kami. Maka dari itu, untuk rencana yang sedang kami bicarakan ini harus benar – benar berhasil dilakukan. Mau tidak mau, pokoknya harus !!
“Jadi, kapan kita mulai rencana ini ?” Tatapan tajamku mengarah kepada kedua teman yang ada di hadapanku ini.
“Besok jam 12 malam tepat !! Kumpul disini dulu” Balas Pitok serius.
Setuju. Aku dan Kribo menyetujui saran tersebut. Menurutku, jam segitu sangat aman untuk melakukan aksi yang sudah matang direncanakan ini. Warga kompleks pasti sudah tertidur pulas. Mujur, sejak 6 bulan terakhir, kegiatan ronda malam sudah tak berjalan lagi. Jadi, diatas kertas, rencana ini bisa lancar tanpa gangguan untuk diaksikan.
Otak ini begitu lelah. 6 jam bekerja keras memikirkan rencana gila ini. Aku terdiam, kedua temanku juga. Hanya ada suara Etek Ida – Pemilik kedai – yang melayani pembelinya. Aku bakar sebatang rokok yang kesekian, berusaha bersuara kembali untuk mencairkan suasana yang sempat hening. Canda tawa kami pun kembali membuat kedai ini ramai. Kami saling melontarkan gurauan, agar otak ini kembali segar. Sekedar menertawakan hidup kami yang tak kunjung menjadi baik ataupun menertawakan gadis kompleks yang – menurut kami – paling cantik di Negeri ini ternyata sudah tak perawan lagi dan sedang mengandung janin 4 bulan. Direnggut oleh supir angkot. Dan bayi yang dikandung gadis itu lah hasil buah cintanya dengan supir angkot tersebut. Ah, paras cantiknya tak bisa lagi kami kagumi. Kini berganti menjadi nafsu ingin menguasai semua yang ada dibalik balutan kain gadis itu. Tentunya selepas ia melahirkan bayi hasil zina.
Prakkk !! Suara kresek belanjaan jatuh seketika. Membuat kami terkejut dan menatap ke arah sumber suara. Beda dengan Kribo dan Pitok, sosok yang menjatuhkan kresek itu membuatku benar – benar tak percaya dengan keberadaannya. Kalau ada kata yang melebihi kata kejut, maka itulah yang sedang aku rasakan.
”Astagfirullah, kamu merokok, le ?” Suara seorang ibu yang membuat kami terkejut keluar, terlihat tak menyangka dengan kenyataan anaknya yang perokok. Dan, seorang ibu itu adalah ibuku, Ibu Kandungku.
Mulutku terbungkam, puntung rokok yang ada ditanganku, aku buang begitu saja. Padahal masih ada sisa setengahnya. Aku menundukkan kepalaku, tidak berani menatap sosok ibuk yang kini berdiri tepat dihadapanku.
“Siapa yang ngajarin kamu begini ?” Lirih Ibuk yang kini pipinya dibasahi oleh air mata. “Pulang sekarang !!”
Ibuk meraih tangan kananku, dengan kasar menarikku untuk dibawa kerumah. Aku tetap diam, mengikuti langkah kaki Ibuk dari belakang. Genggaman tangannya makin kuat, memaksaku untuk terus berjalann. Berat rasanya melangkahkan kaki ini untuk pulang. Itu karena aku tahu apa yang akan terjadi nanti setibanya dirumah. Bukan lagi perang dingin tetapi menjadi perang dunia ke – 3.
“Siapa yang ngajarin kamu merokok ?” Ibuk mengulangi pertanyaannya yang tak kujawab di kedai tadi. Kali ini tangisnya berubah menjadi amarah yang memuncak.
Kini posisiku berada di ruang tamu rumah. Duduk dikursi, sedang Bapak dan Ibuk ada di hadapanku. Menatap tajam ke arahku, membuatku tak berani memandangnya. Menundukkan kepala jadi pilihan.
Bukan main, rencana besar ini sangatlah gila, kemungkinan bisa mengagetkan orang – orang sekitar kompleks. Terutama, mereka yang sering mencela kami sebagai pemuda pemalas tak punya masa depan. Aku, Kribo, dan Pitok memilih diam mendengar celaan tersebut, menghabiskan tenaga saja kalau diladeni. Lebih baik merencanakan sesuatu dan melakukannya untuk membungkam mulut biadab mereka. Sayangnya, beberapa rencana sebelumnya berakhir jadi wacana. Ada sih yang dijadikan aksi, tetapi digagalkan oleh FATP: Front Anti Tiga Pemuda, organisasi bentukan Pak RT untuk melawan aksi sosial kami. Maka dari itu, untuk rencana yang sedang kami bicarakan ini harus benar – benar berhasil dilakukan. Mau tidak mau, pokoknya harus !!
“Jadi, kapan kita mulai rencana ini ?” Tatapan tajamku mengarah kepada kedua teman yang ada di hadapanku ini.
“Besok jam 12 malam tepat !! Kumpul disini dulu” Balas Pitok serius.
Setuju. Aku dan Kribo menyetujui saran tersebut. Menurutku, jam segitu sangat aman untuk melakukan aksi yang sudah matang direncanakan ini. Warga kompleks pasti sudah tertidur pulas. Mujur, sejak 6 bulan terakhir, kegiatan ronda malam sudah tak berjalan lagi. Jadi, diatas kertas, rencana ini bisa lancar tanpa gangguan untuk diaksikan.
Otak ini begitu lelah. 6 jam bekerja keras memikirkan rencana gila ini. Aku terdiam, kedua temanku juga. Hanya ada suara Etek Ida – Pemilik kedai – yang melayani pembelinya. Aku bakar sebatang rokok yang kesekian, berusaha bersuara kembali untuk mencairkan suasana yang sempat hening. Canda tawa kami pun kembali membuat kedai ini ramai. Kami saling melontarkan gurauan, agar otak ini kembali segar. Sekedar menertawakan hidup kami yang tak kunjung menjadi baik ataupun menertawakan gadis kompleks yang – menurut kami – paling cantik di Negeri ini ternyata sudah tak perawan lagi dan sedang mengandung janin 4 bulan. Direnggut oleh supir angkot. Dan bayi yang dikandung gadis itu lah hasil buah cintanya dengan supir angkot tersebut. Ah, paras cantiknya tak bisa lagi kami kagumi. Kini berganti menjadi nafsu ingin menguasai semua yang ada dibalik balutan kain gadis itu. Tentunya selepas ia melahirkan bayi hasil zina.
Prakkk !! Suara kresek belanjaan jatuh seketika. Membuat kami terkejut dan menatap ke arah sumber suara. Beda dengan Kribo dan Pitok, sosok yang menjatuhkan kresek itu membuatku benar – benar tak percaya dengan keberadaannya. Kalau ada kata yang melebihi kata kejut, maka itulah yang sedang aku rasakan.
”Astagfirullah, kamu merokok, le ?” Suara seorang ibu yang membuat kami terkejut keluar, terlihat tak menyangka dengan kenyataan anaknya yang perokok. Dan, seorang ibu itu adalah ibuku, Ibu Kandungku.
Mulutku terbungkam, puntung rokok yang ada ditanganku, aku buang begitu saja. Padahal masih ada sisa setengahnya. Aku menundukkan kepalaku, tidak berani menatap sosok ibuk yang kini berdiri tepat dihadapanku.
“Siapa yang ngajarin kamu begini ?” Lirih Ibuk yang kini pipinya dibasahi oleh air mata. “Pulang sekarang !!”
Ibuk meraih tangan kananku, dengan kasar menarikku untuk dibawa kerumah. Aku tetap diam, mengikuti langkah kaki Ibuk dari belakang. Genggaman tangannya makin kuat, memaksaku untuk terus berjalann. Berat rasanya melangkahkan kaki ini untuk pulang. Itu karena aku tahu apa yang akan terjadi nanti setibanya dirumah. Bukan lagi perang dingin tetapi menjadi perang dunia ke – 3.
“Siapa yang ngajarin kamu merokok ?” Ibuk mengulangi pertanyaannya yang tak kujawab di kedai tadi. Kali ini tangisnya berubah menjadi amarah yang memuncak.
Kini posisiku berada di ruang tamu rumah. Duduk dikursi, sedang Bapak dan Ibuk ada di hadapanku. Menatap tajam ke arahku, membuatku tak berani memandangnya. Menundukkan kepala jadi pilihan.
Aku salah, dan sepatutnya aku disalahkan atas perbuatanku
tadi. Aku bagaikan tersangka yang di sidang di pengadilan dengan dakwaan
tertangkap basah menyeludupkan kutang istri muda Pak RT. Namun, masalahku tak
separah itu. Ini hanyalah karena aku merokok. Lagian, apa salahnya merokok ?
“Dipaksa teman, buk” Jawabku lirih
“Ibuk minta kamu buat jaga kesehatan. Tapi, kenapa kamunya nggak mau jaga kesehatan kamu. Kamu itu lemah, rentan kena penyakit. Eh, malahan merokok juga. Ibuk benar – benar kecewa sama kamu, le”
“Sudah, buk. Tenang, tenang” Kata Bapak pelan ke Ibuk yang tampak kembali meneteskan air mata, makin deras saja.
“Gimana bisa tenang, pak !! Aku lihat sendiri pake mata kepalaku. Anak ini merokok !!”
Luapan kemarahan Ibuk semakin pecah. Kali ini, tangan kirinya menunjuk ke arahku. Aku masih berada diposisiku, tidak berani menggesernya. Meskipun hanya beberapa centi ke kiri. Aku tetap tertunduk lesu, menyesali apa yang sudah terjadi di kedai tadi.
“Dipaksa teman, buk” Jawabku lirih
“Ibuk minta kamu buat jaga kesehatan. Tapi, kenapa kamunya nggak mau jaga kesehatan kamu. Kamu itu lemah, rentan kena penyakit. Eh, malahan merokok juga. Ibuk benar – benar kecewa sama kamu, le”
“Sudah, buk. Tenang, tenang” Kata Bapak pelan ke Ibuk yang tampak kembali meneteskan air mata, makin deras saja.
“Gimana bisa tenang, pak !! Aku lihat sendiri pake mata kepalaku. Anak ini merokok !!”
Luapan kemarahan Ibuk semakin pecah. Kali ini, tangan kirinya menunjuk ke arahku. Aku masih berada diposisiku, tidak berani menggesernya. Meskipun hanya beberapa centi ke kiri. Aku tetap tertunduk lesu, menyesali apa yang sudah terjadi di kedai tadi.
---
Aku berdiri di kebun belakang rumah, mengobrol dengan ibuk dari balik telepon genggam. Tak biasanya beliau menghubungiku sepagi ini. Matahari saja masih enggan menampakkan dirinya. Aku tak menaruh sedikit pun kecurigaan. Kebetulan aku juga berada di kampung halaman. Sekedar menengok kondisi Nenek. Mungkin Ibuk menelpon sepagi ini karena ingin tahu bagaimana kondisi Nenek saat ini.
“Kamu merokok, le ?”
Aku terperanjat dengan pertanyaan Ibuk ini. Telinga pun menjadi merah, panas, dan mulai memunculkan keringat. Aku tak bisa jujur, lebih tepatnya belum siap mental untuk mengatakan kenyataan bahwa aku perokok aktif. Aku belum mau mengubah suasana hati Ibuk menjadi marah. Ini masih pagi, sebentar lagi beliau berangkat dagang. Akan bahaya kalau aku jawab jujur, bisa – bisa membuat Ibuk tak fokus bekerja.
“Nggak, buk”
“Beneran nggak merokok ? Semalam Ibuk mimpi kamu merokok, hlo”
Wahh, benar – benar ini. Firasat Ibuk benar – benar kuat mengenaiku. Bukan main, benar kata orang – orang kalau seorang ibu itu bisa merasakan apa yang sedang terjadi pada anaknya. Lewat mimpi tanpa mengetahui sendiri beliau tahu kalau aku memanglah perokok. Hanya saja mimpi beliau tak bisa dibenarkan karena aku tak berkata jujur.
“Bener, buk. Aku nggak merokok”
Aku memilih bohong. Padahal kenyataanya, sehabis bangun tidur tadi, aku menghisap sebatang rokok di kamar. Bunuh diri namanya kalau aku jawab begini: “Aku merokok, buk. Barusan aku ngahabisin
sebatang di kamar”
Firasat buruk Ibuk ini membuatku takut. Takut kalau nantinya Ibuk memergokiku sedang merokok. Akan menjadi marah besar, terlebih saat ditanya ini aku jawab tak merokok. Ataupun juga, karena mimpi buruk ibuk, aku takut jika saja akan ada efek buruk yang timbul karena aku merokok. Sebut saja penyakit baru yang muncul.
Firasat ibuk dan ketakutanku tersebut haruslah diantisipasi. Jangan sampai semua itu menjadi kenyataan buruk dikedepannya. Apa mulai detik ini aku berhenti merokok ? Kemungkinan itu bisa saja terjadi. Jujur, untuk saat ini aku belum sanggup untuk berhenti. Aku sudah terlanjur candu akan tiap hisapan rokok yang aku telan. Bisa mati sempoyongan kalau dalam sehari tak merokok sebatang pun.
Dikurangi ? Setidaknya 2 – 3 batang sehari ? Bisa saja. Toh dalam beberapa hari terakhir, semenjak merasakan sesak di dada, aku sudah mengurangi porsi rokokku yang biasanya sehari bisa sampai 10 batang menjadi 5 – 7 batang. Mungkin setelah mengetahui mimpi buruk ibuk, aku akan berusaha mengurangi ketergantunganku pada rokok. Tapi, tak sampai pada tahap untuk berhenti total. Kecanduan dan ketergantungan pada rokok sudah terlanjur menggrogoti otakku. Mungkin butuh keajaiban atau seseorang yang membuatku benar - benar berhenti merokok. Seperti Bapak dulu yang akhirnya berhenti karena aku sendiri yang larang.
Selamat Minggu Pagi, sedang aku menyapu lantai rumah yang kotornya bukan main.
Firasat buruk Ibuk ini membuatku takut. Takut kalau nantinya Ibuk memergokiku sedang merokok. Akan menjadi marah besar, terlebih saat ditanya ini aku jawab tak merokok. Ataupun juga, karena mimpi buruk ibuk, aku takut jika saja akan ada efek buruk yang timbul karena aku merokok. Sebut saja penyakit baru yang muncul.
Firasat ibuk dan ketakutanku tersebut haruslah diantisipasi. Jangan sampai semua itu menjadi kenyataan buruk dikedepannya. Apa mulai detik ini aku berhenti merokok ? Kemungkinan itu bisa saja terjadi. Jujur, untuk saat ini aku belum sanggup untuk berhenti. Aku sudah terlanjur candu akan tiap hisapan rokok yang aku telan. Bisa mati sempoyongan kalau dalam sehari tak merokok sebatang pun.
Dikurangi ? Setidaknya 2 – 3 batang sehari ? Bisa saja. Toh dalam beberapa hari terakhir, semenjak merasakan sesak di dada, aku sudah mengurangi porsi rokokku yang biasanya sehari bisa sampai 10 batang menjadi 5 – 7 batang. Mungkin setelah mengetahui mimpi buruk ibuk, aku akan berusaha mengurangi ketergantunganku pada rokok. Tapi, tak sampai pada tahap untuk berhenti total. Kecanduan dan ketergantungan pada rokok sudah terlanjur menggrogoti otakku. Mungkin butuh keajaiban atau seseorang yang membuatku benar - benar berhenti merokok. Seperti Bapak dulu yang akhirnya berhenti karena aku sendiri yang larang.
Selamat Minggu Pagi, sedang aku menyapu lantai rumah yang kotornya bukan main.
0 comments:
Post a Comment