Sukoharjo Makmur, sedang ingat
masa lalu dan sedang di Bulan Oktober 2016.
Senin pagi nun cerah untuk jiwa yang mengantuk namun mata tak mau diajak lelap. Aku berdiri di depan jendela belakang rumah. Bukan, itu bukan rumah kontrakan bapak, melainkan rumah keluarga temanku yang dijajah oleh kami para penghuni kelas 12 IPA 5. Dikotori, ditiduri, digauli, dikencingi kamar mandinya, di eek i pula selama 3 hari untuk sekedar numpang Homestay saja.
Tak ada kopi dicangkir, tak ada pula rokok ditangan. Hanya ada suara gaduh teman – temanku dengan urusannya masing – masing. Aku menatap keluar memandangi kolam ikan di depan sana. Sedang asyik menyaksikan ikan – ikan itu menari kesana kemari, sesekali menampakkan diri ke permukaan air yang keruh. Sebentar saja, tidak pakai lama, mungkin takut sesak napas.
“Mandi yukk !!” Eh ? Ada apa gerangan ini ? Tiba – tiba datang menghampiriku untuk mengajak mandi bareng. Sadar kawan, sadar !! Aku ini lelaki tulen dan ingin perempuan. Apakah dikau sedang dirasuki setan Siampa - Hantu legenda Tanah Minang – sehingga dikau tega merenggut perjaka saya di usia semuda ini, teman ? Ahh, jahat kali dikau ini.
Senin pagi nun cerah untuk jiwa yang mengantuk namun mata tak mau diajak lelap. Aku berdiri di depan jendela belakang rumah. Bukan, itu bukan rumah kontrakan bapak, melainkan rumah keluarga temanku yang dijajah oleh kami para penghuni kelas 12 IPA 5. Dikotori, ditiduri, digauli, dikencingi kamar mandinya, di eek i pula selama 3 hari untuk sekedar numpang Homestay saja.
Tak ada kopi dicangkir, tak ada pula rokok ditangan. Hanya ada suara gaduh teman – temanku dengan urusannya masing – masing. Aku menatap keluar memandangi kolam ikan di depan sana. Sedang asyik menyaksikan ikan – ikan itu menari kesana kemari, sesekali menampakkan diri ke permukaan air yang keruh. Sebentar saja, tidak pakai lama, mungkin takut sesak napas.
“Mandi yukk !!” Eh ? Ada apa gerangan ini ? Tiba – tiba datang menghampiriku untuk mengajak mandi bareng. Sadar kawan, sadar !! Aku ini lelaki tulen dan ingin perempuan. Apakah dikau sedang dirasuki setan Siampa - Hantu legenda Tanah Minang – sehingga dikau tega merenggut perjaka saya di usia semuda ini, teman ? Ahh, jahat kali dikau ini.
Sampai lupa, itu sumbernya dari Fardi, teman akrabku di kelas ini.
“Yuk ahh” Hlo kok aku meng-iyakan ajakannya. Tunggu, tunggu, jangan berpikiran kotor dulu. Aku iya karena disini kamar mandinya cuma satu dan kalau yang mandinya satu orang saja dalam kamar mandi sedang yang antri ada 38 orang lainnya. Bisa habis kita punya waktu hanya untuk mandi. Kan tujuannya kesini buat berlibur bukan mau antri mandi. Gimana sih kamu ini !?
Aku berlalu dari jendela, meninggalkan ikan – ikan itu untuk menuju tas yang tergeletak di ruang tamu. Ruangan yang semalam bekas ditiduri oleh perempuan – perempuan cantik kelas ini. Semoga saja tak ada satu pun laki – laki yang entah sengaja atau tidaknya ikut berselimut bersama mereka. Kalaupun sengaja, maklumi saja, mungkin sedang khilaf.
Semuanya komplit, ada sabun cair, ada shampo, ada handuk, ada pasti gigi bersama sikatnya, ada juga baju ganti yang dipakai nanti di kamar mandi. Gendeng namanya kalau aku berganti pakaian di ruang tamu. Bisa – bisa para perempuan cantik kelas ini memergoki aku punya adik yang panjang dan kebetulan tegang. Jadi pengen mereka nanti.
Aku pergi berdua dengan Fardi, berjalan beriringan layaknya sepasang makhluk Tuhan yang sedang kasmaran. Ingat itu hanya layaknya bukan sebenarnya. Sudahku bilang tadi, aku masih ingin perempuan. Kecuali kalau perempuan tidak ingin aku, beda lagi alur kisahnya. Perginya menuju kamar mandi yang di luar, di dalam ada namun sedang dikotori oleh temanku lainnya.
Disana, ada temanku lainnya pula yang sedang mandi. Aku dapati mereka – karena di dalamnya ada dua - adalah makhluk Tuhan berjenis perempuan. Aku tahu bukan karena ikut gabung, tapi berteriak dari luar menanyakan siapakah gerangan di dalam sana.
“Duhh, cepet oii” Teriak Fardi diberangi dengan aku yang mengetok keras pintu kamar mandi itu.
“Sabar napa” Jawab ketus salah satu perempuan yang dibarengi dengan suara guyuran air. Dari suaranya aku ketahui dia adalah Siti. Sedang yang satunya aku tak tahu karena tak ikut bersuara.
Selang beberapa menit, gemuruh air dari dalam kamar mandi tak lagi bersuara. Diam seketika ada angin puting beliung menghampiri mereka, tewas tersapu badai, dan meninggalkan jasad tak bernyawa. Oh, pintu itu terbuka bukan dengan sendirinya melainkan dibuka oleh Siti yang sudah berpakaian rapi. Ada Zia juga yang ternyata bersama Siti sedang mandi tadi.
“Lama banget sih ? Lagi bergaul kalian yaa ?” Candaan itu aku lontarkan ke mereka berdua. Abis kesel nunggu mereka mandi lamanya bukan main. Dasar emang perempuan. Kalau kamu dewasa, ngerti lah dengan maksud candaanku itu. Zia aja tahu kok kamu enggak, hehe.
“Enak aja !!” Sewot Zia yang dibarengi dengan melemparkan handuknya ke aku punya perut. Mujur cuma
handuk, sakitpun tak terasa.
“Yukk ah, Jek !! Mari kita menikmati kamar mandi ini berdua” Goda Fardi dengan wajah centilnya. Seperti tante – tante kurang belaian yang lagi pengen dibelai tapi suaminya tak bisa, sibuk dengan daun muda mungkin. Lalu melampiaskan nafsu ke brondong semuda aku ini.
“Ayuukk tante !!” Balasku sambil menggandeng Fardi ke kamar mandi.
“Ih, jijik” Kata Siti yang kemudian berlalu bersama Zia meninggalkan kami berdua yang kemudian memasuki kamar mandi. Bersenggama dengan air sendiri – sendiri. Aku disudut yang dekat wc, sedang Fardi di sebelah sana, berhadapan dengan pintu.
---
Siang itu, setelah semua lelaki
kelas ini mandi dan berganti pakaian, beberapanya sedang seru menendang bola di
sebuah lapangan kecil yang ada di pinggir jalan. Sedang yang lain memilih untuk
menonton saja. Tak jauh dari rumah yang sementara kami tiduri ini. Tentunya
menendang bola dengan tujuan jelas, menendang untuk dimasukkan ke dalam gawang
lawan. Mujur kalau berhasil, kalau tak direbut oleh lawan yang kemudian juga
ingin menendang bola untuk dimasukkan ke gawang lawannya. Begitu saja terus
sampai perempuan – perempuan cantik kelas ini selesai bersolek dan bersedia di
ajak menuju Great Wall – nya
Bukittinggi. Aku lupa akan nama daerahnya, yang jelas ujung dari Great Wall itu berjumpa dengan gua Jepang. Seperti sudah disengaja oleh
pembuatnya.
Ah tentunya iya, karena merekalah yang punya rencana kesana. Sedang aku tinggal terima bersih saja. Selepas itu ber-gerilya-lah kami di pusat kota Bukittinggi. Menengok kondisi jam gadang yang apakah jamnya tetap tinggi menjulang ke atas atau sudah kecil disusut oleh Gru – Pemeran Despicable Me – dengan alatnya yang super canggih itu. Kami berjumpa pula tadi dengan gua Jepang – Bukti sejarah bahwa Jepang ternyata pernah menjajah Negeri ini. Sekedar ingin tahu apakah gua itu masih tetap seperti yang dulu atau sudah diruntuhkan oleh pemerintah untuk didirikan sebuah Mall atau pula hotel megah bintang 12. Aku rasa pemerintah tak akan tega begitu. Kecuali mati meraka punya nurani dan sudah disuap uang berkoper – koper oleh pihak yang ingin bangun hotel megah bintang 12 disana.
Perut ini sangat lapar karena seingatku sedari tadi pagi belum dijejali nasi. Bersamaku ada Fardi, Robi, dan Pilar yang sedang berjalan menikmati sore di Bukittinggi.
“Laper ? Makan yuk ?” kataku ke mereka bertiga.
“Iyaa nih. Makan dimana ?” Balas Robi yang lalu balik bertanya.
“Disitu aja ?” Fardi membalas, diikuti dengan tangannya menunjuk ke arah rumah makan yang katanya terlezat di Kota ini. Ampera Sederhana punya nama. Berdiri kokoh dipinggir jalan, disampingnya ada Pasar Ateh (Atas/red), disamping lainnya ada jalan raya buat yang mau ke kebun binatang, dan di seberangnya ada taman kota yang disitu ada Jam Gadang-nya.
Bergegaslah kami, 3 lelaki jomblo kesepian tanpa pasangan menuju rumah makan yang sudah disetujui. Beda dengan Robi yang sudah punya pacar, tapi kenapa memilih berjalan bersama kami. Entahlah aku tak tahu pula alasannya. Padahal sang pacar juga satu kelas dan sedang berada di sini, mungkin pacarnya juga memilih berkeliling bareng teman perempuan satu komplotannya.
Lihatlah di sana, di salah satu meja makan Ampera Sederhana yang sengaja ditaruh oleh pemiliknya di lantai dua, 4 manusia yang terlahir sebagai lelaki sedang menyantap sepiring nasi bersama lauk pauknya khas Minang. Ada rendang di piringku, ada gulai ikan di piring Fardi, ada dendeng batokok di piringnya Pilar, dan ada pula ikan balado di piring Robi. Ditemani pula sepiring sayur singkong dan dua piring kecil sambal. Satu di sambal ijo dan satunya di sambal merah.
Itu semua asli makanan dari rumah makan ini. Rumah makan yang asli berdiri di tanah Minang. Bumbu diracik oleh tangan orang asli terlahir sebagai Minang. Dengan rasa lauk pauknya asli khas rumah makan Minang. Cita rasanya yang lezat bukan main. Tak bisa diungkapkan dengan kata – kata. Yang jelas lebih sedap dan memang sedap dibandingkan rumah makan Padang lainnya yang berdiri di pulau – pulau seberang. Yang disana menurutku itu kalio sapi dikatanya rendang.
![]() |
| https://scontent-sin6-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/944439_537016373009040_159717957_n.jpg?oh=7b60f2b61d21ca6dd5cd05c4a63dc043&oe=585F40C7 |

0 comments:
Post a Comment