Monday, 10 October 2016

Motor Baru


http://aksesorisbag.us/wp-content/uploads/2012/10/beat-fi-cbs-techno-white.jpg
Karanganyar Masih Tenteram, Akhir Agustus 2013

Motor, sekarang aku ingin bahas motor. Orang Batak bilang ‘Kereta’, orang Padang bilang ‘Honda’, orang Inggris bilang ‘Motorcyle’, orang Jawa bilang ‘Motor’ nggak pakai mabur, nanti dibilang pesawat. Kamu pasti sudah tahu apa itu motor ? Tak perlu aku jelaskan panjang lebar lagi. Capek tanganku ngetiknya. Kalaupun kamu tidak tahu itu motor, dengan senang hati aku mempersilahkan kamu untuk meninggalkan bumi ini.

Aku punya motor pas akan mau masuk kuliah. Masuk saja sebentar abis itu keluar. Itu pertama kalinya sepanjang 18 tahun hidup didunia ini. Aku dibelikan motor matic rakyat keluar pabrikan motor tersohor yang berwarna putih. Itu aku yang minta. Kenapa matic ? kenapa tidak Ninja ? King ? atau yang sedang kekinian itu motor CB tahun 80-an. Aku pikir itu karena soal uang yang hanya cukup dibelikan motor matic. Aku terima saja, toh aku suka. Jikalau kamu tak suka, peduli apa aku. Tak akan aku ceritakan sumber dananya, biar Tuhan, Bapak, Ibuk, Mbah Putri, Aku beserta beberapa keluarga yang tahu. Kamu tidak perlu aku kasih, kan kamu bukan keluarga aku. 

“Kasih nama siapa ini ?” Aku tanya ke Bagong, sepupuku, minta pendapatnya mengenai hal nama dari motorku. Itu perlu, karena itu identitas. Nanti hilang gampang, tinggal tanya ‘Pak, lihat siputih tidak ?

“Kobok’an, gimana ?” Usul Bagong

“Ah, kurang kece”

“Bagong ? sama namaku” Usul lagi si Bagong.

“Nope”

“Kebo ?”

“Jelek”

“Macan ?”

“Nggak cocok” maksudnya nama itu tidak cocok sama warna dan bentuk si motor

“Ayu ?”

“Nope lagi”

“Nilam ?”

“itu mantan aku !!”

Ahh, sampai akhirnya jejak pendapat itu tidak membuahkan hasil. Sia-sia. Motor pun tak jadi diberi nama. Biar begitu saja, apa adanya. Karena yang natural itu lebih indah. Ah, alibi sekali aku ini.

Aku bawa test drive ke pasar, sekedar membeli 2 bungkus roti bakar. Ceritanya untuk syukuran, Aku punya motor. Juga diberi keselamatan sepanjang aku naiki motornya. Belum ada plat di depan sama belakang. Masih polosan. Jelaslah, wong baru satu jam yang lalu diantarkan oleh Si Dealer. 

Aku bawanya pelan-pelan, kira-kira 20 km/jam cepatnya. Alasannya, biar orang-orang tahu saja, aku sudah punya motor. Motornya baru lagi. Baru dari dealer. Beli pakai uang bukan daun. Uang pun cash dimuka. Mukanya yang punya dealer. Ah, sombong dikit tak apalah. Tuhan marah pun sedikit.

Besok paginya, kan masih baru tuh. Baru dipakai kemarin sore pula. Aku paksa motor melaju ke timur ke daerah Matesih. Tahu kan ? itu yang sebelum Tawangmangu. Tempatnya Alm. Pak Harto dikubur. Tak tahu juga ? Oh iya, kamu kan Padang. Nanti aku kasih tunjuk ke kamu. Syaratnya sih kamu harus jadi teman hidup aku. Tahulah maksudku, itu hlo kayak orang-orang itu hlo, yang pakai baju pengantin itu hlo, duduk berdua di KUA itu hlo, sama duduk di pelaminan itu hlo, ngerti hla kamu itu hlo.

Pernah juga suatu sore, aku bawa motor ke pusat kota Karanganyar. Niatnya tetap sama, buat pamer ke orang-orang seantero kota. Cakupannya saja yang lebih luas, target kedepan sih seluruh jagad Joglosemar (baca: Jogja Solo Semarang) dan sekitarnya tahu. Sore itu keliling Karanganyar bagian utara dulu. Dari rumah jalan ke arah Pasar Kakum, kemudian terus berkendara menuju Bejen, lalu melewati Taman Pancasila, berjumpa dengan Pasar Jongke, kemudian melalu Waduk Lalung, berpapasan dengan Sukosari, dan akhirnya sampai pula di rumah. Kamu yang orang asli Karanganyar pasti tahulah daerah yang kusebut. Kamu mah yang di Padang tidak akan tahu. Yaa, kecuali yang aku bilang tadi. 

Kamu tahu tak ? Aku kesana tidak pakai helm, tak bawa hape, tak ada dompet di saku celana, pakainya celana pendek, kaos oblong yang ada bolongnya sedikit dilengan, sendirian pula. Untung saja polisi sedang siap-siap berbuka puasa dimana saja maunya. Coba saja sore itu mereka sedang patroli mencari mangsa demi selembar I Gusti Ngurah Rai, bisa ditahan motorku. Sudah suratnya belum keluar, SIM tak ada, Helm tak dipakai, Plat pun belum punya. Parah emang.

Edan kamu, le” Bapak bilang begitu ke Aku waktu aku ceritakan ke bapak sehabis berbuka dengan yang manis-manis.

Besoknya, aku temukan motorku sudah tidak perawan lagi. Darah berlumuran dimana-mana. Direnggut oleh Ibu. Wanita pertama yang aku bonceng.

Tak apalah batinku. 

Memang seharusnya aku begitu, memboncengi Ibu ke Pasar Kakum buat beli sayuran sama lauk-pauknya. Kasian pula aku suruh jalan pakai kaki, jauh. Ada setengah jam kesana. Motor mah cuma 5 menit sampai. 

Sorenya, aku bareng Bagong pergi ngabuburit ke waduk Lalung. Sekalian lihat kimcil berkeliaran disana. Aku jelaskan, Kimcil itu singkatan dari Kimpot Cilik yang diartikan jadi paha kecil. Istilah buat pelacur yang masih merah merona, belum ada genap 18+. Disana ada sekitar 15 menit meamndangi air yang ada di Waduk. Sudah itu pulang. Sayangnya, ditengah jalan, hujan turun. Ah, tak bilang-bilang nih kalau mau turun. Jadi kotorkan motor baruku.

“Cuci yuk, gong. Biar kinclong lagi” Ajak aku ke Bagong sehabis shalat maghrib.

“Iyoo, tak ambil selang dulu” Bagong pergi menjauh dariku menuju belakang rumah. Buat apa ? tadi kan dia sudah bilang.

“Cepet !!” Teriakku dari dekat motor yang rupanya bagai tidak berupa.

Selang datang, ditancapkan ke kran pun sudah. Saatnya bersih-bersih motor baruku. Biar apa ? biar motor baruku dibilang tetap baru sama orang-orang, haha. Prosesi pemandian itu cukup memakan waktu. Tarawih pun kami tunda ke esok harinya. Biar yang tua saja kesana. Yang muda mah besok masih bisa. Suara Mbah Darmo ceramah dimulai, motor baru selesai. Selesai dicuci, kan tadi kotor.

“Hlo, kok nggak mau hidup sih ? Bagong panik. Paniknya bukan main, panik sangat pokoknya. Menyaksikan keadaan motor yang tidak mau menyala. Sudah di-starter padahal.

“Diengkol coba” Perintahku.

“Nggak mau!” Bagong menuruti suruhku. Motornya pun tak menyala juga. Tetap mati. Ada apa ini ? Aku ikut panik. Bingung, cari solusi, aku masih buta dunia motor.

“Coba cek karburasinya. Ikut kotor mungkin” Kataku asal. Padahalkan tak tahu apa-apa. Bagong yang tahu dunia motor menuruti saja suruhku.

“nggak mau juga yoo”

“Bannya kali. Bocor. Jadi nggak bisa hidup”

Hlo, ini malah ke ban. Apa hubungannya coba ? Ah, sudahlah, namanya juga aku, belum tahu apa-apa sama mesin motor. Yang jelas, Aku dan Bagong masih panik. Jongkok sekaligus melihat ke bagian mesin motor. Nge-chek apa sebab tidak mau menyala.

“Lagi ngapain cah ? Ada yang rusak ? Motor baru kok udah rusak aja” Itu suara Eyang Kakung berjalan pakai kaki menuju tempat kami kepanikan.

“Ini hlo, Eyang. Nggak mau hidup” Aku jelaskan dengan sangat jelas ke Eyang Kakung sebab muasabnya. Eyang Kakung mendengarkan penjelasanku sekalian melihat ke motor.

“Oalah cung, kacung. Ini standart sampingmu dikembaliin dulu ” Kata Eyang Kakung sambil mengejek kami berdua.

Lalu, Beliau coba starter itu motor punya aku, ternyata hidup. “Nah !! hidup kan jadinya. Aku yang tua begini aja tau kok kalian yang muda malah gaptek”

Aku dan Bagong cuma senyum-senyum bego. Emang bego juga sih.  
Sebarkan pada mereka:

0 comments:

Post a Comment