![]() |
| http://aksesorisbag.us/wp-content/uploads/2012/10/beat-fi-cbs-techno-white.jpg |
Motor, sekarang aku ingin bahas motor. Orang Batak bilang ‘Kereta’,
orang Padang bilang ‘Honda’, orang Inggris bilang ‘Motorcyle’, orang Jawa
bilang ‘Motor’ nggak pakai mabur, nanti dibilang pesawat. Kamu pasti sudah tahu
apa itu motor ? Tak perlu aku jelaskan panjang lebar lagi. Capek tanganku
ngetiknya. Kalaupun kamu tidak tahu itu motor, dengan senang hati aku
mempersilahkan kamu untuk meninggalkan bumi ini.
Aku punya motor pas akan mau masuk kuliah. Masuk saja sebentar abis
itu keluar. Itu pertama kalinya sepanjang 18 tahun hidup didunia ini. Aku
dibelikan motor matic rakyat keluar pabrikan motor tersohor yang berwarna putih. Itu aku yang minta. Kenapa matic ? kenapa tidak
Ninja ? King ? atau yang sedang kekinian itu motor CB tahun 80-an. Aku pikir itu karena soal uang yang hanya cukup dibelikan motor matic. Aku terima saja, toh aku suka. Jikalau kamu tak suka, peduli apa aku. Tak akan aku ceritakan sumber dananya, biar
Tuhan, Bapak, Ibuk, Mbah Putri, Aku beserta beberapa keluarga yang tahu. Kamu tidak
perlu aku kasih, kan kamu bukan keluarga aku.
“Kasih nama siapa ini ?” Aku tanya ke Bagong, sepupuku,
minta pendapatnya mengenai hal nama dari motorku. Itu perlu, karena itu identitas.
Nanti hilang gampang, tinggal tanya ‘Pak, lihat siputih tidak ?’
“Kobok’an, gimana ?” Usul Bagong
“Ah, kurang kece”
“Bagong ? sama namaku” Usul lagi si Bagong.
“Nope”
“Kebo ?”
“Jelek”
“Macan ?”
“Nggak cocok” maksudnya nama itu tidak cocok sama warna dan
bentuk si motor
“Ayu ?”
“Nope lagi”
“Nilam ?”
“itu mantan aku !!”
Ahh, sampai akhirnya jejak pendapat itu tidak membuahkan
hasil. Sia-sia. Motor pun tak jadi diberi nama. Biar begitu saja, apa adanya.
Karena yang natural itu lebih indah. Ah, alibi sekali aku ini.
Aku bawa test drive
ke pasar, sekedar membeli 2 bungkus roti bakar. Ceritanya untuk syukuran, Aku punya motor. Juga
diberi keselamatan sepanjang aku naiki motornya. Belum ada plat di depan sama
belakang. Masih polosan. Jelaslah, wong baru satu jam yang lalu diantarkan oleh Si Dealer.
Aku bawanya pelan-pelan, kira-kira 20 km/jam cepatnya.
Alasannya, biar orang-orang tahu saja, aku sudah punya motor. Motornya baru
lagi. Baru dari dealer. Beli pakai uang bukan daun. Uang pun cash dimuka. Mukanya
yang punya dealer. Ah, sombong dikit tak apalah. Tuhan marah pun sedikit.
Besok paginya, kan masih baru tuh. Baru dipakai kemarin sore pula.
Aku paksa motor melaju ke timur ke daerah Matesih. Tahu kan ? itu yang sebelum Tawangmangu. Tempatnya Alm. Pak Harto dikubur. Tak tahu juga ? Oh iya, kamu
kan Padang. Nanti aku kasih tunjuk ke kamu. Syaratnya sih kamu harus jadi teman
hidup aku. Tahulah maksudku, itu hlo kayak orang-orang itu hlo, yang pakai
baju pengantin itu hlo, duduk berdua di KUA itu hlo, sama duduk di pelaminan
itu hlo, ngerti hla kamu itu hlo.
Pernah juga suatu sore, aku bawa motor ke pusat kota Karanganyar.
Niatnya tetap sama, buat pamer ke orang-orang seantero kota. Cakupannya saja yang lebih luas,
target kedepan sih seluruh jagad Joglosemar (baca: Jogja Solo Semarang) dan
sekitarnya tahu. Sore itu keliling Karanganyar bagian utara dulu. Dari rumah jalan ke arah
Pasar Kakum, kemudian terus berkendara menuju Bejen, lalu melewati Taman Pancasila, berjumpa dengan Pasar Jongke, kemudian melalu Waduk Lalung, berpapasan dengan Sukosari, dan akhirnya sampai pula di rumah.
Kamu yang orang asli Karanganyar pasti tahulah daerah yang kusebut. Kamu mah
yang di Padang tidak akan tahu. Yaa, kecuali yang aku bilang tadi.
Kamu tahu tak ? Aku kesana
tidak pakai helm, tak bawa hape, tak ada dompet di saku celana, pakainya celana pendek, kaos
oblong yang ada bolongnya sedikit dilengan, sendirian pula. Untung saja polisi sedang
siap-siap berbuka puasa dimana saja maunya. Coba
saja sore itu mereka sedang patroli mencari mangsa demi selembar I Gusti Ngurah Rai, bisa ditahan motorku. Sudah suratnya belum keluar, SIM
tak ada, Helm tak dipakai, Plat pun belum punya. Parah emang.
“Edan kamu, le”
Bapak bilang begitu ke Aku waktu aku ceritakan ke bapak sehabis berbuka dengan
yang manis-manis.
Besoknya, aku temukan motorku sudah tidak perawan lagi. Darah
berlumuran dimana-mana. Direnggut oleh Ibu. Wanita pertama yang aku bonceng.
Tak apalah batinku.
Memang seharusnya aku begitu, memboncengi Ibu ke Pasar Kakum buat beli sayuran sama lauk-pauknya. Kasian pula aku suruh jalan pakai kaki, jauh. Ada setengah jam kesana. Motor mah cuma 5 menit sampai.
Sorenya, aku bareng Bagong pergi ngabuburit ke waduk Lalung. Sekalian lihat kimcil berkeliaran disana. Aku jelaskan, Kimcil itu singkatan dari Kimpot Cilik yang diartikan jadi paha kecil. Istilah buat pelacur yang masih merah merona, belum ada genap 18+. Disana ada sekitar 15 menit meamndangi air yang ada di Waduk. Sudah itu pulang. Sayangnya, ditengah jalan, hujan turun. Ah, tak bilang-bilang nih kalau mau turun. Jadi kotorkan motor baruku.
“Cuci yuk, gong. Biar kinclong lagi” Ajak aku ke Bagong
sehabis shalat maghrib.
“Iyoo, tak ambil selang dulu” Bagong pergi menjauh dariku
menuju belakang rumah. Buat apa ? tadi kan dia sudah bilang.
“Cepet !!” Teriakku dari dekat motor yang rupanya bagai tidak
berupa.
Selang datang, ditancapkan ke kran pun sudah. Saatnya bersih-bersih
motor baruku. Biar apa ? biar motor baruku dibilang tetap baru sama
orang-orang, haha. Prosesi pemandian itu cukup memakan waktu. Tarawih pun kami
tunda ke esok harinya. Biar yang tua saja kesana. Yang muda mah besok masih
bisa. Suara Mbah Darmo ceramah dimulai, motor baru selesai. Selesai dicuci, kan
tadi kotor.
“Hlo, kok nggak mau hidup sih ?” Bagong panik. Paniknya bukan main, panik sangat
pokoknya. Menyaksikan keadaan motor yang tidak mau menyala. Sudah di-starter
padahal.
“Diengkol coba” Perintahku.
“Nggak mau!” Bagong
menuruti suruhku. Motornya pun tak menyala juga. Tetap mati. Ada apa ini ? Aku
ikut panik. Bingung, cari solusi, aku masih buta dunia motor.
“Coba cek karburasinya. Ikut kotor mungkin” Kataku asal.
Padahalkan tak tahu apa-apa. Bagong yang tahu dunia motor menuruti saja suruhku.
“nggak mau juga yoo”
“Bannya kali. Bocor. Jadi nggak bisa hidup”
Hlo, ini malah ke ban. Apa hubungannya coba ? Ah, sudahlah,
namanya juga aku, belum tahu apa-apa sama mesin motor. Yang jelas, Aku dan
Bagong masih panik. Jongkok sekaligus melihat ke bagian mesin motor. Nge-chek
apa sebab tidak mau menyala.
“Lagi ngapain cah ? Ada yang rusak ? Motor baru kok udah rusak aja” Itu suara Eyang Kakung
berjalan pakai kaki menuju tempat kami kepanikan.
“Ini hlo, Eyang. Nggak mau hidup” Aku jelaskan dengan sangat
jelas ke Eyang Kakung sebab muasabnya. Eyang Kakung mendengarkan penjelasanku
sekalian melihat ke motor.
“Oalah cung, kacung. Ini standart sampingmu dikembaliin dulu ” Kata Eyang Kakung sambil mengejek
kami berdua.
Lalu, Beliau coba starter itu motor punya aku, ternyata hidup. “Nah !! hidup kan jadinya. Aku yang tua begini aja tau kok kalian yang muda malah gaptek”
Aku dan Bagong cuma senyum-senyum bego. Emang bego juga sih.

0 comments:
Post a Comment