, Akhir Oktober 2013
Kuhitung, sudah memasuki bulan ke-3, aku punya motor. Sudah
akrab lah kami berdua, setidaknya sudah tahu kekurangan dan kelebihan
masing-masingnya. Kami juga sudah tahu hobi, makanan kesukaan, tempat kesukaan,
bahkan cewek yang kami sukai. Cocoklah buat partner hidup. Apalagi sehari-hari,
kami selalu bersama. Chemistry-nya sudah terjalin kuat. Tak bisa lagi dipisahkan meski itu Badai Matthew menghantam. Dimana ada Aku, pasti ada juga motorku. Kecuali waktu
mandi, aku mandi sendirian, dikamar mandi nama tempatnya.
Motor pun sudah aku ajak jalan-jalan, kemana aja tempat yang aku suka jalani. Paling jauh kesini, ke
Semarang. Tempat aku masuk kuliah. Masuknya sebentar abis itu keluar. Dari
Karanganyar ke Semarangnya yang bawa Mas Bejo, sepupuku. Dia lebih tua, sangat tua dibandingku. Aku kira seumuran dengan Bapak bedanya anaknya
sudah 3 sedang Bapak hanya punya aku seorang. Itu sudah cukup membuatnya bahagia, katanya ke teman - temannya yang punya sindiran untuk suruh Bapak bikin anak lagi.
Di Semarang, Kota yang sudah aku kotori selama 2 bulan terakhir ini, aku sudah ajak motorku ke Pasar Johar, Tugu
Muda, Simpang Lima, Lawang Sewu sama itu SK. Tanpa ada SIM di dompet, aku berani
saja. Aku tidak takut polisi, Tuhan yang Aku takuti. Oh ya, tahu tidak ? Apa
itu SK ? Ah, tidak perlulah aku tanya. Kamu pasti tak tahu. Aku jelaskan saja
ke kamu, nanti kalau ada waktu aku ajak kamu. Ke SK yang singkatan dari Sunan
Kuning itu. Orang-orang Semarang ataupun orang-orang yang pernah di Semarang
pasti tahu-lah. Kan sudah tersohor seantero Jateng - DIY. Kembarannya Sarkem
Jogja sama RRI Solo.Kalau yang di Padang ada di Taman Melati sama yang di Padang Theater. Masih belum paham juga ? Hmm, baiklah. Tapi sebelumnya
kamu jangan kaget, janganlah kamu bikin kamu punya mulut menganga. Sayang, nanti lalat camping di lambung kamu. Bukan tabu lagi. Itu SK tempat
prostitusi paling besar di Semarang, di Jateng juga. Legal tidaknya, Aku tak begitu paham. Yang jelas, sampai tulisan ini akan diposting belum di gusur pun.
Aku kesana bukan buat nyewa. Positive thingking dikit-lah. Kamu
kan juga tahu Aku tak akan begitu. Kecuali Khilaf. Aku bareng teman-teman.
Ada 6 manusia. Motornya 3. Satu motor ada 2 manusia. Sekedar kasih tahu saja, siapa tahu kamu tidak tahu. Yang duduk didepan mengendarai,
yang dibelakang bonceng. Kami kesana cuma lewat saja. Putar-putar juga sambil
lihat mbak-mbak rok mini duduk diteras. Menarik perhatian pelanggan tujuannya. Tapi
aku tak tertarik tuh apa paha mbak-nya. Aku eertariknya cuma sama kamu. Bukan, bukan paha kamu tapi hati kamu yang bikin aku luluh.
Di Semarang, Aku sudah hampir 7 Minggu. Selama itu pun belum
satupun cewek yang aku bonceng. Kecuali itu, si Ibu, perempuan pertama yangbonceng aku punya motor. Tapi Ibu bukan cewek lagi. Beliau mah sudah Ibu-Ibu,
hehe. Ibu beranak satu dan kayaknya tidak ada niat buat bikin anak lagi bareng Bapak yang sudah tegang. Jabatanku
jadi masih tetap. Sebagai Anak tunggal dikeluarga besar Bapak Purwanto. Anak
yang paling disayangi, dimanja, tapi jadi tanggungjawab utama menghidupi
keluarga nanti. Do’akan berhasil, yaa.
Aku tidak bingung dengan masalah belum satupun cewek yang
aku bonceng. Aku juga tak ada niat mencari cewek untuk diboncengi. Padahal
gampang, cari saja di di dekat Stasiun Poncol kalau tak di Jembatan dekat
Pasar Johar atau kalau pengen jauh, Bandungan juga bisa. Tengah malam tapi. Pasti
ada saja kimcil yang siap bonceng sama aku punya motor. Harus bayar. Syukur aku masih
belum khilaf, jadi tak mau. Masih sadar kalau itu dosa. Masih ingat Tuhan,
Agama, Orangtua, sama Pemerintah.
Pan, ikut makrab kan ? Jani SMS. Buat hape Nokia 5130 Aku punya bergetar.
Ikut. Sudah bayar juga Aku balas selepas Dia SMS tadi.
Ada pembagian kelompok makrab. Buat pensi katanya. Coba cek di fb Itu Balas Kardun.
Disitu, di excel yang sudah Aku unduh, Aku amati satu persatu, dan ketemu juga kelompok tempat namaku terketik, di kelompok 9. Ada Tiwi, Viki, Nengsih, Gita, Ajo, Dito, Surya sama aku pastinya. Disitu juga terketik, kakak pembimbingnya bernama Supri. Dari nama itu, aku kenal Tiwi sama Viki. Lainnya tentu tidak. Tiwi itu teman satu jurusan juga. Viki, kami ditakdirkan sebagai teman sejak awal bertemu ketika daftar ulang.
Oh iya, sampai lupa aku jelaskan. Nanti bingung kalau tidak. Itu tadi, yang kelompok-kelompok itu buat acara di Makrab. Makrabnya IKAMMI (baca: Ikatan keluarga Mahasiswa Minang) Semarang di Bandungan tempatnya. Aku ikut karena Aku bagian dari Minang, terutama Padang. Padang-lah kotanya Aku dilahirkan dan dibesarkan selama 18 tahun. Di makrab itu detail acara Aku tak paham. Bukan panitia, masih Maba, Mahasiswa Baru bukan Mahasiswa Bau. Aku ngikut saja inginnya panitia. Yang aku tahu cuma ada acara pensi dari masing-masing kelompok. Itu pun dari Jani.
“Oke, Uda” Aku duduk sila bukan simpuh. Tidak sopan atuh kalau simpuh. Nanti dikira cewek, jadi suka cowok ke aku. Cantik. Selang berapa lama kumpul juga. Ada Tiwi, Viki, Gita sama Nengsih. Sisanya tak tahu aku. Tewas di medan perang mungkin. Jadi, hanya 5 orang anggota kelompok 9 yang berkumpul di teras rumah kontrakan IKAMMI.
Aku disitu senang. Selain kumpul, juga ada lainnya. Kamu pengen tahu ? beneran ? tidak cemburu kamunya nanti ? baiklah, aku cerita. Aku juga senang ada Nengsih. Sejak kenalan tadi, aku merasa ada beda. aku jatuh hati ke Dia. Bikin hatiku terisi Nengsih. Tidak perlu detail wajahnya dan perawakannya gimana. Yang pasti, Dia itu enak dipandang. Tidak bakal bosan. Kulitnya sawo matang. Tidak kematangan juga tidak belum matang. Intinya Matang. Itu saja. Sama satu lagi, berjilbab. Secepat itukah aku jatuh cinta ? Ah, memang begitulah aku saat itu.
“Boleh” Nengsih terima.
Yes, percobaan pertama berhasil, batinku. Dia pun menduduki motorku. Bonceng aku. Tidak pegang pinggangku, belum sah mungkin. Melajulah Aku, motorku dan Nengsih yang ada dibonceng aku. Menuju kos Nengsih yang ada di Jalan Sumurboto.
“Asal mana ?” Tanya Nengsih membuka percakapan di tengah perjalanan. Dia tanya asal daerahku tinggal.
“Padang tapi Jawa Tulen. Kamu ?” Aku jawab begitu. Selalu begitu setiap orang yang tanya begitu.
“Kok bisa nyasar ? Aku Batusangkar”
“Kami dibuang oleh pemerintah kesana, diselundupkan lewat perahu nelayan” Aku jawab saja ngawur. Aku cerita bisa tak sampai kos nanti. Panjang ceritanya, lebih panjang dari tol Semarang-Bawen.
“Hahaha” Dia ketawa. Sepertinya juga percaya.
“Jurusan apa ?” Aku tanya itu karena aku belum tahu.
“FKM. Kamu ?” Dia Jawab. Jawabannya FKM. Kamu tahu panjangnya FKM ? bukan, bukan yang itu FKM itu panjangnya EFFFFFFKAAAAAAAEMMMMMMM. Hehe, itu becanda. Seriusnya Fakultas Kesehatan Masyarakat.
“Aku Siskom. Bukan Sistem Komunikasi tapi Sistem Komputer” Dengan jelas Aku jelaskan begitu. Takut saja kalau Dia ikut-ikut ngira itu SISKOM singkatan dari Sistem Komunikasi. Soalnya, banyak juga orang yang ngira begitu.
Sampai juga di depan kos Nengsih. Aku tidak turunkan Dia. Dianya yang turun sendiri. Punya kaki buat melakukan itu. Kecuali tidak, sudah aku gendong Dia. Dia turun. Dia bilang terimakasih. Lalu aku pergi meninggalkan Nengsih sendirian yang masih di depan pagar, dan meninggalkan semua cerita kita tadi dari atas motor yang bisa dikenang nanti. Semoga masih ada esok untuk kita ketemu lagi.
Sejak itu, Aku dan Nengsih akrab. Aku SMS, Dia balas. Begitu juga sebaliknya. Sampai bosan. Kayaknya juga tidak bosan. Banyak cerita kami. Sesekali kalau Dia mau, Aku jemput pas Dia pulang kuliah. Setelah itu, Dia juga tidak segan minta jemput kalau pengen. Pernah juga pas pagi-pagi sehabis shubuh, Dia ada acara di Jurusan. Minta aku antar. Aku iyakan karena Aku mau. Kalau saja tidak, sudah aku bawa tidur mata. Begadang semalam baru dapat 1 jam tidurnya.
Aku sudah dekat Nengsih. Dia pun begitu. Banyak waktu kita berdua. Duduk berdua di teras kos Dia, dibonceng Aku tapi tak sampai pegang pinggang, cerita bahasa dan budaya Jawa, dan banyak hal lainnya. Tidak mau aku bikin rinci, nanti kamu cemburu pula.
Entah kenapa, Aku tak sampai pikir kesitu. Pikir pacaran maksudku. Aku nikmati saja semua keadaan itu. Sampai lupa, nyatanya Aku cuma jadi ojekzone. Itu salahku pula, tidak cepat bilang. Padahal Dia mau. Bukan, bukan karena aku begitu percaya dirinya. Aku tahu itu dari temannya satu jurusan, kebenaran juga dia temanku sedari SMA.
"Jek ! Lo sedang deket ya sama Nengsih" Tanya Nur suatu waktu di pinggir jalan ketika kita berjumpa
Eh ? Kok dia tahu ?
"Iya. kenapa ?" Tanyaku balik yang memang sedang penasaran.
"Dia tu sebenernya suka ke elo"
"Iya gitu ?"
"Lo nya sih nggak peka. Makanya dia pilih sama anak sipil. Baru jadian kemarin"
Aku tidak peka gitu ? Atau akunya saja yang lambat bergerak. Maksudnya tak segera mengambil sikap untuk menyatakan perasaan ke Nengsih. Keleletanku itu pun menyebabkan Nengsih tak mau menunggu. Apalagi harus menunggu terlalu lama. Kodratnya kan begitu, perempuan hanya bisa menunggu lelakinya untuk mengungkapkan perasaan sekaligus mungkin mengajak pacaran gitu.
Bodohnya aku disitu. Lambat dalam bergerak untuk meraih hatinya, dan menetap di hatiku untuk mungkin dalam waktu yang lama. Dia pun akhirnya pilih sama yang lain. Aku tidak sesal, sudah biasa. Hati sudah kebal, terbiasa patah. Aku pun cukup mengambil pelajaran dari itu, untuk semoga kedepan lebih sigap bertindak. Ada lagi yan dapat aku kenang dari Nengsih selain itu, ada satu dan baru ingat aku. Nengsih-lah cewek pertama yang aku bonceng.

0 comments:
Post a Comment